Kamis,15 Februari 2024|Mat6:1-6.16-18.
![]() |
| sumber: sesawi.net |
RD. Benediktus Gaguk | Ketua Komisi Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng.
Bukan bajumu yang dikoyakkan. Nanti kamu kedinginan. Kasihan baju harus disobek-sobek. Bukankah itu pemborosan? Harga pakaian sedang mahal-mahalnya. Pakailah uangmu untuk kebutuhan yang lain; membeli sembako, makanan bergizi untuk anak, pake internet yang pas-pas, dan juga berbelarasa dengan sesama.
Yang perlu kau koyakkan adalah hatimu yang keras dan tegar tengkuk, agar lembut merangkul yang lain, memeluk orang-orang terkasih, dan menjadi sumber segala kebajikan dan kebijakan dalam hidup.
Hati yang terkoyak adalah hati yang rela dibagi-bagi, yang berkurban, yang memberi dan tak harap kembali; hati yang merendah, yang selalu belajar dari setiap kegagalan dan menemukan hal baik dari setiap kejatuhan.
Biarlah hatimu terkoyak, terbuka, agar ada ruang bagi anak-anak berdiam dan tinggal di sana; merasakan kehangatan cintamu, merayakan kasih dan perhatian, dan mengalami perlindungan di saat ia merasa terancam.
Biarlah hatimu menjadi tempat yang baik untuk memulai pembaharuan hidup di masa penuh rahmat ini. Hati yang mengerakkan mulutmu untuk mengucapkan pujian dan terimkasih kepada anak-anak, bukan caci-maki, kutukan yang melukai pribaadi dan batin mereka; hati yang menggerakkan kaki dan tangan untuk merangkul dan melindungii anak, bukan memukul dan menyiksa hingga terluka; hati yang "menggedor dompetmu" untuk membeli apa yang baik bagi ketercukupan gizi dan masa depan mereka.
***
Berpuasa itu bukan bermuram diri,
dengan wajah tak berseri-seri.
Berpuasa adalah menahan diri,
agar kau bebas dari dengki dan iri hati.
Berpuasa bukanlah ajang pamer diri,
yang kau tunjukkan di sana-sini.
Berpuasa adalah doa dari tempat tersembunyi,
karena Tuhan mendengarmu dalam sunyi.
Berpuasa bukan sebatas menjadi pribadi yang suci.
Kau beribadah untuk tiket surgamu nanti.
Berpuasa adalah berderma dan berbagi,
melatih kau agar jangan ingat diri.
Berpuasa itu adalah pertobatan ekologi,
mengolah alam bukan demi nafsu terpenuhi
bukan menumpukkan kekayaan materi
tetapi demi kehidupan antargenerasi.
***
Ada abu di dahi
Ada tinta di jari
Ada cinta di hati
Ada kasih dibagi
Pesta demokrasi telah usai,
Hasilnya tinggal menanti.
Paslonmu mungkin belum rejeki,
Tetapi kau jangan patah hati,
Calonmu mungkin meraih suara tertinggi,
Janganlah kau tinggi hati.
Ke Tebing Tinggi membeli peniti.
Singgah di kampung Larantuka,
mengambil jagung titi.
Kita berdoa untuk negeri ini,
Agar selalu baik sampai nanti
Selamat menjalankan masa puasa sebagai warna negara yang demokratis!

0 komentar:
Posting Komentar