Just another free Blogger theme

Minggu, 21 Januari 2024

 

 *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.


Bacaan: Mrk 1:14-20

Galilea I

Pagi-pagi, Simon dan Andreas menebarkan jala. Rupa-rupanya semalam suntuk bukanlah waktu beruntung bagi mereka. Ataukah tangkapan semalam tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga?  Atau mungkin lagi banyak yang membutuhkan ikan? Entahlah, hanya mereka yang tahu jawabannya. Yang pasti tak lazim menangkap ikan di siang bolong. Tetapi hal ini justru dilakukan oleh kedua bersaudara itu.

Tak cuma Simon  dan Andreas, dua bersaudara yang lain Yohanes dan Yakobus juga sedang "asyik-asyiknya bekerja" di tepian Danau Galilea. Rupanya kedua anak Zebedeus lebih beruntung semalam. Pagi ini mereka tak lagi harus melaut. " Mereka hanya sibuk membereskan jala di dalam perahu.

Membereskan jala dan menebarkan jala adalah dua aktivitas kunci dunia "pernelayanan."

Jala selau dibereskan. Agar mendapatkan ikan yang banyak mereka harus memiliki jala yang kuat, kokoh dan layak "melaut". Harus dipastikan bahwa antara tali yang satu dengan yang lain terhubung, terikat,  dan bertaut dengan baik, agar mampu menangkap dan menampung ikan, seberapa pun banyaknya.

Jala, baru dikatakan jala, kalau ia "ditebarkan" di lautan, sungai dan danau. Juga bukan sembarang tebar, mereka, para nelayan, tahu baik kapan turun melaut. Melaut yang tepat adalah malam hari. Itu pun juga mengandaikan kemampuan membaca petunjuk bintang dan bulan.

Dan yang dibutuhkan juga adalah keberanian menaklukkan lautan dan danau, harus berani menuju ke tempat yang lebih dalam, menantang taufan yang tiba-tiba mengamuk, juga binatang air yang mungkin saja siap memangsa.

 

Galilea II

Yohanes sedang mendekam di penjara. Ia ditangkap oleh Herodes Antipas gara-gara mengkritik  "perselingkuhan" antara Herodes dengan Herodian, isteri dari saudaranya,  Filipus.

Waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.

Upaya menghadirkan Kerajaan Allah itu tak pernah berhenti, mati oleh alasan dan situasi apa pun; yang satu ditangkap, yang lain berkarya, yang satu dipenjara, yang lain bergerak; yang satu dibungkam yang lain berbicara. Betapa kerja-kerja kebaikan tak akan pernah kenal "pensiun": gugur satu tumbuh seribu.

Yesus tahu bahwa kerja menghadirkan Kerajaan Allah bukanlah proyek dan ambisi pribadi. Ia membutuhkan "rekan sejawat", teman, sahabat yang adalah para pengikut, sebagaimana Yohanes juga memiliki pengikutnya.

Bukan dari kalangan pandai dan bijak beragama, pemegang teguh Taurat, atau penjaga Bait Allah yang saban hari mempersembahkan kurban di mezbah. Juga bukan "anak kota" di Yerusalem,  atau dari kalangan elite istana.

Di Galilea,  Ia menyusuri tepian danau, kawasan sibuk para nelayan. Siang itu, pasti semuanya sedang istirahat, setelah semalam suntuk mencari ikan. Itu yang ada dalam pikiran Yesus. Karena itu, betapa herannya Yesus, melihat dua orang bersaudara, Petrus dan Anrdreas, masih sibuk menebarkan jala untuk menangkap ikan. Bukankah malam adalah waktu yang benar melaut. Atau semalam suntuk mereka tak berhasil menangkap seekor pun?

Namun kemudian Yesus melihat ada sesuatu dalam diri kedua bersaudara itu:

Pekerja keras, baik siang maupun malam. Karena bukan soal waktu, tetapi soal komitmen,  tanggung-jawab, dan harapan-harapan yang telah digantungkan pada tiang layar perahu ikan mereka.

Mereka sangat mencintai pekerjaan. Sekalipun mungkin gagal semalam, tapi tak lantas berpindah profesi jadi "penjual obat". Mereka setia pada pada pekerjaan yang mungkin membosankan, karena rutinitas yang sama,  terus berulang-ulang; sore melaut, pulang pagi, sore melaut, pulang pagi.

Keduanya adalah pemuda pemberani. Lautan dalam diarungi. Tak gentar menghadapi angin taufan dan badai yang menggelora. Panas terik dan dingin, lapar dan haus, serta ketakutan- ketakutan ditaklukkan.

"Yang jenis begini cocok untuk menjadi rekan kerjaku" guman Yesus di dalam hati.

"Mari Ikutilah Aku. Dan kamu akan kujadikan penjala manusia." Mereka pun meninggalkan jalanya lalu mengikuti Yesus.

Tak jauh dari situ dilihatnya dua orang sedang membereskan jala.

"Ini baru benar.  Siang itu waktu yang tepat membereskan perlengkapan melaut. Bukan seperti teman kalian, Simon dan Andreas," mungkin guman Yesus dalam hati.

Kedua orang itu juga bersaudara. Yohanes dan Yakobus, anak Alfeus. Mereka sedang membereskan jala; memperbaikinya agar kuat kembali, sebelum melaut.

"Mereka dua juga pas" sekali lagi Yesus berguman.

Sebelum dipakai, pastikan kondisi jala itu baik.

Jala adalah untaian tali-temali yang terhubung satu sama lain, yang kemudian membentuk jaring. Tanpa "berjejaring", itu bukanlah jala. Itu hanyalah tumpukan tali. Oleh karena itu, membereskan jala, memperbaikinya secara rutin adalah hal yang penting bagi para nelayan.

Yesus pun memanggil dua bersaudara ini. Bagi Yesus karya keselamatan yang diemban-Nya membutuhkan orang - orang kuat, yang mau selalu memperbaiki diri, dan mampu berjejaring- bekerja sama, dalam karya perutusan.

Yesus berharap agar dengan kerja kolaboratif Simon, Andreas, Yohanes, Yakobus dan para murid lainnya nanti, mereka dapat "menjala" manusia sebaik-baiknya, selayak-layaknya, sebanyak- banyaknya dari semua kalangan; laki- laki dan perempuan, orang kaya, kaum kecil dan terpinggirkan, orang tua, dewasa, dan juga anak-anak, termasuk anak-anak yang menderita, dikucilkan atau dieksploitasi.

 

Galilea III

Seorang anak terpekur di tepian danau. Badan ringkih dengan air mata yang menetes tanpa henti. Matahari menyinari bumi. Namun baginya adalah kegelapan. Tepatnya, kegelapan di bawah matahari.

Ia tak ingin bertemu siapa pun, kecuali menanti ibunya pulang membersihkan sampan tetangga. 

Minggu kemarin, ia pulang pagi dari sekolah, sebelum pelajaran dimulai. Ia tak mampu menahan olokan teman-teman.

 "Anak tanpa ayah".

Hati bagai teriris sembilu. Ingin dirinya menikam wajah ayah dengan pisau. Kepergiannya ke tanah rantau belasan  tahun lalu, meninggalkan luka baginya. Ia menjadi korban olokan sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun, selama-lamanya.

Sayang ayahnya terlalu jauh. Mukanya saja tak ia kenal. Sang ayah pergi ketika ia masih di dalam kandungan ibu.

Tak terhitung pula olokan, caci maki, dan amarah dari orang-orang dekat. Tetangganya selalu mencibir ketika ia mengenakan pakaian baru yang dibeli Ibunya.

Seringkali ia mendapat amarah dan tamparan dari Om-nya. Yang terakhir, lantaran ia tak mau diminta bolos sekolah untuk menjaga ikan-ikan yang sedang dijemur.

Hari ini adalah yang paling kelam. Tetangganya, seorang Kakek tega melakukan hal keji. Lelaki tua,  yang ia telah anggap sebagai keluarga sendiri itu,  melakukan perbuatan yang merusak hidup dan masa depannya. Seluruh badannya terasa sakit. Tetapi hatinya lebih perih. Ia tak berdaya, diam membisu.

Ia masih terpekur di tepian danau. Kali ini air mata membasahi sekujur tubuhnya yang ringkih.

Ia menanti di pinggiran danau, berharap ada perahu lewat, menggapai jala-nya, biar tertangkap bersama ikan-ikan. Mungkin nasibnya sedikit baik.

Semalam hingga pagi, tak ada juga perahu yang lewat dan menebarkan jala. Tetapi Ia terus bertahan dalam keyakinan dan harapan.

Bukankah Gereja adalah Bahtera?*


Selasa, 02 Januari 2024

                 

 *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.

(Lukas 2:22-40)

Natal : Allah yang Berinkarnasi Menjadi Manusia.

Natal adalah peristiwa yang berahmat, menyelamatkan dan menebuskan. Inti dari perayaan natal adalah Allah menjadi manusia, Sabda menjadi Daging, Immanuel, Allah yang tinggal di antara kita,. Allah yang Kudus, yang Ilahi, yang transendens, jauh dan tinggi dalam tahktanya yang mulia, turun dan merendahkan diri-Nya menjadi manusia, masuk dalam kehidupan kita manusia, mengalami suka-duka kehidupan manusia yang penuh suka-duka, hiruk-pikuk dan penderitaan.

Melalui peritiwa Betlehem, Kristus adalah Allah berinkarnasi menjadi manusia. Istilah inkarnasi berasal dari kata Latin “Incarnatio,” yang secara literal berarti masuknya Kristus ke dalam daging manusia. Dan Inkarnasi adalah bentuk pengosongan diri Kristus. Pengosongan diri ini, dalam bahasa Yunani disebut kenosis, yang diambil dari Filipi 2:7, yang berarti mengosongkan. ” Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” ( Bdk Fil 2:7)

Ketika Kristus menjadi manusia, di saat yang sama Dia juga adalah Allah. Dengan demikian, kenosis atau tindakan mengosongkan diri yang dimaksud di dalam Filipi 2:7, merupakan sebuah bentuk keteladanan tentang kerendahan hati yang Kristus berikan. Keteladanan tentang kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Kristus adalah bahwa Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Bapa sebagai sesuatu yang perlu untuk dipertahankan, melainkan Dia mengosongkan diri-Nya. Kristus mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba dan menjadi manusia sehingga dengan jalan tersebut Dia dapat menggantikan kita untuk menjalani penghukuman yang seharusnya kita terima akibat dosa. Kristus melakukan ini semua dengan sebuah tujuan yaitu agar kita dapat diselamatkan.

Keluarga: Tempat pertama kita untuk belajar mengasihi.

Peristiwa Inkarnasi “lahir dari dan karena” kasih Allah yang tak berkesudahan bagi umatNya. Sekalipun Kasih Allah kadang “dikhianati dan terkesan bertepuk sebelah tangan”, sebagaimana terpampang dalam sejarah bangsa Israel,  Allah tetap setia. Karakter Allah yang adalah kasih, tidak sedikitpun “tercoreng”, “tergores” atau “terkikis” oleh sikap dan jawaban manusia atas cintaNya. Allah adalah kasih, dan kasih adalah Allah itu sendiri, sebagaimana ditulis oleh oleh Rasul Yohanes: “Sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1Yohanes 4:7-8). Karena itu, meskipun umat Israel “tegar-tengkuk” di hadapan Allah, Kasih Tuhan “pantang mundur” untuk terus-menerus menghadirkan rahmat penebusan dan keselamatan. Dan Yesus, yang lahir di kandang hina, adalah wujud sempurna kasih itu. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengaruniakan putraNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, akan memperoleh hidup yang kekal:

Keluarga, menurut dokumen Familiaris Consortio adalah adalah komunitas kasih dan persekutuan kehidupan, yang memiliki tugas memupuk, mengungkapkan, dan menyebarkan cinta. Kasih itu diwujudkan kepada diri sendiri dan orang lain, baik kepada keluarga, dan juga kepada masyarakat di sekitarnya (FC17).

Secara khusus, Paus Fransiskus, dalam perayaan Ekaristi pertemuan Keluarga se Dunia ke 10, menyampaikan, keluarga sebagai “the place where we learn to love”: Keluarga adalah tempat pertama kita untuk belajar mencintai,” Mengutip Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Fransiskus mengajak keluarga katolik, tidak menggunakan kemerdekaan sebagai anak Allah menjadi kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan melayani seorang akan yang lain dengan kasih. (Gal 5:13). Dan itu, harus dimulai dari keluarga.

 “Anda menjadi pelayan untuk saling melayani satu sama lain. Tidak ada planet atau satelit yang bergerak masing-masing. Begitu juga keluarga adalah tempat perjumpaan dan berbagi,” pesan Paus.

Keluarga Kudus dan Pengasuhan dengan Cinta.

Keluarga Kudus, dalam Lukas 2:22-40, menunjukkan bagaimana kasih itu dihidupi, bertumbuh dan berbuah dalam keluarga. Kasih yang sejati, yang autentik berakar dalam Allah sendiri. Karena itu, pada hari pentahiran menurut hukum Taurat, Yosef dan Maria membawa kanak-kanak Yesus ke Bait Allah, untuk mempersembahkan Dia kepada Tuhan. Penyerahan sang Anak kepada Tuhan adalah juga simbol pemberian diri keluarga kepada Tuhan, agar mereka disertai, dibimbing dalam mendidik dan memelihara Yesus, sebagai persiapan untuk menjalankan misi PerutusanNya, sekaligus dikuatkan dalam menghadapi peristiwa sulit dalam hidup, seperti pengalaman pedang yang akan menembus jiwa Maria, sebagaimana  yang diramalkan Simeon, yang adalah jalan penderitaan yang akan dialami oleh sang Putra. Sampai di sini, betapa keluarga-keluarga pun diajak untuk menjadikan doa dan kehidupan rohani menjadi fondasi dan penopang utama kehidupannya. Berdoa, agar dimampukan untuk menjalani kehidupan keluarga di tengah pelbagai tantangan, hambatan, tawaran, dan kerumitan-kepelikan dewasa ini. Berdoa, bukan untuk meniadakan semua persoalan-persoalan, tetapi untuk dikuatkan, dan tetap setia sampai akhir. Karena keluarga dipanggil terutama bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.

Mengasuh anak dengan Cinta, bagi Yusuf dan Maria, tidak saja menyentuh aspek rohani-spiritual. Ketika pulang kembali ke Nasareth, kota kediamannya, ke rumahnya, mereka tidak saja mendidik dan mendampingi Yesus kecil untuk menjadi pribadi yang “penuh hikmat” dan “dipenuhi kasih karunia Allah”, tetapi juga mengasuhnya secara fisik, sehingga “ia bertambah besar dan kuat. Hal ini terjadi, tentu karena Maria dan Yosef memberikan “asupan gizi” yang cukup bagi Yesus kecil.

Adakah keluarga-keluarga kita juga memperhatikan ketercukupan gizi bagi anak-anak kita, ataukah banyak anak terabaikan, yang menyebabkan mereka menjadi Stunting?

Keluarga Kudus dan Pemenuhan Hak-Hak Dasar Anak.

Melalui pengasuhan kepada Yesus Kecil, Keluarga Kudus Nazareth memberikan teladan bagi kita berupaya untuk memenuhi Hak-Hak Dasar Anak. Melalui pencatatan jiwa yang diikuti oleh Orang tuanya di Betlehem, pentahiran di Bait Allah sebagaimana ditentukan oleh Hukum Taurat, Yosef dan Maria memenuni “Hak Sipil” dari anaknya. Dengan memberikan “asupan gizi yang cukup, sehingga Yesus kecil “bertambah besar dan kuat”, pasangan muda ini memenuhi “Hak tumbuh-Kembang” anaknya. Mengungsi ke Mesir untuk melindungi Yesus Kecil dari ancaman pembunuhan oleh Herodes adalah pemenuhan Hak atas perlindungan (Bdk Mat 2:13-18). Dan, “Hak Berpartisipasi” Yesus kecil terpenuhi, ketika Ia diajak bersama-sama berziarah ke Yerusalem, berpartisipasi pada perayaan paskah Yahudi, dan di sana ia juga  mendapatkan kesempatan  “bercakap-cakap” dan “berdiskusi” dengan para pemuka Agama di Bait Allah. (Bdk Lukas 2:41-52)

Semoga keluarga kita pun bertumbuh dalam kasih, mengembangkan pola pengasuhan dengan cinta, dengan mengupayakan pemenuhan Hak-Hak Dasar anak-anak kita.*