Just another free Blogger theme

Sabtu, 24 Februari 2024

 


Renungan Minggu II Prapaskah | Mrk 9:2-10

RD. Benediktus Gaguk|Ketua Komisi Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng

Perkenalkan. Nama saya Yakobus anak Zebedeus. Orang-orang sekampung memanggil saya Yakobus. Orang Inggris mungkin memanggil saya Jack. Orang Indonesia bisa jadi menyapa saya Yakob. Kalau orang Manggarai pasti memanggil saya dengan sapaan manis, Kobus. Lebih manis lagi, Mbombu.

Saya berasal dari Galilea. Saudaraku bernama Yohanes. Kami berdua adalah anak dari Bapa Zebedeus, seorang Nelayan yang menggantungkan kehidupan pada kemurahan hati danau Galilea. Saya dan Yohanes adalah murid Yesus, Orang Nasaret itu. Perjumpaan pertama dengan pemuda tukang kayu itu terjadi di tepi danau Galilea. Saat itu saya dan Yohanes sedang membantu ayah kami membersihkan jala setelah semalam suntuk ‘turun’ menangkap ikan.

Bagaimana kami kemudian mengikuti Yesus, sebenarnya sederhana saja. Sebelum bertemu dengan kami, Ia memanggil Simon dan Andreas untuk menjadi pengikutNya. Menurut dua bersaudara itu, Yesus menghampiri mereka, lalu mengatakan” Ikutilah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia. Ia kemudian memanggil kami tanpa basa-basi. Dan kami serta- merta meninggalkan Bapa Zebedesu di perahu, bersama orang-orang upahannya. (Mrk 1:14-20).

Setelah tinggal bersama Yesus, berkeliling dari desa dan kota, menyaksikan pelbagai mukjizat yang dilakukanNya, saya akhirnya semakin mengenal dan mencintai pemuda gondrong tersebut. Tidak ada kata-kata yang dapat saya gambarkan tentang siapakah Dia. Demikian pula para murid yang lain. Mulut kami seolah-olah ‘kaku’ dan tidak sanggup untuk menjelaskan pribadi Yesus yang penuh daya ilahi dan penuh kuasa, namun memiliki sikap yang lembut dan rendah hati. Untung salah seorang sahabat kami, Simon, mampu ‘menerjemahkan’ seluruh pengalaman kami semua akan Yesus dengan kata-kata yang bernas dan tepat. “Engkau adalah Mesias, Allah yang hidup”. (Mat 16:13-19)

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman yang paling berkesan selama sekian waktu hidup bersama dengan Yesus. Pengalaman itu terjadi delapan hari setelah pengakuan Petrus tadi tentang “kemesiasan” Yesus. Pada waktu itu Ia mengajak saya, Petrus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung atau bukit selalu menjadi tempat favorite Yesus untuk berjumpa dengan Bapa dalam doa. Hal ini mengingatkan saya akan percakapan antara Musa dan Allah yang terjadi di puncak Gunung Sinai, dan juga seperti ketika Musa memandang negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga. Saya mengenal dengan baik bahwa gunung yang kami daki adalah Gunung Tabor, sehingga genaplah apa yang dikatakan Kitab Suci bahwa “Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu (Mzm. 89:13).

 ***

Ke puncak gunung inilah Yesus membawa kami bertiga. Mengapa hanya kami bertiga? Mungkinkah agar suasana doa lebih khusuk dan tenang, makanya tidak semua murid pergi. Saya sendiri tidak tahu alasan yang pasti. Juga tidak sempat saya tanyakan saat itu kepada Yesus. Saya hanya menduga mungkin Yesus memiliki rencana khusus terhadap kami bertiga. Seperti halnya ada berkat yang diberikan kepada para murid dan bukan kepada dunia, demikian pula ada berkat yang hanya diberikan kepada beberapa murid dan tidak kepada yang lain.

Kami bertiga memiliki pengalaman pribadi masing-masing dengan Yesus. Tentu kalian tahu bagaimana relasi Petrus dengan Yesus. Ia yang berani bersaksi tentang kemesiasan Yesus, membelaNya, meski sempat menyangkal-Nya, namun kembali menunjukkan cintanya yang tulus kepada Yesus. “Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”.

Saya dan Yohanes mengasihi Yesus, meski kadang-kadang terlalu berlebihan. Pernah Yesus ditolak di suatu desa. Seketika itu juga, kami berdia merasa sangat tersinggung. Kami bertanya kepada Yesus apakah perlu menurunkan api dari langit, "seperti yang dilakukan Elia" (Lukas 9:54-56).

Tanpa mengesampingkan para murid yang lain, kami bertiga boleh dikatakan sebagai anggota "lingkaran terdalam" Yesus dan yang paling dekat dengan-Nya. Kapan saja Tuhan tidak ingin sendirian atau tidak ingin berada dalam kumpulan orang banyak, Ia akan mengajak kami bertiga menemani-Nya (Markus 5:37-43; 9:2-13; Matius 26:37-46). 

Saya, adalah yang pertama di antara kedua belas murid yang mati untuk Kristus. Yohanes hidup lebih lama daripada yang lain, untuk menjadi saksi terakhir dari kemuliaan-Nya; Yohanes bersaksi (Yoh. 1:14), "Kami melihat kemuliaan-Nya," begitu juga Petrus (2Ptr. 1:16-18).

***

Sesampainya kami di puncak Gunung, tiba-tiba Yesus berubah rupa. Ia tampak dalam rupa yang berbeda dari rupa biasa-Nya. Perubahan-Nya terjadi secara berangsur-angsur, dalam kemuliaan yang semakin besar. Pakaian-Nya putih berkilat-kilat, sehingga walaupun mungkin tadinya berwarna suram, jika bukan hitam, sekarang tampak jauh melampaui putihnya salju, melebihi apa yang dapat dilakukan ahli pembersih dan pemutih pakaian mana pun. Saya sadar bahwa bahwa penampakan yang mulia ini tiada lain daripada Yesus yang termulia itu sendiri, dan ini bukan khayalan kami. Kelihatannya Yohanes kemudian menunjuk kepada hal ini (1Yoh. 1:1) ketika ia berbicara tentang firman hidup, seperti yang kami lihat dan pandang dengan mata kami sendiri.

Saat itu, tampak pula Musa dan Elia. Mereka tampak berbicara dengan Dia, bukan untuk mengajar-Nya, tetapi untuk memberikan kesaksian kepada-Nya dan diajar oleh-Nya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa orang-orang kudus yang dipermuliakan itu juga saling bercakap-cakap dan bergaul, mereka mempunyai cara tersendiri untuk berbicara satu sama lain, yang tidak bisa kita mengerti. Musa dan Elia hidup dalam kurun waktu yang jauh berbeda, tetapi hal tersebut tidak ada artinya di sorga, di mana yang pertama menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama, yaitu, semuanya satu di dalam Kristus.

Kami turut menyaksikan pemandangan ini dan percakapan mereka dengan sangat gembira, dan Petrus, si pemberani itu tidak segan-segan berkata, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini" . Menariknya, walaupun Yesus sedang berubah rupa dalam kemuliaan dan sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, Ia tetap mengizinkan Petrus untuk berbicara dan bersikap bebas kepada-Nya seperti biasa.  Ini menjadi catatan penting bagi saya:

“Perhatikanlah, Yesus Kristus, walaupun dalam keagungan dan kemuliaan, sama sekali tidak mengurangi kebaikan-Nya yang penuh kerendahan hati itu terhadap umat-Nya. Banyak orang, jika mereka sudah menjadi orang besar, mengharuskan teman-teman mereka menjaga jarak. Berlainan halnya dengan Kristus, yang sekalipun sudah dipermuliakan, masih tetap bisa didekati orang-orang percaya dengan penuh keberanian dan kebebasan untuk berbicara kepada-Nya.”

Bahkan dalam pembicaraan sorgawi ini masih juga ada kesempatan yang diberikan kepada Petrus untuk berkata-kata; dan inilah yang dikatakannya, "Tuhan, betapa bahagianya berada di tempat ini, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah di sini, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.

Pada titik ini saya benar-benar salut dengan Petrus. Perhatikanlah, dia menginginkan persekutuan dengan Kristus, bahwa adalah baik untuk berada dekat dengan Dia, baik untuk berada di gunung bersama Dia, walaupun tempatnya dingin dan terpencil. Adalah baik untuk berada di tempat yang terpisah dari kebisingan dunia ini dan menyendiri dengan Kristus. Jika hanya dengan Kristus yang dipermuliakan di atas sebuah gunung dengan Musa dan Elia saja sudah sedemikian indah, apalagi kalau kita nanti bisa bersama-Nya dipermuliakan di sorga bersama semua orang kudus!

Kekurangan Petrus adalah ia sering ‘terbawa perasaan’ alias Baper. Saking bahagianya situasi puncak Tabor saat itu, ia lupa akan orang banyak yang membutuhkan kehadiran Kristus dan khotbah dari para murid. Pada saat itu, murid-murid yang lain sangat mengharapkan mereka (bdk Mrk 2:14). Nah, inilah yang perlu disadari, jika keadaan kita baik, kita cenderung mengabaikan orang lain, dan jika kita berada dalam sukacita yang penuh, kita cenderung melupakan kebutuhan saudara-saudara kita. Kelemahan Petrus ialah lebih menyukai kebersamaan pribadi bersama Allah daripada menghadapi kebutuhan orang banyak. Ini berbeda kemudian dengan Paulus. Paulus bersedia tinggal di alam daging, daripada berangkat ke gunung kemuliaan (walaupun itu jauh lebih baik), ketika ia melihat jemaat Tuhan sangat memerlukannya (Flp. 1:24-25).

Sementara Petrus berkata untuk membuat kemah bagi Kristus dan "teman-teman-Nya" itu, saya turut melihat bagaimana rencananya itu digantikan. Awan menaungi mereka, menggantikan kemah menjadi tempat untuk berlindung (Yes. 4:5). Sementara dia berbicara mengenai kemahnya, Allah menciptakan kemah-Nya sendiri yang bukan buatan tangan manusia. Kemudian, dari awan itu  terdengar suara yang mengatakan, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Allah mengakui dan menerima Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya, dan Dia siap menerima kita di dalam Yesus; karena itu, kita juga harus mengakui dan menerima Yesus sebagai Penyelamat kita terkasih, dan menyerahkan diri kita untuk diperintah oleh-Nya.

Saat turun gunung, Yesus meminta kami untuk tidak menceritakan kepada seorang pun terkait apa yang telah kami lihat itu, sampai Ia bangkit dari antara orang mati. Setelah kebangkitan-Nya itu, barulah kami, murid-murid diizinkan untuk menyebarkan penglihatan tersebut. Bagi saya, larangan Yesus adalah bentuk pengajaran untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Perintah untuk diam ini berguna, karena hal tersebut bisa mencegah kami untuk tidak membanggakan diri dan dan menjadi sombong dengan peristiwa penyingkapan kemuliaan yang besar itu. Kami harus mematikan diri dari keinginan untuk menceritakan berbagai kemajuan yang dicapai, supaya sikap menyombongkan diri bisa dicegah.

 ***

Oh ya tadi saya hanya memperkenalkan ayah kami bernama Zebedeus. Tahukah kalian semua siapa nama Mama kami? Mama bernama Salome. Tentang hal itu dapat kalian baca dalam Mat 27:56, Mrk 15:40-41, Mrk 16:1.

Mungkin yang paling kalian ingat tentang Mama adalah terkait permintaannya kepada Yesus agar saya dan Yohanes boleh ‘mendapat kursi’  istimewa dalam kerajaan Surga. Mintanya kepada Yesus, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Mat 20;21). Kami berdua memang sedikit malu dan merasa ‘tidak enak’ dengan permintaaan Mama, apalagi hal tersebut menimbulkan perbincangan di anatara para murid.

Namun satu hal yang pasti, Mama tentu ingin anak-anaknya bahagia. Ia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Meskipun salah paham dengan ‘tempat dan konteks’ Mama berjuang agar anak-anaknya mengalami kebahagiaan dan sukacita sebagaimana orang lain. Bahwa sukacita itu tidak saja berhenti pada anak-anak yang mungkin selalu mengalami” situasi gunung tabor” dalam hidup  keluarganya, tetapi oleh semua anak, apa pun kondisi kehidupan keluarganya, termasuk mereka yang paling menderita dan rentan. 

Itulah yang anak-anak rindukan. Sukacita, bukan dukacita, air mata dan senyum lara.

Tentang hal ini saya terhubung dengan peristiwa yang baru saja di wilayah Keuskupan Ruteng, tepatnya di Manggarai Timur. Media memberitakan dengan ‘terus-terang’ bahwa seorang ayah tega ‘meniduri’anak kandungnya selama tiga tahun. Jujur, hati saya teriris membaca peristiwa memilukan itu. Bagaimana mungkin di daerah dengan mayoritas Katolik, pengikut Kristus, yang digelar serani sa’i kontas bokak, seorang ayah tega melakukan hal keji tersebut terhadap buah hatinya. (https://tribratanewsmanggaraitimur.blogspot.com/2024/02/setubuhi-anak-kandungnya-sejak-2021-sat.html?m=1)

Saya tidak ingin berkomentar banyak tentang hal ini. Saya hanya mau bilang kepada kalian semua, pemerintah, gereja, sekolah, para pastor, warga kampung, KBG, kakek-nenek, Om-tanta, dan orang tua, mesti menciptakan lingkungan yang layak dan ramah bagi anak-anak. Lingkungan di mana hak-hak mereka terpenuhi; Hak Hidup, Tumbuh Kembang, Perlindungan dan Partisipasi. Lingkungan di mana mereka merasa dikasihi, dicintai, dan disayangi. Oleh karena itu, ciptakanlah “gunung tabor” di parokimu, dii kampungmu, KBGmu, sekolahmu, rumahmu, agar anak-anak boleh mengatakan: Romo, Pater, Bapa-mama, Kakek, Om sekalianalangkah bahagianya saya berada di tempat ini!*

 


Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar