Renungan Minggu II Prapaskah
| Mrk 9:2-10
RD. Benediktus Gaguk|Ketua Komisi
Kerasulan Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng
Perkenalkan. Nama saya Yakobus anak Zebedeus. Orang-orang sekampung
memanggil saya Yakobus. Orang Inggris mungkin memanggil saya Jack. Orang
Indonesia bisa jadi menyapa saya Yakob. Kalau orang Manggarai pasti memanggil
saya dengan sapaan manis, Kobus. Lebih manis lagi, Mbombu.
Saya berasal dari Galilea. Saudaraku bernama Yohanes. Kami berdua adalah
anak dari Bapa Zebedeus, seorang Nelayan yang menggantungkan kehidupan pada
kemurahan hati danau Galilea. Saya dan Yohanes adalah murid Yesus, Orang
Nasaret itu. Perjumpaan pertama dengan pemuda tukang kayu itu terjadi di tepi
danau Galilea. Saat itu saya dan Yohanes sedang membantu ayah kami membersihkan
jala setelah semalam suntuk ‘turun’ menangkap ikan.
Bagaimana kami kemudian mengikuti Yesus, sebenarnya sederhana saja. Sebelum
bertemu dengan kami, Ia memanggil Simon dan Andreas untuk menjadi pengikutNya.
Menurut dua bersaudara itu, Yesus menghampiri mereka, lalu mengatakan” Ikutilah
Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia. Ia kemudian memanggil kami tanpa basa-basi.
Dan kami serta- merta meninggalkan Bapa Zebedesu di perahu, bersama orang-orang
upahannya. (Mrk 1:14-20).
Setelah tinggal bersama Yesus, berkeliling dari desa dan kota, menyaksikan
pelbagai mukjizat yang dilakukanNya, saya akhirnya semakin mengenal dan
mencintai pemuda gondrong tersebut. Tidak ada kata-kata yang dapat saya
gambarkan tentang siapakah Dia. Demikian pula para murid yang lain. Mulut kami
seolah-olah ‘kaku’ dan tidak sanggup untuk menjelaskan pribadi Yesus yang penuh
daya ilahi dan penuh kuasa, namun memiliki sikap yang lembut dan rendah hati.
Untung salah seorang sahabat kami, Simon, mampu ‘menerjemahkan’ seluruh
pengalaman kami semua akan Yesus dengan kata-kata yang bernas dan tepat.
“Engkau adalah Mesias, Allah yang hidup”. (Mat 16:13-19)
Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman yang paling berkesan
selama sekian waktu hidup bersama dengan Yesus. Pengalaman itu terjadi delapan
hari setelah pengakuan Petrus tadi tentang “kemesiasan” Yesus. Pada waktu itu
Ia mengajak saya, Petrus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung
atau bukit selalu menjadi tempat favorite Yesus untuk berjumpa dengan
Bapa dalam doa. Hal ini mengingatkan saya akan percakapan antara Musa dan Allah
yang terjadi di puncak Gunung Sinai, dan juga seperti ketika Musa memandang
negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga. Saya mengenal dengan baik bahwa gunung
yang kami daki adalah Gunung Tabor, sehingga genaplah apa yang dikatakan Kitab
Suci bahwa “Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu (Mzm. 89:13).
***
Ke puncak gunung inilah Yesus membawa kami bertiga. Mengapa hanya kami
bertiga? Mungkinkah agar suasana doa lebih khusuk dan tenang, makanya tidak
semua murid pergi. Saya sendiri tidak tahu alasan yang pasti. Juga tidak sempat
saya tanyakan saat itu kepada Yesus. Saya hanya menduga mungkin Yesus memiliki
rencana khusus terhadap kami bertiga. Seperti halnya ada berkat yang diberikan
kepada para murid dan bukan kepada dunia, demikian pula ada berkat yang hanya
diberikan kepada beberapa murid dan tidak kepada yang lain.
Kami bertiga memiliki pengalaman pribadi masing-masing dengan Yesus. Tentu
kalian tahu bagaimana relasi Petrus dengan Yesus. Ia yang berani bersaksi
tentang kemesiasan Yesus, membelaNya, meski sempat menyangkal-Nya, namun
kembali menunjukkan cintanya yang tulus kepada Yesus. “Engkau tahu bahwa aku
mengasihi Engkau”.
Saya dan
Yohanes mengasihi Yesus, meski kadang-kadang terlalu berlebihan. Pernah
Yesus ditolak di suatu desa. Seketika itu juga, kami berdia merasa sangat tersinggung. Kami bertanya kepada Yesus apakah perlu menurunkan api dari langit,
"seperti yang dilakukan Elia" (Lukas 9:54-56).
Tanpa mengesampingkan para murid yang lain, kami bertiga
boleh dikatakan sebagai anggota
"lingkaran terdalam" Yesus dan yang paling dekat dengan-Nya.
Kapan saja Tuhan tidak ingin sendirian atau tidak ingin berada dalam kumpulan
orang banyak, Ia akan mengajak kami bertiga menemani-Nya (Markus 5:37-43; 9:2-13; Matius 26:37-46).
Saya, adalah yang pertama di antara kedua belas murid yang mati untuk
Kristus. Yohanes hidup lebih lama daripada yang lain, untuk menjadi saksi
terakhir dari kemuliaan-Nya; Yohanes bersaksi (Yoh. 1:14), "Kami melihat
kemuliaan-Nya," begitu juga Petrus (2Ptr. 1:16-18).
***
Sesampainya kami di puncak Gunung, tiba-tiba Yesus berubah rupa. Ia tampak
dalam rupa yang berbeda dari rupa biasa-Nya. Perubahan-Nya terjadi secara
berangsur-angsur, dalam kemuliaan yang semakin besar. Pakaian-Nya putih
berkilat-kilat, sehingga walaupun mungkin tadinya berwarna suram, jika bukan
hitam, sekarang tampak jauh melampaui putihnya salju, melebihi apa yang dapat
dilakukan ahli pembersih dan pemutih pakaian mana pun. Saya sadar bahwa bahwa
penampakan yang mulia ini tiada lain daripada Yesus yang termulia itu sendiri,
dan ini bukan khayalan kami. Kelihatannya Yohanes kemudian menunjuk kepada hal
ini (1Yoh. 1:1) ketika ia berbicara tentang firman hidup, seperti yang kami
lihat dan pandang dengan mata kami sendiri.
Saat itu, tampak pula Musa dan Elia. Mereka tampak berbicara dengan Dia,
bukan untuk mengajar-Nya, tetapi untuk memberikan kesaksian kepada-Nya dan
diajar oleh-Nya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa orang-orang kudus yang
dipermuliakan itu juga saling bercakap-cakap dan bergaul, mereka mempunyai cara
tersendiri untuk berbicara satu sama lain, yang tidak bisa kita mengerti. Musa
dan Elia hidup dalam kurun waktu yang jauh berbeda, tetapi hal tersebut tidak
ada artinya di sorga, di mana yang pertama menjadi yang terakhir, dan yang
terakhir menjadi yang pertama, yaitu, semuanya satu di dalam Kristus.
Kami turut menyaksikan pemandangan ini dan percakapan mereka dengan sangat
gembira, dan Petrus, si pemberani itu tidak segan-segan berkata, "Rabi,
betapa bahagianya kami berada di tempat ini" . Menariknya, walaupun Yesus
sedang berubah rupa dalam kemuliaan dan sedang bercakap-cakap dengan Musa dan
Elia, Ia tetap mengizinkan Petrus untuk berbicara dan bersikap bebas kepada-Nya
seperti biasa. Ini menjadi catatan penting bagi saya:
“Perhatikanlah, Yesus Kristus, walaupun dalam keagungan dan kemuliaan, sama
sekali tidak mengurangi kebaikan-Nya yang penuh kerendahan hati itu terhadap
umat-Nya. Banyak orang, jika mereka sudah menjadi orang besar, mengharuskan
teman-teman mereka menjaga jarak. Berlainan halnya dengan Kristus, yang
sekalipun sudah dipermuliakan, masih tetap bisa didekati orang-orang percaya
dengan penuh keberanian dan kebebasan untuk berbicara kepada-Nya.”
Bahkan dalam pembicaraan sorgawi ini masih juga ada kesempatan yang diberikan
kepada Petrus untuk berkata-kata; dan inilah yang dikatakannya, "Tuhan,
betapa bahagianya berada di tempat ini, betapa bahagianya kami berada di tempat
ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah di sini, satu untuk Engkau, satu untuk
Musa, dan satu untuk Elia.
Pada titik ini saya benar-benar salut dengan Petrus. Perhatikanlah, dia
menginginkan persekutuan dengan Kristus, bahwa adalah baik untuk berada dekat
dengan Dia, baik untuk berada di gunung bersama Dia, walaupun tempatnya dingin
dan terpencil. Adalah baik untuk berada di tempat yang terpisah dari kebisingan
dunia ini dan menyendiri dengan Kristus. Jika hanya dengan Kristus yang
dipermuliakan di atas sebuah gunung dengan Musa dan Elia saja sudah sedemikian
indah, apalagi kalau kita nanti bisa bersama-Nya dipermuliakan di sorga bersama
semua orang kudus!
Kekurangan Petrus adalah ia sering ‘terbawa perasaan’ alias Baper.
Saking bahagianya situasi puncak Tabor saat itu, ia lupa akan orang banyak yang
membutuhkan kehadiran Kristus dan khotbah dari para murid. Pada saat itu,
murid-murid yang lain sangat mengharapkan mereka (bdk Mrk 2:14). Nah, inilah
yang perlu disadari, jika keadaan kita baik, kita cenderung mengabaikan orang
lain, dan jika kita berada dalam sukacita yang penuh, kita cenderung melupakan
kebutuhan saudara-saudara kita. Kelemahan Petrus ialah lebih menyukai
kebersamaan pribadi bersama Allah daripada menghadapi kebutuhan orang banyak.
Ini berbeda kemudian dengan Paulus. Paulus bersedia tinggal di alam daging,
daripada berangkat ke gunung kemuliaan (walaupun itu jauh lebih baik), ketika
ia melihat jemaat Tuhan sangat memerlukannya (Flp. 1:24-25).
Sementara Petrus berkata untuk membuat kemah bagi Kristus dan
"teman-teman-Nya" itu, saya turut melihat bagaimana rencananya itu
digantikan. Awan menaungi mereka, menggantikan kemah menjadi tempat untuk
berlindung (Yes. 4:5). Sementara dia berbicara mengenai kemahnya, Allah
menciptakan kemah-Nya sendiri yang bukan buatan tangan manusia. Kemudian, dari
awan itu terdengar suara yang mengatakan, "Inilah Anak yang
Kukasihi, dengarkanlah Dia." Allah mengakui dan menerima Yesus sebagai
Anak yang dikasihi-Nya, dan Dia siap menerima kita di dalam Yesus; karena itu,
kita juga harus mengakui dan menerima Yesus sebagai Penyelamat kita terkasih,
dan menyerahkan diri kita untuk diperintah oleh-Nya.
Saat turun gunung, Yesus meminta kami untuk tidak menceritakan kepada
seorang pun terkait apa yang telah kami lihat itu, sampai Ia bangkit dari
antara orang mati. Setelah kebangkitan-Nya itu, barulah kami, murid-murid
diizinkan untuk menyebarkan penglihatan tersebut. Bagi saya, larangan
Yesus adalah bentuk pengajaran untuk menjadi pribadi yang rendah hati.
Perintah untuk diam ini berguna, karena hal tersebut bisa mencegah kami untuk
tidak membanggakan diri dan dan menjadi sombong dengan peristiwa penyingkapan
kemuliaan yang besar itu. Kami harus mematikan diri dari keinginan untuk
menceritakan berbagai kemajuan yang dicapai, supaya sikap menyombongkan diri
bisa dicegah.
***
Oh ya tadi saya hanya memperkenalkan ayah kami bernama Zebedeus.
Tahukah kalian semua siapa nama Mama kami? Mama bernama Salome.
Tentang hal itu dapat kalian baca dalam Mat 27:56, Mrk 15:40-41, Mrk 16:1.
Mungkin yang paling kalian ingat tentang Mama adalah terkait permintaannya
kepada Yesus agar saya dan Yohanes boleh ‘mendapat kursi’ istimewa dalam
kerajaan Surga. Mintanya kepada Yesus, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam
kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah
kiri-Mu." (Mat
20;21). Kami berdua memang sedikit malu dan merasa ‘tidak enak’ dengan
permintaaan Mama, apalagi hal tersebut menimbulkan perbincangan di anatara para
murid.
Namun satu hal yang pasti, Mama tentu ingin anak-anaknya
bahagia. Ia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Meskipun salah paham dengan
‘tempat dan konteks’ Mama berjuang agar anak-anaknya mengalami kebahagiaan dan
sukacita sebagaimana orang lain. Bahwa sukacita itu tidak saja berhenti pada
anak-anak yang mungkin selalu mengalami” situasi gunung tabor” dalam
hidup keluarganya, tetapi oleh semua anak, apa pun kondisi kehidupan
keluarganya, termasuk mereka yang paling menderita dan rentan.
Itulah yang anak-anak rindukan. Sukacita, bukan
dukacita, air mata dan senyum lara.
Tentang hal ini saya terhubung dengan peristiwa yang
baru saja di wilayah Keuskupan Ruteng, tepatnya di Manggarai Timur. Media
memberitakan dengan ‘terus-terang’ bahwa seorang ayah tega ‘meniduri’anak
kandungnya selama tiga tahun. Jujur, hati saya teriris membaca peristiwa
memilukan itu. Bagaimana mungkin di daerah dengan mayoritas Katolik, pengikut
Kristus, yang digelar serani sa’i kontas bokak, seorang ayah tega
melakukan hal keji tersebut terhadap buah hatinya. (https://tribratanewsmanggaraitimur.blogspot.com/2024/02/setubuhi-anak-kandungnya-sejak-2021-sat.html?m=1)
Saya
tidak ingin berkomentar banyak tentang hal ini. Saya hanya mau bilang kepada
kalian semua, pemerintah, gereja, sekolah, para pastor, warga kampung, KBG,
kakek-nenek, Om-tanta, dan orang tua, mesti menciptakan lingkungan yang layak
dan ramah bagi anak-anak. Lingkungan di mana hak-hak mereka terpenuhi; Hak
Hidup, Tumbuh Kembang, Perlindungan dan Partisipasi. Lingkungan di mana mereka
merasa dikasihi, dicintai, dan disayangi. Oleh karena itu, ciptakanlah “gunung
tabor” di parokimu, dii kampungmu, KBGmu, sekolahmu, rumahmu, agar anak-anak
boleh mengatakan: Romo, Pater, Bapa-mama, Kakek, Om sekalian, alangkah
bahagianya saya berada di tempat ini!*

0 komentar:
Posting Komentar