Just another free Blogger theme

Jumat, 08 Maret 2024

 


Foto :Krifin Hadut
                                                                                          
          
KIPPRA KR_Puspas Keuskupan Ruteng dalam kerjasamanya dengan Wahana Visi Indonesia, pada Rabu-Jumat (24-26/01/2024), menyelenggarakan kegiatan pelatihan fasilitator Citizen Voice and Action (CVA), bagi para utusan dari beberapa desa dalam wilayah paroki dampingan Puspas.

Kegiatan yang dilaksanakan di Biara Susteran Putri Karmel Wae Lengkas itu, menjadi salah satu program tahunan yang digalakan oleh kemiteraan Puspas-WVI, dalam upaya mencipatan desa dan paroki layak anak, dengan cara memengaruhi kebijakan, program dan anggaran pemerintah desa dan paroki agar dapat juga digunakan untuk memenuhi hak-hak anak di wilayah kerja pemerintah desa dan paroki.

Egbert Mbusa, salah satu staff  WVI AP Manggarai, dalam sambutannya mewakili Puspas dan WVI, menegaskan pentingnya memastikan keberlanjutan program pemenuhan hak anak di wilayah kerja desa dan paroki dampingan. 

“ Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan program-program pemenuhan hak anak, di level desa dan paroki, melalui kebijakan, program dan anggaran desa dan paroki. Sebab, suatu saat program dan pelayanan kami akan berakhir, tetapi desa dan paroki tetap eksis, dan dapat diandalkan dalam usaha-usaha tersebut” kata Egbert.

Lebih lanjut, Egbert berharap agar melalui kegiatan ini, masyarakat, pemerintah desa dan paroki semakin menyadari bahwa isu-isu anak menjadi isu yang penting untuk digarap bersama di wilayah desa dan paroki. 

“Kami berharap agar kegiatan ini mampu menyadarkan kita semua, masyarakat, pemerintah desa, dan paroki tentang genting dan pentingnya isu-isu anak untuk diperhatikan dan digarap bersama secara serius,” pungkas pria 36 tahun tersebut.

 Dalam kegiatan yang dihadiri oleh sebanyak 43 peserta dari 7 desa dalam wilayah kerja 11 paroki dampingan Puspas Keuskupan Ruteng itu, peserta secara khusus dilatih untuk mengadvokasi program dan anggaran pemerintah dan paroki terkait tiga isu penting yakni isu sanitasi, jaringan air minum bersih dan layak serta posyandu. Dari ketiga isu ini, peserta diminta memilih salah satu isu paling mendesak sesuai konteks desa untuk menjadi poin implementasi bersama di desa.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari itu, diwarnai oleh diskusi dan pemaparan teori advokasi serta simulasi untuk memastikan peserta benar-benar memahami materi yang diterima. Di samping itu, peserta juga diperkaya oleh pengalaman-pengalaman fasilitator selama menjalankan advokasi di lapangan.

Di penghujung kegiatan, peserta diminta untuk membuat perencanaan implementasi bersama, lalu ditutup dengan makan siang dan foto bersama.|Krifin Hadut.*

Selasa, 27 Februari 2024

 

                                                                        |foto. Leonora

Ruteng, KIPPRA- Senin, 19 Februari 2024, Tim Pastoral Anak KR bersama dengan Kader Posyandu dari Desa Poco Likang melaksanakan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak tahap I bagi Ibu Hamil dan orang tua dari anak-anak yang berusia 0-24 bulan di Desa Poco Likang wilayah Paroki St. Klaus Kuwu. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Pelatihan Konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) yang dilaksanakan pada awal bulan Februari 2024, di Rumah Ret-ret Wae Lengkas.

Dalam kegiatan ini, para kader Posnyandu, yang telah mengikuti pelatihan, mempraktikkan pengetahuan konseling kepada lima orang sasaran, yang terdiri atas 1 (satu) orang ibu hamil dan 4 (empat) orang tua dari anak yang berusia 0-2 tahun. Pada saat kunjungan ini, dua orang kader saling berbagi peran. Satu kader bertugas memberikan konseling dan yang lainnya berperan sebagai pengamat. Ada banyak hal yang dibagikan kader ketika melakukan konseling. Mereka memberikan edukasi terkait pentingnya diberi makanan sehat dan bergizi pada awal kehidupan atau anak dibawah usia 2 tahun yang amat mempengaruh pertumbuhan anak.

Konseling PMBA itu sendiri merupakan salah satu upaya percepatan perbaikan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan untuk mencapai kondisi gizi dan kesehatan yang baik pada ibu, bayi dan anak sejak usia dini. PMB  merekomendasikan beberapa standar pemberian makanan yang baik dan tepat bagi bayi dan anak 0-24 bulan, seperti:

  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah lahir minimal selama 1 jam;
  • Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan;
  • Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sejak usia 6 bulan dan meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih.

Praktik PMBA yakni IMD, ASI dan MPASI bermanfaat untuk tumbuh kembang bayi dalam mencegah stunting. IMD tidak hanya memberi manfaat secara fisiologis tetapi juga psikologis baik untuk ibu maupun sang anak. IMD bisa membantu ibu untuk merangsang keluarnya hormon-oksitosin yang menyebabkan kontraksi rahim sehingga membantu keluarnya plasenta dan menghentikan perdarahan. Sedangkan dengan IMD bayi akan mendapat ketenangan dan kehangatan dari pelukan ibunya, serta mendapat kolostrum untuk antibodi.

Selain itu, pemberian ASI selama 6 bulan secara eksklusif bermanfaat untuk tumbuh kembang dan memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. Sejak usia 6 sampai 24 bulan disarankan untuk memberikan MP-ASI yang tepat sesuai usia, jumlah, frekuensi, tekstur, kebersihan, variasinya dan melanjutkan ASI sampai dua tahun untuk tumbuh kembang optimal. MP-ASI dapat memanfaatkan pangan lokal seperti ubi jalar, singkong, jagung, pisang.

Tidak terbatas pada informasi terkait PMBA, para kader juga menjelaskan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya awal meminimalisir terjadinya berbagai persoalan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan pada anak utamanya stunting dan gizi kurang. 

Penguatan Kapasitas Kader Posyandu merupakan salah satu kegiatan dari program Pemenuhan Gizi yang cukup bagi Anak, sekaligus memenuhi Hak Tumbuh-Kembang Anak. Melalui Program yang dijalankan dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia ini, Komisi Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng berupaya untuk mengembangkan pastoral Anak dan Remaja yang holistik- integral, yang menyentuh aspek spiritual dan juga kesehatan fisik anak.|Leonora*


Sabtu, 24 Februari 2024

                                           Peserta Pertemuan Pleno Paroki Pagal | dok. Riany.

Sabtu, 24 Februari 2024, Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kristus Raja Pagal mengadakan Pertemuan Pleno Pastoral tingkat Paroki. Hadir pada kesempatan ini, Camat Cibal, Babinsa, Pengurus DPP, DKP, Rumpun, Seksi-seksi, Para ketua Stasi, ketua wilayah, ketua KBG, utusan sekolah wilayah Paroki Kristus Raja Pagal, tokoh adat, tokoh masyarakat dan Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng sebagai mitra dalam implementasi Paroki Ramah Anak. Para Biarawan/ti yang berkarya di wilayah paroki Pagal pun turut hadir dalam pertemuan awal tahun pastoral ini.

Kegiatan ini dibuka dengan Ibadat Ekologis, yang dipimpin oleh Pastor Paroki, P. Albertus M.D.W. Lasar OFM. Pater Abbah mengajak semua peserta untuk semakin bertanggungjawab dengan kelestarian alam dan keutuhan ciptaan.

“Kita yang hadir di sini hendaknya menjadi teladan dan juga promotor yang menggerakkan umat, baik pusat paroki maupun Stasi an KBG, untuk terus menjaga dan merawat lingkungan sekitar” tegasnya.

Setelah Ibadat Ekologis, Pastor Paroki Kristus Raja Pagal, yang didampingi Pastor Rekan, P. Yan Kanmese, OFM, membuka pertemuan pleno ini dengan resmi. Pada sesi pertama, DPP Pagal mempresentasikan evaluasi program tahun 2023 yang berfokus pada pastoral Ekonomi berkelanjutan serta Laporan penggunaan keuangan Paroki. Peserta sangat antusias dan apresiatif dengan kegiatan pastoral Paroki sepanjang tahun 2023 yang dihadirkan melalaui tayangan video. 

Selanjutnya, kepada peserta pleno disajikan rancangan program Pastoral Ekologi Integral 2024 yang telah disusun oleh semua Seksi di dalam empat rumpun masing-masing, yakni rumpun Pengudusan, Persekutuan, Pelayanan Sosial dan Pewartaan. Keseluruhan program Paroki memuat pelbagai kegiatan promosi, pemberdayaan, aksi dan gerakan ekologis. Melalui program tersebut, seluruh umat Paroki Pagal, mulai dari Pastor paroki, Pengurus DPP, Seksi-Seksi DPP, pengurus Stasi dan KBG, serta umat diharapkan semakin menghargai, mencintai dan terlibat aktif dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.


Pastoral Ekologis untuk Anak dan Remaja

          Sebagai salah satu Paroki Ramah Anak, Paroki Pagal juga memberikan perhatian khusus terhadap kerasulan Anak dan Remaja. Tim Pastoral Anak merancang beberapa kegiatan, antara lain; penguatan kapasitas Pendamping Anak, baik di Paroki maupun di stasi; ikut-serta dalam jamboree Pendamping Sekami yang diselenggarakan KKI Keuskupan Ruteng, aktivasi kelompok Sekami Remaja (SEKAR); Sosialisasi Pemenuhan HAK dan Perlindungan Anak; Pelatihan Pengasuhan dengan Cinta (PDC) bagi Orang tua, pembentukan Sekolah Ramah Anak, pelatihan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi anak Sekolah Dasar, serta sosialisasi kesehatan Reproduksi dan mental untuk Remaja.

Terkait program pastoral Ekologi Integral 2024, Tim Pastoral Anak akan mengadakan Katekese Ekologis bagi anak-anak, Penanaman pohon, pembersihan sampah di tempat umum, pelatihan daur ulang sampah, serta pengembangan kebun gizi organic bagi anak-anak dan remaja.  


 Launching Website Paroki.

Pertemuan yang berlangsung sehari penuh ini diisi juga dengan launching Website oleh Komsos Paroki Kristus Raja Pagal. Website ini dibuat untuk mempermudah umat Paroki Kristus Raja Pagal mendapatkan informasi tentang pelayanan paroki Kristus Raja Pagal.

“Segala informasi seputaran pelayanan misa baik di pusat paroki maupun di stasi akan ditampilkan didalam website tersebut. Selain itu, bagi umat yg ingin bertanya tentang segala urusan administrasi juga bisa langsung dapat menghubungi nomor kontak yang tertera didalam website tersebut tanpa harus datang ke Paroki.” kata Lucius E. Bardata, Ketua Komsos Paroki Kristus Raja Pagal.| Riany Matur.*

 

 

 

 

 

 

 


Renungan Minggu II Prapaskah | Mrk 9:2-10

RD. Benediktus Gaguk|Ketua Komisi Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng

Perkenalkan. Nama saya Yakobus anak Zebedeus. Orang-orang sekampung memanggil saya Yakobus. Orang Inggris mungkin memanggil saya Jack. Orang Indonesia bisa jadi menyapa saya Yakob. Kalau orang Manggarai pasti memanggil saya dengan sapaan manis, Kobus. Lebih manis lagi, Mbombu.

Saya berasal dari Galilea. Saudaraku bernama Yohanes. Kami berdua adalah anak dari Bapa Zebedeus, seorang Nelayan yang menggantungkan kehidupan pada kemurahan hati danau Galilea. Saya dan Yohanes adalah murid Yesus, Orang Nasaret itu. Perjumpaan pertama dengan pemuda tukang kayu itu terjadi di tepi danau Galilea. Saat itu saya dan Yohanes sedang membantu ayah kami membersihkan jala setelah semalam suntuk ‘turun’ menangkap ikan.

Bagaimana kami kemudian mengikuti Yesus, sebenarnya sederhana saja. Sebelum bertemu dengan kami, Ia memanggil Simon dan Andreas untuk menjadi pengikutNya. Menurut dua bersaudara itu, Yesus menghampiri mereka, lalu mengatakan” Ikutilah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia. Ia kemudian memanggil kami tanpa basa-basi. Dan kami serta- merta meninggalkan Bapa Zebedesu di perahu, bersama orang-orang upahannya. (Mrk 1:14-20).

Setelah tinggal bersama Yesus, berkeliling dari desa dan kota, menyaksikan pelbagai mukjizat yang dilakukanNya, saya akhirnya semakin mengenal dan mencintai pemuda gondrong tersebut. Tidak ada kata-kata yang dapat saya gambarkan tentang siapakah Dia. Demikian pula para murid yang lain. Mulut kami seolah-olah ‘kaku’ dan tidak sanggup untuk menjelaskan pribadi Yesus yang penuh daya ilahi dan penuh kuasa, namun memiliki sikap yang lembut dan rendah hati. Untung salah seorang sahabat kami, Simon, mampu ‘menerjemahkan’ seluruh pengalaman kami semua akan Yesus dengan kata-kata yang bernas dan tepat. “Engkau adalah Mesias, Allah yang hidup”. (Mat 16:13-19)

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman yang paling berkesan selama sekian waktu hidup bersama dengan Yesus. Pengalaman itu terjadi delapan hari setelah pengakuan Petrus tadi tentang “kemesiasan” Yesus. Pada waktu itu Ia mengajak saya, Petrus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung atau bukit selalu menjadi tempat favorite Yesus untuk berjumpa dengan Bapa dalam doa. Hal ini mengingatkan saya akan percakapan antara Musa dan Allah yang terjadi di puncak Gunung Sinai, dan juga seperti ketika Musa memandang negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga. Saya mengenal dengan baik bahwa gunung yang kami daki adalah Gunung Tabor, sehingga genaplah apa yang dikatakan Kitab Suci bahwa “Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu (Mzm. 89:13).

 ***

Ke puncak gunung inilah Yesus membawa kami bertiga. Mengapa hanya kami bertiga? Mungkinkah agar suasana doa lebih khusuk dan tenang, makanya tidak semua murid pergi. Saya sendiri tidak tahu alasan yang pasti. Juga tidak sempat saya tanyakan saat itu kepada Yesus. Saya hanya menduga mungkin Yesus memiliki rencana khusus terhadap kami bertiga. Seperti halnya ada berkat yang diberikan kepada para murid dan bukan kepada dunia, demikian pula ada berkat yang hanya diberikan kepada beberapa murid dan tidak kepada yang lain.

Kami bertiga memiliki pengalaman pribadi masing-masing dengan Yesus. Tentu kalian tahu bagaimana relasi Petrus dengan Yesus. Ia yang berani bersaksi tentang kemesiasan Yesus, membelaNya, meski sempat menyangkal-Nya, namun kembali menunjukkan cintanya yang tulus kepada Yesus. “Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”.

Saya dan Yohanes mengasihi Yesus, meski kadang-kadang terlalu berlebihan. Pernah Yesus ditolak di suatu desa. Seketika itu juga, kami berdia merasa sangat tersinggung. Kami bertanya kepada Yesus apakah perlu menurunkan api dari langit, "seperti yang dilakukan Elia" (Lukas 9:54-56).

Tanpa mengesampingkan para murid yang lain, kami bertiga boleh dikatakan sebagai anggota "lingkaran terdalam" Yesus dan yang paling dekat dengan-Nya. Kapan saja Tuhan tidak ingin sendirian atau tidak ingin berada dalam kumpulan orang banyak, Ia akan mengajak kami bertiga menemani-Nya (Markus 5:37-43; 9:2-13; Matius 26:37-46). 

Saya, adalah yang pertama di antara kedua belas murid yang mati untuk Kristus. Yohanes hidup lebih lama daripada yang lain, untuk menjadi saksi terakhir dari kemuliaan-Nya; Yohanes bersaksi (Yoh. 1:14), "Kami melihat kemuliaan-Nya," begitu juga Petrus (2Ptr. 1:16-18).

***

Sesampainya kami di puncak Gunung, tiba-tiba Yesus berubah rupa. Ia tampak dalam rupa yang berbeda dari rupa biasa-Nya. Perubahan-Nya terjadi secara berangsur-angsur, dalam kemuliaan yang semakin besar. Pakaian-Nya putih berkilat-kilat, sehingga walaupun mungkin tadinya berwarna suram, jika bukan hitam, sekarang tampak jauh melampaui putihnya salju, melebihi apa yang dapat dilakukan ahli pembersih dan pemutih pakaian mana pun. Saya sadar bahwa bahwa penampakan yang mulia ini tiada lain daripada Yesus yang termulia itu sendiri, dan ini bukan khayalan kami. Kelihatannya Yohanes kemudian menunjuk kepada hal ini (1Yoh. 1:1) ketika ia berbicara tentang firman hidup, seperti yang kami lihat dan pandang dengan mata kami sendiri.

Saat itu, tampak pula Musa dan Elia. Mereka tampak berbicara dengan Dia, bukan untuk mengajar-Nya, tetapi untuk memberikan kesaksian kepada-Nya dan diajar oleh-Nya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa orang-orang kudus yang dipermuliakan itu juga saling bercakap-cakap dan bergaul, mereka mempunyai cara tersendiri untuk berbicara satu sama lain, yang tidak bisa kita mengerti. Musa dan Elia hidup dalam kurun waktu yang jauh berbeda, tetapi hal tersebut tidak ada artinya di sorga, di mana yang pertama menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama, yaitu, semuanya satu di dalam Kristus.

Kami turut menyaksikan pemandangan ini dan percakapan mereka dengan sangat gembira, dan Petrus, si pemberani itu tidak segan-segan berkata, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini" . Menariknya, walaupun Yesus sedang berubah rupa dalam kemuliaan dan sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, Ia tetap mengizinkan Petrus untuk berbicara dan bersikap bebas kepada-Nya seperti biasa.  Ini menjadi catatan penting bagi saya:

“Perhatikanlah, Yesus Kristus, walaupun dalam keagungan dan kemuliaan, sama sekali tidak mengurangi kebaikan-Nya yang penuh kerendahan hati itu terhadap umat-Nya. Banyak orang, jika mereka sudah menjadi orang besar, mengharuskan teman-teman mereka menjaga jarak. Berlainan halnya dengan Kristus, yang sekalipun sudah dipermuliakan, masih tetap bisa didekati orang-orang percaya dengan penuh keberanian dan kebebasan untuk berbicara kepada-Nya.”

Bahkan dalam pembicaraan sorgawi ini masih juga ada kesempatan yang diberikan kepada Petrus untuk berkata-kata; dan inilah yang dikatakannya, "Tuhan, betapa bahagianya berada di tempat ini, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah di sini, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.

Pada titik ini saya benar-benar salut dengan Petrus. Perhatikanlah, dia menginginkan persekutuan dengan Kristus, bahwa adalah baik untuk berada dekat dengan Dia, baik untuk berada di gunung bersama Dia, walaupun tempatnya dingin dan terpencil. Adalah baik untuk berada di tempat yang terpisah dari kebisingan dunia ini dan menyendiri dengan Kristus. Jika hanya dengan Kristus yang dipermuliakan di atas sebuah gunung dengan Musa dan Elia saja sudah sedemikian indah, apalagi kalau kita nanti bisa bersama-Nya dipermuliakan di sorga bersama semua orang kudus!

Kekurangan Petrus adalah ia sering ‘terbawa perasaan’ alias Baper. Saking bahagianya situasi puncak Tabor saat itu, ia lupa akan orang banyak yang membutuhkan kehadiran Kristus dan khotbah dari para murid. Pada saat itu, murid-murid yang lain sangat mengharapkan mereka (bdk Mrk 2:14). Nah, inilah yang perlu disadari, jika keadaan kita baik, kita cenderung mengabaikan orang lain, dan jika kita berada dalam sukacita yang penuh, kita cenderung melupakan kebutuhan saudara-saudara kita. Kelemahan Petrus ialah lebih menyukai kebersamaan pribadi bersama Allah daripada menghadapi kebutuhan orang banyak. Ini berbeda kemudian dengan Paulus. Paulus bersedia tinggal di alam daging, daripada berangkat ke gunung kemuliaan (walaupun itu jauh lebih baik), ketika ia melihat jemaat Tuhan sangat memerlukannya (Flp. 1:24-25).

Sementara Petrus berkata untuk membuat kemah bagi Kristus dan "teman-teman-Nya" itu, saya turut melihat bagaimana rencananya itu digantikan. Awan menaungi mereka, menggantikan kemah menjadi tempat untuk berlindung (Yes. 4:5). Sementara dia berbicara mengenai kemahnya, Allah menciptakan kemah-Nya sendiri yang bukan buatan tangan manusia. Kemudian, dari awan itu  terdengar suara yang mengatakan, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Allah mengakui dan menerima Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya, dan Dia siap menerima kita di dalam Yesus; karena itu, kita juga harus mengakui dan menerima Yesus sebagai Penyelamat kita terkasih, dan menyerahkan diri kita untuk diperintah oleh-Nya.

Saat turun gunung, Yesus meminta kami untuk tidak menceritakan kepada seorang pun terkait apa yang telah kami lihat itu, sampai Ia bangkit dari antara orang mati. Setelah kebangkitan-Nya itu, barulah kami, murid-murid diizinkan untuk menyebarkan penglihatan tersebut. Bagi saya, larangan Yesus adalah bentuk pengajaran untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Perintah untuk diam ini berguna, karena hal tersebut bisa mencegah kami untuk tidak membanggakan diri dan dan menjadi sombong dengan peristiwa penyingkapan kemuliaan yang besar itu. Kami harus mematikan diri dari keinginan untuk menceritakan berbagai kemajuan yang dicapai, supaya sikap menyombongkan diri bisa dicegah.

 ***

Oh ya tadi saya hanya memperkenalkan ayah kami bernama Zebedeus. Tahukah kalian semua siapa nama Mama kami? Mama bernama Salome. Tentang hal itu dapat kalian baca dalam Mat 27:56, Mrk 15:40-41, Mrk 16:1.

Mungkin yang paling kalian ingat tentang Mama adalah terkait permintaannya kepada Yesus agar saya dan Yohanes boleh ‘mendapat kursi’  istimewa dalam kerajaan Surga. Mintanya kepada Yesus, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Mat 20;21). Kami berdua memang sedikit malu dan merasa ‘tidak enak’ dengan permintaaan Mama, apalagi hal tersebut menimbulkan perbincangan di anatara para murid.

Namun satu hal yang pasti, Mama tentu ingin anak-anaknya bahagia. Ia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Meskipun salah paham dengan ‘tempat dan konteks’ Mama berjuang agar anak-anaknya mengalami kebahagiaan dan sukacita sebagaimana orang lain. Bahwa sukacita itu tidak saja berhenti pada anak-anak yang mungkin selalu mengalami” situasi gunung tabor” dalam hidup  keluarganya, tetapi oleh semua anak, apa pun kondisi kehidupan keluarganya, termasuk mereka yang paling menderita dan rentan. 

Itulah yang anak-anak rindukan. Sukacita, bukan dukacita, air mata dan senyum lara.

Tentang hal ini saya terhubung dengan peristiwa yang baru saja di wilayah Keuskupan Ruteng, tepatnya di Manggarai Timur. Media memberitakan dengan ‘terus-terang’ bahwa seorang ayah tega ‘meniduri’anak kandungnya selama tiga tahun. Jujur, hati saya teriris membaca peristiwa memilukan itu. Bagaimana mungkin di daerah dengan mayoritas Katolik, pengikut Kristus, yang digelar serani sa’i kontas bokak, seorang ayah tega melakukan hal keji tersebut terhadap buah hatinya. (https://tribratanewsmanggaraitimur.blogspot.com/2024/02/setubuhi-anak-kandungnya-sejak-2021-sat.html?m=1)

Saya tidak ingin berkomentar banyak tentang hal ini. Saya hanya mau bilang kepada kalian semua, pemerintah, gereja, sekolah, para pastor, warga kampung, KBG, kakek-nenek, Om-tanta, dan orang tua, mesti menciptakan lingkungan yang layak dan ramah bagi anak-anak. Lingkungan di mana hak-hak mereka terpenuhi; Hak Hidup, Tumbuh Kembang, Perlindungan dan Partisipasi. Lingkungan di mana mereka merasa dikasihi, dicintai, dan disayangi. Oleh karena itu, ciptakanlah “gunung tabor” di parokimu, dii kampungmu, KBGmu, sekolahmu, rumahmu, agar anak-anak boleh mengatakan: Romo, Pater, Bapa-mama, Kakek, Om sekalianalangkah bahagianya saya berada di tempat ini!*

 


Minggu, 18 Februari 2024

Tim KKI Keuskupan Ruteng (Ando Madias)

Ruteng, KIPPRA– Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Ruteng menggelar Weekend Tim Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Ruteng-Kerasulan Anak dan Remaja. Acara yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu, 17-18 Februari 2024, dilaksanakan di rumah keuskupan Ruteng, Leda. 

Sabtu, 17 Februari 2024

Rm. Benediktus Gaguk, Dirdios KKI Keuskupan Ruteng, membuka kegiatan dengan rekoleksi. Para peserta diajak untuk merenungkan bersama perikop Kitab Suci tentang Yesus yang memberkati anak-anak.(Mrk 10:13-16). Peserta mendapatkan inspirasi dari kata-kata, sikap, dan tindakan tokoh-tokoh yang terdapat dalam kisah tersebut tentang bagaiman bersikap dengan anak-anak. 

"Yesus yang menyapa anak dengan penuh kasih dengan memeluk dan memberkati mereka, kiranya menjadi teladan bagi kami dalam mendampingi anak" ungkap Anjeli dalam sesi syering pendalam sabda. 

Rm Beben Gaguk, pada bagian akhir, mengajak peserta untuk melihat bagaimana perikop Markus tersebut menyajikan pemenuhan Hak-Hak Dasar Anak. Dengan "memeluk dan meletakkan tanganNya" di atas anak-anak, Yesus ingin agar anak-anak "bertumbuh" dan  "berkembang" dalam cinta. Anak-anak dilindungi bahkan Yesus "marah" kepada para murid yang berusaha menghalangi mereka untuk berjumpa denganNya. "Memeluk dan merangkul" juga adalah bentuk "perlindungan" terhadap anak. Anak diberi kesempatan untuk "berpartisipasi" berjumpa degan Yesus. Yesus mau menunjukkan bahwa bukan saja orang dewasa yang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Yesus. 

Selanjutnya, Tim KKI mendesain program pastoral anak dan remaja 2024 berbasiskan isu-isu pendampingan anak di paroki masing-masing. Dari diskusi dan syering peserta, diidentifikasi  beberapa isu penting, seperti kurangnya minat anak laki-laki dalam kegiatan sekami, belum ada pendampingan khusus bagi anak-anak remaja (Sekar), masih banyak umat yang belum memahami sekami sebagai bentuk kerasulan anak dan remaja. Selain itu peserta juga mengharapkan adanya dukungan dari DPP, Kongregasi dan pastor paroki bagi karya kerasulan anak dan remaja.

Berdasarkan isu tersebut maka tim KKI merancang beberapa program strategis 2024. Adapun program tersebtu, antara lain, penyusunan modul sekami bagi remaja, membuat konten animasi dan promosi sekami, pelatihan animator dan animatris, dan membangun jejaring dengan Kementrian Agama di tiga kabupaten Se-Manggarai Raya, guna mengintegrasikan materi pembinaan mingguan sekami dalam pelajaran agama Katolik.

Agar program kerja dapat diimplementasikan dan dikoordinasikan secara efektif, maka anggota tim KKI dibagi dalam beberapa Divisi. Adapun divisi-divisi yang dibentuk, antara lain Liturgi, Kitab Suci, Media dan Publikasi, EcoKids, dan Perlindungan Anak.

Anggota Tim KKI, yang berasal dari beberapa paroki di kota Ruteng, merasakan manfaat dari perjumpaan ini bagi pastoral dan pendampingan anak ke depan.

“Dari kegiatan Weekend kemarin, saya merasa terdorong untuk menjadi pendamping yang lebih baik lagi dengan begitu banyak inovasi-inovasi serta hal-hal baru yang ditemukan“. Ungkap Hildegardis O. Angkut.

Anny, demikian sapaan dari pendamping sekami Paroki St Vitalis Cewonikit ini juga mengharapkan agar program yang dirancang bisa dijalankan sesuai dengan harapan. "Kiranya, Sekami semakin menjadi wadah untuk anak-anak agar bisa berkembang ke arah yang lebih baik. ”

Shela Kongen, pendamping sekami Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong mengharapkan perhatian yang serius dari gereja terhadap pastoral Anak dan Remaja. 

"Jika Sekami sebagai wadah pastoral anak, Gereja dengan segala yang ada di dalamnya, jangan tinggal diam. Gereja harus hadir di tengah anak-anak dengan segala persoalan dan situasi dan semoga KKI bisa menjadi jembatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang telah kami sampaikan, pada intinya untuk kita semua jangan pernah lelah melayani anak-anak" 

Minggu, 18 Februari 2024

Kegiatan hari kedua dibuka dengan perayaan Ekaristi. Perayaan ini dikemas dengan nuansa  ekologis, baik tempat pelaksanaan maupun renungannya, sebagai perwujudan Tahun Ekologi Integral 2024 Keuskupan Ruteng.

Berinspirasikan kisah Yesus yang berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, RD Beben Gaguk, mengajak peserta untuk berani menaklukkan segala tawaran dan godaan kenikmatan yang berpotensi merusak lingkungan hidup. 

"Pola konsumsi pangan dan sayuran sehat, serta membangun habitus hemat energi adalah bentuk pertobatan ekologis. Dan kita pun diajak agar seluruh kegiatan pastoral anak ke depan memperhatikan aspek ekologis, misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, membawa botol minuman sendiri, dan juga mengurangi penggunaaan wadah air minum sekali pakai" pesannya.

Setelah perayaan ekaristi, peserta melakukan aksi penanaman pohon di kebun Keuskupan Leda.

Keseluruhan kegiatan diakhiri dengan Bedah Modul Sekami untuk usia Remaja. Bedah Modul ini bertujuan untuk melatih anggota Tim yang juga adalah pendamping Sekami, untuk mengembangkan Materi Sekami Mingguan secara kreatif dan dapat dipakai untuk semua jenjang usia, baik SD, SMP, maupun SMA. 

Melalui weekend ini, kiranya semangat kebersamaan dan komitmen dalam pelayanan pastoral menjadi menjadi ciri khas dari pembaruan tim KKI Keuskupan Ruteng.

“Harapannya agar tim yang telah terbentuk ini nanti secara rutin bertemu untuk mengeksekusi program yang telah dan akan  dibuat.” Ungkap RD Beben Gaguk selaku Dirdios KKI Keuskupan Ruteng.| Ermy Jihut.*

Rabu, 14 Februari 2024


 

Kamis,15 Februari 2024|Mat6:1-6.16-18.


sumber: sesawi.net


RD. Benediktus Gaguk | Ketua Komisi Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng.

Bukan bajumu yang dikoyakkan. Nanti kamu kedinginan. Kasihan baju harus disobek-sobek. Bukankah itu pemborosan? Harga pakaian sedang mahal-mahalnya. Pakailah uangmu untuk kebutuhan yang lain; membeli sembako, makanan bergizi untuk anak, pake internet yang pas-pas, dan juga berbelarasa dengan sesama. 

Yang perlu kau koyakkan adalah hatimu yang keras dan tegar tengkuk, agar lembut merangkul yang lain, memeluk orang-orang terkasih, dan menjadi sumber segala kebajikan dan kebijakan dalam hidup.

Hati yang terkoyak adalah hati yang rela dibagi-bagi, yang berkurban, yang memberi dan tak harap kembali; hati yang merendah, yang selalu belajar dari setiap kegagalan dan menemukan hal baik dari setiap kejatuhan.

Biarlah hatimu terkoyak, terbuka, agar ada ruang bagi anak-anak berdiam dan tinggal di sana; merasakan kehangatan cintamu, merayakan kasih dan perhatian, dan mengalami perlindungan di saat ia merasa terancam.

Biarlah hatimu menjadi tempat yang baik untuk memulai pembaharuan hidup di masa penuh rahmat ini.  Hati yang mengerakkan mulutmu untuk mengucapkan pujian dan terimkasih kepada anak-anak, bukan caci-maki, kutukan yang melukai pribaadi dan batin mereka; hati yang menggerakkan kaki dan tangan untuk merangkul dan melindungii anak, bukan memukul dan menyiksa hingga terluka; hati yang "menggedor dompetmu" untuk membeli apa yang baik bagi ketercukupan gizi dan masa depan mereka.


***

Berpuasa itu bukan bermuram diri,

dengan wajah tak berseri-seri.

Berpuasa adalah menahan diri,  

agar kau bebas dari dengki dan iri hati.


Berpuasa bukanlah ajang pamer diri, 

yang kau tunjukkan di sana-sini.

Berpuasa adalah  doa dari tempat tersembunyi, 

karena Tuhan mendengarmu dalam sunyi.


Berpuasa bukan sebatas menjadi pribadi yang suci.

Kau beribadah untuk tiket surgamu nanti.

Berpuasa adalah berderma dan berbagi,

melatih kau agar jangan ingat diri.


Berpuasa itu adalah pertobatan ekologi,

mengolah alam bukan demi nafsu terpenuhi

bukan menumpukkan kekayaan materi

tetapi demi kehidupan antargenerasi.

***

Ada abu di dahi

Ada tinta di jari

Ada cinta di hati

Ada kasih dibagi


Pesta demokrasi telah usai,

Hasilnya tinggal menanti.


Paslonmu mungkin belum rejeki,

Tetapi kau jangan patah hati,

Calonmu mungkin meraih suara tertinggi,

Janganlah kau tinggi hati.


Ke Tebing Tinggi membeli peniti.

Singgah di kampung Larantuka, 

mengambil jagung titi.

Kita berdoa untuk negeri ini,

Agar selalu baik sampai nanti


Selamat menjalankan masa puasa sebagai warna negara yang demokratis!

Sabtu, 03 Februari 2024


  *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.


Sumber Gambar : Pinterest


Bacaan: Mrk 1:29-39

Mama itu adalah pemain sandiwara terbaik seluruh dunia, karena Ia pandai dan paling pintar berpura-pura.

Anak-anak, orang-orang muda, bapa-bapa dan yang teristimewa mama-mama yang terkasih di dalam Kristus. 

Yesus kembali berada di Kapernaum, sebuah kota yang terletak di tepian danau Galilea. Seperti biasa pada hari Sabat, Yesus memberikan pengajaran di rumah ibadah, di hadapan warga sekota yang berbondong-bondong hingga berdesakan mengikuti Dia. Orang-orang selalu takjub dan terpesona dengan Yesus, karena Ia mengajar dengan penuh kuasa.

Yesus bukan saja pewarta Sabda, tetapi juga pelaku Sabda. Tak hanya berhenti di kata-kata dan di pengajaran, tidak hanya 'menetap' di mimbar sabda, 

Yesus selalu turun menjumpai manusia, menyapa setiap pribadi, merangkul yang letih lesu dan berbeban berat dengan kasih yang tulus.

Ia membawa mimbar sabda ke bukit-bukit, ke tepian danau, ke ladang menabur benih, ke kota, ke pelosok-pelosok desa, ke pasar, hingga menembus masuk ke dapur mertua Simon Petrus.

Dan injil hari berbicara tentang pelayanan Diakonia Yesus pasca pengajaran-Nya di rumah ibadat.

Dikisahkan, menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan. Orang-orang pun mencarinya hingga subuh. Kata murid-muridNya: "Semua orang mencari Engkau."

***

Baru saja keluar dari rumah Ibadat, Yakobus dan Yohanes memberi kabar kepada Yesus bahwa Mertua Simon Petrus sedang terbaring karena sakit demam.

Tentu bukan demam biasa. Pasti ada sesuatu yang serius dengan kesehatan Ibu mertuanya, sehingga Simon harus stand by di rumah. Dia tidak bisa ikut bersama Yakobus dan Yohanes menemani Yesus ke rumah ibadat. Padahal, kita tahu, ketiga murid tersebut tak bisa dilepas-pisahkan satu sama lain. Ketiganya selalu bersama-sama, seperti misalnya, menyaksikan dan mengalami peristiwa Transfigurasi di puncak Tabor, dan juga saat menemani Yesus menjalani situasi sulit di taman Getzemani.

Simon Petrus menunggu di rumah. Ia menanti dengan situasi harap-harap cemas. Kehadiran seorang ibu amat berpengaruh bagi seluruh anggota keluarga dan seisi rumah. Oleh karena itu ia berharap agar Ibu harus segera sehat, kembali mengurus rumah-tangga, melayani seisi rumah sebaik-sebaiknya, setulus-tulusnya, secinta-cintanya.

Maka Yesus segera bergegas ke rumah Simon. Ia memegang tangan mertua Petrus dengan tanganNya. Hal yang sama dia lakukan kepada orang-orang sakit. Ia menyembuhkan mereka dengan meletakkan tangan di atas kepalanya (Mrk 6:5). Sebagaimana juga yang direfleksikan oleh Ayub tentang penderitaan yang dialami. Di tengah luka derita yang ia alami, tangan Tuhan menyentuh dan menyembuhkan dia. (Ayub 5:18)

Yang dipegang bukan kepala, kaki, telinga, hidung atau tenggorokan. Yesus memegang 'tangannya'; tangan seorang ibu yang memeluk anaknya, merawat suaminya, tangan yang mengurus rumah tangga, tangan yang bekerja melayani keluarganya. Tangannya yang 'menerjemahkan dengan sempurna' semua teori dan definisi tentang 'apa itu cinta', 'apa arti dari sebuah kasih'.

Dan persis setelah sembuh, Ibu mertua Petrus langsung melayani mereka, tamu dan anggota keluarganya.

Dari tangan yang sakit, tangan yang disembuhkan, sekarang menjadi tangan yang melayani.

*** 

Mertua Simon mengalami kesembuhan karena Yesus mengunjungi rumahnya. Yesus pergi ke rumah Simon karena diberitahu oleh Yohanes dan Yakobus. Yakobus dan Yohanes tahu, tentu karena mendapat kabar dari Simon Petrus.

Artinya, seorang Mama, seorang Ibu membutuhkan support system, 'orang-orang rumah' yang mengasihi, mendukung, dan memberikan perhatian kepadanya.

Ia membutuhkan suami yang memahami, menghargai, dan mencintai dia tulus dan apa adanya; bukan suami yang cuek dan masa bodoh. Ia mungkin tidak butuh suami yang romantis, tetapi yang roman mukanya cerah, optimis, menyembuhkan, dan bukan roman muka yang kasar, pemarah, dan sangar. Ia membutuhkan lelaki dengan 'figur Yesus' yang menyembuhkan, bukan menyakitkan; merawat, bukan melukai.

Seorang ibu juga membutuhkan anak-anak yang tulus mencintainya, membantu pekerjaan-pekerjaan, yang memahami perasaan, sakit dan persoalan-persoalannya. Anak-anak yang mendengarkan nasihat-nasihat baiknya, yang menghormati dan tahu bertermakasih setiap waktu, dan bukan tunggu 'teing tinu'. 

Seorang anak yang tak hanya menuntut pemenuhan Hak-Hak Dasarnya, tetapi juga yang tahu apa yang mesti dia perbuat sebagai anak-anak, baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.

Ibu memang sering dianggap superhero. Manusia serba biasa di semua lini dan di sepanjang waktu. Itu  mungkin terlalu berlebihan. Sebab sekalipun ia dianggap manusia kuat , ia tetap manusia biasa, yang butuh dukungan, cinta, dan perhatian.

***

Ketika ayah tak enak badan, ada ibu yang menjaga. Ketika anak-anak sakit, ada ibu yang merawat. Ketika mama sakit, seisi rumah menjadi sakit.

Mama itu adalah pemain sandiwara terbaik seluruh dunia, karena Ia pandai dan paling pintar berpura-pura. Ia berpura-pura sehat dan baik-baik saja, meski sakit, karena cintanya pada keluarga.*


Minggu, 21 Januari 2024

 

 *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.


Bacaan: Mrk 1:14-20

Galilea I

Pagi-pagi, Simon dan Andreas menebarkan jala. Rupa-rupanya semalam suntuk bukanlah waktu beruntung bagi mereka. Ataukah tangkapan semalam tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga?  Atau mungkin lagi banyak yang membutuhkan ikan? Entahlah, hanya mereka yang tahu jawabannya. Yang pasti tak lazim menangkap ikan di siang bolong. Tetapi hal ini justru dilakukan oleh kedua bersaudara itu.

Tak cuma Simon  dan Andreas, dua bersaudara yang lain Yohanes dan Yakobus juga sedang "asyik-asyiknya bekerja" di tepian Danau Galilea. Rupanya kedua anak Zebedeus lebih beruntung semalam. Pagi ini mereka tak lagi harus melaut. " Mereka hanya sibuk membereskan jala di dalam perahu.

Membereskan jala dan menebarkan jala adalah dua aktivitas kunci dunia "pernelayanan."

Jala selau dibereskan. Agar mendapatkan ikan yang banyak mereka harus memiliki jala yang kuat, kokoh dan layak "melaut". Harus dipastikan bahwa antara tali yang satu dengan yang lain terhubung, terikat,  dan bertaut dengan baik, agar mampu menangkap dan menampung ikan, seberapa pun banyaknya.

Jala, baru dikatakan jala, kalau ia "ditebarkan" di lautan, sungai dan danau. Juga bukan sembarang tebar, mereka, para nelayan, tahu baik kapan turun melaut. Melaut yang tepat adalah malam hari. Itu pun juga mengandaikan kemampuan membaca petunjuk bintang dan bulan.

Dan yang dibutuhkan juga adalah keberanian menaklukkan lautan dan danau, harus berani menuju ke tempat yang lebih dalam, menantang taufan yang tiba-tiba mengamuk, juga binatang air yang mungkin saja siap memangsa.

 

Galilea II

Yohanes sedang mendekam di penjara. Ia ditangkap oleh Herodes Antipas gara-gara mengkritik  "perselingkuhan" antara Herodes dengan Herodian, isteri dari saudaranya,  Filipus.

Waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.

Upaya menghadirkan Kerajaan Allah itu tak pernah berhenti, mati oleh alasan dan situasi apa pun; yang satu ditangkap, yang lain berkarya, yang satu dipenjara, yang lain bergerak; yang satu dibungkam yang lain berbicara. Betapa kerja-kerja kebaikan tak akan pernah kenal "pensiun": gugur satu tumbuh seribu.

Yesus tahu bahwa kerja menghadirkan Kerajaan Allah bukanlah proyek dan ambisi pribadi. Ia membutuhkan "rekan sejawat", teman, sahabat yang adalah para pengikut, sebagaimana Yohanes juga memiliki pengikutnya.

Bukan dari kalangan pandai dan bijak beragama, pemegang teguh Taurat, atau penjaga Bait Allah yang saban hari mempersembahkan kurban di mezbah. Juga bukan "anak kota" di Yerusalem,  atau dari kalangan elite istana.

Di Galilea,  Ia menyusuri tepian danau, kawasan sibuk para nelayan. Siang itu, pasti semuanya sedang istirahat, setelah semalam suntuk mencari ikan. Itu yang ada dalam pikiran Yesus. Karena itu, betapa herannya Yesus, melihat dua orang bersaudara, Petrus dan Anrdreas, masih sibuk menebarkan jala untuk menangkap ikan. Bukankah malam adalah waktu yang benar melaut. Atau semalam suntuk mereka tak berhasil menangkap seekor pun?

Namun kemudian Yesus melihat ada sesuatu dalam diri kedua bersaudara itu:

Pekerja keras, baik siang maupun malam. Karena bukan soal waktu, tetapi soal komitmen,  tanggung-jawab, dan harapan-harapan yang telah digantungkan pada tiang layar perahu ikan mereka.

Mereka sangat mencintai pekerjaan. Sekalipun mungkin gagal semalam, tapi tak lantas berpindah profesi jadi "penjual obat". Mereka setia pada pada pekerjaan yang mungkin membosankan, karena rutinitas yang sama,  terus berulang-ulang; sore melaut, pulang pagi, sore melaut, pulang pagi.

Keduanya adalah pemuda pemberani. Lautan dalam diarungi. Tak gentar menghadapi angin taufan dan badai yang menggelora. Panas terik dan dingin, lapar dan haus, serta ketakutan- ketakutan ditaklukkan.

"Yang jenis begini cocok untuk menjadi rekan kerjaku" guman Yesus di dalam hati.

"Mari Ikutilah Aku. Dan kamu akan kujadikan penjala manusia." Mereka pun meninggalkan jalanya lalu mengikuti Yesus.

Tak jauh dari situ dilihatnya dua orang sedang membereskan jala.

"Ini baru benar.  Siang itu waktu yang tepat membereskan perlengkapan melaut. Bukan seperti teman kalian, Simon dan Andreas," mungkin guman Yesus dalam hati.

Kedua orang itu juga bersaudara. Yohanes dan Yakobus, anak Alfeus. Mereka sedang membereskan jala; memperbaikinya agar kuat kembali, sebelum melaut.

"Mereka dua juga pas" sekali lagi Yesus berguman.

Sebelum dipakai, pastikan kondisi jala itu baik.

Jala adalah untaian tali-temali yang terhubung satu sama lain, yang kemudian membentuk jaring. Tanpa "berjejaring", itu bukanlah jala. Itu hanyalah tumpukan tali. Oleh karena itu, membereskan jala, memperbaikinya secara rutin adalah hal yang penting bagi para nelayan.

Yesus pun memanggil dua bersaudara ini. Bagi Yesus karya keselamatan yang diemban-Nya membutuhkan orang - orang kuat, yang mau selalu memperbaiki diri, dan mampu berjejaring- bekerja sama, dalam karya perutusan.

Yesus berharap agar dengan kerja kolaboratif Simon, Andreas, Yohanes, Yakobus dan para murid lainnya nanti, mereka dapat "menjala" manusia sebaik-baiknya, selayak-layaknya, sebanyak- banyaknya dari semua kalangan; laki- laki dan perempuan, orang kaya, kaum kecil dan terpinggirkan, orang tua, dewasa, dan juga anak-anak, termasuk anak-anak yang menderita, dikucilkan atau dieksploitasi.

 

Galilea III

Seorang anak terpekur di tepian danau. Badan ringkih dengan air mata yang menetes tanpa henti. Matahari menyinari bumi. Namun baginya adalah kegelapan. Tepatnya, kegelapan di bawah matahari.

Ia tak ingin bertemu siapa pun, kecuali menanti ibunya pulang membersihkan sampan tetangga. 

Minggu kemarin, ia pulang pagi dari sekolah, sebelum pelajaran dimulai. Ia tak mampu menahan olokan teman-teman.

 "Anak tanpa ayah".

Hati bagai teriris sembilu. Ingin dirinya menikam wajah ayah dengan pisau. Kepergiannya ke tanah rantau belasan  tahun lalu, meninggalkan luka baginya. Ia menjadi korban olokan sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun, selama-lamanya.

Sayang ayahnya terlalu jauh. Mukanya saja tak ia kenal. Sang ayah pergi ketika ia masih di dalam kandungan ibu.

Tak terhitung pula olokan, caci maki, dan amarah dari orang-orang dekat. Tetangganya selalu mencibir ketika ia mengenakan pakaian baru yang dibeli Ibunya.

Seringkali ia mendapat amarah dan tamparan dari Om-nya. Yang terakhir, lantaran ia tak mau diminta bolos sekolah untuk menjaga ikan-ikan yang sedang dijemur.

Hari ini adalah yang paling kelam. Tetangganya, seorang Kakek tega melakukan hal keji. Lelaki tua,  yang ia telah anggap sebagai keluarga sendiri itu,  melakukan perbuatan yang merusak hidup dan masa depannya. Seluruh badannya terasa sakit. Tetapi hatinya lebih perih. Ia tak berdaya, diam membisu.

Ia masih terpekur di tepian danau. Kali ini air mata membasahi sekujur tubuhnya yang ringkih.

Ia menanti di pinggiran danau, berharap ada perahu lewat, menggapai jala-nya, biar tertangkap bersama ikan-ikan. Mungkin nasibnya sedikit baik.

Semalam hingga pagi, tak ada juga perahu yang lewat dan menebarkan jala. Tetapi Ia terus bertahan dalam keyakinan dan harapan.

Bukankah Gereja adalah Bahtera?*


Selasa, 02 Januari 2024

                 

 *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.

(Lukas 2:22-40)

Natal : Allah yang Berinkarnasi Menjadi Manusia.

Natal adalah peristiwa yang berahmat, menyelamatkan dan menebuskan. Inti dari perayaan natal adalah Allah menjadi manusia, Sabda menjadi Daging, Immanuel, Allah yang tinggal di antara kita,. Allah yang Kudus, yang Ilahi, yang transendens, jauh dan tinggi dalam tahktanya yang mulia, turun dan merendahkan diri-Nya menjadi manusia, masuk dalam kehidupan kita manusia, mengalami suka-duka kehidupan manusia yang penuh suka-duka, hiruk-pikuk dan penderitaan.

Melalui peritiwa Betlehem, Kristus adalah Allah berinkarnasi menjadi manusia. Istilah inkarnasi berasal dari kata Latin “Incarnatio,” yang secara literal berarti masuknya Kristus ke dalam daging manusia. Dan Inkarnasi adalah bentuk pengosongan diri Kristus. Pengosongan diri ini, dalam bahasa Yunani disebut kenosis, yang diambil dari Filipi 2:7, yang berarti mengosongkan. ” Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” ( Bdk Fil 2:7)

Ketika Kristus menjadi manusia, di saat yang sama Dia juga adalah Allah. Dengan demikian, kenosis atau tindakan mengosongkan diri yang dimaksud di dalam Filipi 2:7, merupakan sebuah bentuk keteladanan tentang kerendahan hati yang Kristus berikan. Keteladanan tentang kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Kristus adalah bahwa Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Bapa sebagai sesuatu yang perlu untuk dipertahankan, melainkan Dia mengosongkan diri-Nya. Kristus mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba dan menjadi manusia sehingga dengan jalan tersebut Dia dapat menggantikan kita untuk menjalani penghukuman yang seharusnya kita terima akibat dosa. Kristus melakukan ini semua dengan sebuah tujuan yaitu agar kita dapat diselamatkan.

Keluarga: Tempat pertama kita untuk belajar mengasihi.

Peristiwa Inkarnasi “lahir dari dan karena” kasih Allah yang tak berkesudahan bagi umatNya. Sekalipun Kasih Allah kadang “dikhianati dan terkesan bertepuk sebelah tangan”, sebagaimana terpampang dalam sejarah bangsa Israel,  Allah tetap setia. Karakter Allah yang adalah kasih, tidak sedikitpun “tercoreng”, “tergores” atau “terkikis” oleh sikap dan jawaban manusia atas cintaNya. Allah adalah kasih, dan kasih adalah Allah itu sendiri, sebagaimana ditulis oleh oleh Rasul Yohanes: “Sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1Yohanes 4:7-8). Karena itu, meskipun umat Israel “tegar-tengkuk” di hadapan Allah, Kasih Tuhan “pantang mundur” untuk terus-menerus menghadirkan rahmat penebusan dan keselamatan. Dan Yesus, yang lahir di kandang hina, adalah wujud sempurna kasih itu. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengaruniakan putraNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, akan memperoleh hidup yang kekal:

Keluarga, menurut dokumen Familiaris Consortio adalah adalah komunitas kasih dan persekutuan kehidupan, yang memiliki tugas memupuk, mengungkapkan, dan menyebarkan cinta. Kasih itu diwujudkan kepada diri sendiri dan orang lain, baik kepada keluarga, dan juga kepada masyarakat di sekitarnya (FC17).

Secara khusus, Paus Fransiskus, dalam perayaan Ekaristi pertemuan Keluarga se Dunia ke 10, menyampaikan, keluarga sebagai “the place where we learn to love”: Keluarga adalah tempat pertama kita untuk belajar mencintai,” Mengutip Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Fransiskus mengajak keluarga katolik, tidak menggunakan kemerdekaan sebagai anak Allah menjadi kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan melayani seorang akan yang lain dengan kasih. (Gal 5:13). Dan itu, harus dimulai dari keluarga.

 “Anda menjadi pelayan untuk saling melayani satu sama lain. Tidak ada planet atau satelit yang bergerak masing-masing. Begitu juga keluarga adalah tempat perjumpaan dan berbagi,” pesan Paus.

Keluarga Kudus dan Pengasuhan dengan Cinta.

Keluarga Kudus, dalam Lukas 2:22-40, menunjukkan bagaimana kasih itu dihidupi, bertumbuh dan berbuah dalam keluarga. Kasih yang sejati, yang autentik berakar dalam Allah sendiri. Karena itu, pada hari pentahiran menurut hukum Taurat, Yosef dan Maria membawa kanak-kanak Yesus ke Bait Allah, untuk mempersembahkan Dia kepada Tuhan. Penyerahan sang Anak kepada Tuhan adalah juga simbol pemberian diri keluarga kepada Tuhan, agar mereka disertai, dibimbing dalam mendidik dan memelihara Yesus, sebagai persiapan untuk menjalankan misi PerutusanNya, sekaligus dikuatkan dalam menghadapi peristiwa sulit dalam hidup, seperti pengalaman pedang yang akan menembus jiwa Maria, sebagaimana  yang diramalkan Simeon, yang adalah jalan penderitaan yang akan dialami oleh sang Putra. Sampai di sini, betapa keluarga-keluarga pun diajak untuk menjadikan doa dan kehidupan rohani menjadi fondasi dan penopang utama kehidupannya. Berdoa, agar dimampukan untuk menjalani kehidupan keluarga di tengah pelbagai tantangan, hambatan, tawaran, dan kerumitan-kepelikan dewasa ini. Berdoa, bukan untuk meniadakan semua persoalan-persoalan, tetapi untuk dikuatkan, dan tetap setia sampai akhir. Karena keluarga dipanggil terutama bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.

Mengasuh anak dengan Cinta, bagi Yusuf dan Maria, tidak saja menyentuh aspek rohani-spiritual. Ketika pulang kembali ke Nasareth, kota kediamannya, ke rumahnya, mereka tidak saja mendidik dan mendampingi Yesus kecil untuk menjadi pribadi yang “penuh hikmat” dan “dipenuhi kasih karunia Allah”, tetapi juga mengasuhnya secara fisik, sehingga “ia bertambah besar dan kuat. Hal ini terjadi, tentu karena Maria dan Yosef memberikan “asupan gizi” yang cukup bagi Yesus kecil.

Adakah keluarga-keluarga kita juga memperhatikan ketercukupan gizi bagi anak-anak kita, ataukah banyak anak terabaikan, yang menyebabkan mereka menjadi Stunting?

Keluarga Kudus dan Pemenuhan Hak-Hak Dasar Anak.

Melalui pengasuhan kepada Yesus Kecil, Keluarga Kudus Nazareth memberikan teladan bagi kita berupaya untuk memenuhi Hak-Hak Dasar Anak. Melalui pencatatan jiwa yang diikuti oleh Orang tuanya di Betlehem, pentahiran di Bait Allah sebagaimana ditentukan oleh Hukum Taurat, Yosef dan Maria memenuni “Hak Sipil” dari anaknya. Dengan memberikan “asupan gizi yang cukup, sehingga Yesus kecil “bertambah besar dan kuat”, pasangan muda ini memenuhi “Hak tumbuh-Kembang” anaknya. Mengungsi ke Mesir untuk melindungi Yesus Kecil dari ancaman pembunuhan oleh Herodes adalah pemenuhan Hak atas perlindungan (Bdk Mat 2:13-18). Dan, “Hak Berpartisipasi” Yesus kecil terpenuhi, ketika Ia diajak bersama-sama berziarah ke Yerusalem, berpartisipasi pada perayaan paskah Yahudi, dan di sana ia juga  mendapatkan kesempatan  “bercakap-cakap” dan “berdiskusi” dengan para pemuka Agama di Bait Allah. (Bdk Lukas 2:41-52)

Semoga keluarga kita pun bertumbuh dalam kasih, mengembangkan pola pengasuhan dengan cinta, dengan mengupayakan pemenuhan Hak-Hak Dasar anak-anak kita.*