*RD. Benediktus Gaguk
Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.
(Lukas 2:22-40)
Natal : Allah yang Berinkarnasi Menjadi Manusia.
Natal
adalah peristiwa yang berahmat, menyelamatkan dan menebuskan. Inti dari
perayaan natal adalah Allah menjadi manusia, Sabda menjadi Daging, Immanuel,
Allah yang tinggal di antara kita,. Allah yang Kudus, yang Ilahi, yang transendens, jauh dan tinggi dalam
tahktanya yang mulia, turun dan merendahkan diri-Nya menjadi manusia, masuk
dalam kehidupan kita manusia, mengalami suka-duka kehidupan manusia yang penuh
suka-duka, hiruk-pikuk dan penderitaan.
Melalui
peritiwa Betlehem, Kristus adalah Allah berinkarnasi menjadi manusia. Istilah
inkarnasi berasal dari kata Latin “Incarnatio,” yang secara literal berarti masuknya Kristus ke
dalam daging manusia. Dan Inkarnasi adalah bentuk pengosongan diri Kristus. Pengosongan
diri ini, dalam bahasa Yunani disebut kenosis,
yang diambil dari Filipi 2:7, yang berarti mengosongkan. ” Yesus, yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” ( Bdk Fil 2:7)
Ketika
Kristus menjadi manusia, di saat yang sama Dia juga adalah Allah. Dengan
demikian, kenosis atau tindakan mengosongkan diri yang dimaksud di dalam Filipi
2:7, merupakan sebuah bentuk keteladanan tentang kerendahan hati yang Kristus
berikan. Keteladanan tentang kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Kristus
adalah bahwa Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Bapa sebagai sesuatu yang
perlu untuk dipertahankan, melainkan Dia mengosongkan diri-Nya. Kristus
mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba dan menjadi manusia sehingga
dengan jalan tersebut Dia dapat menggantikan kita untuk menjalani penghukuman
yang seharusnya kita terima akibat dosa. Kristus melakukan ini semua dengan
sebuah tujuan yaitu agar kita dapat diselamatkan.
Keluarga: Tempat pertama kita untuk belajar mengasihi.
Peristiwa
Inkarnasi “lahir dari dan karena” kasih Allah yang tak berkesudahan bagi
umatNya. Sekalipun Kasih Allah kadang “dikhianati dan terkesan bertepuk
sebelah tangan”, sebagaimana terpampang dalam sejarah bangsa Israel, Allah tetap setia. Karakter Allah yang adalah
kasih, tidak sedikitpun “tercoreng”, “tergores” atau “terkikis” oleh sikap dan
jawaban manusia atas cintaNya. Allah adalah kasih, dan kasih adalah Allah itu
sendiri, sebagaimana ditulis oleh oleh Rasul Yohanes: “Sebab kasih itu berasal
dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih. (1Yohanes 4:7-8). Karena itu, meskipun umat Israel “tegar-tengkuk” di
hadapan Allah, Kasih Tuhan “pantang mundur” untuk terus-menerus menghadirkan
rahmat penebusan dan keselamatan. Dan Yesus, yang lahir di kandang hina, adalah
wujud sempurna kasih itu. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga
Ia mengaruniakan putraNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya, akan memperoleh hidup yang kekal:
Keluarga,
menurut dokumen Familiaris Consortio
adalah adalah komunitas kasih dan persekutuan kehidupan, yang memiliki tugas
memupuk, mengungkapkan, dan menyebarkan cinta. Kasih itu diwujudkan kepada diri
sendiri dan orang lain, baik kepada keluarga, dan juga kepada masyarakat di sekitarnya
(FC17).
Secara
khusus, Paus Fransiskus, dalam perayaan Ekaristi pertemuan Keluarga se Dunia ke
10, menyampaikan, keluarga sebagai “the place where we learn to love”: Keluarga
adalah tempat pertama kita untuk belajar mencintai,” Mengutip Paulus, dalam
suratnya kepada Jemaat di Galatia, Fransiskus mengajak keluarga katolik, tidak
menggunakan kemerdekaan sebagai anak Allah menjadi kesempatan untuk hidup dalam
dosa, melainkan melayani seorang akan yang lain dengan kasih. (Gal 5:13). Dan
itu, harus dimulai dari keluarga.
“Anda menjadi pelayan untuk saling melayani
satu sama lain. Tidak ada planet atau satelit yang bergerak masing-masing.
Begitu juga keluarga adalah tempat perjumpaan dan berbagi,” pesan Paus.
Keluarga Kudus dan Pengasuhan dengan Cinta.
Keluarga
Kudus, dalam Lukas 2:22-40, menunjukkan bagaimana kasih itu dihidupi, bertumbuh
dan berbuah dalam keluarga. Kasih yang sejati, yang autentik berakar dalam Allah
sendiri. Karena itu, pada hari pentahiran menurut hukum Taurat, Yosef dan Maria
membawa kanak-kanak Yesus ke Bait Allah, untuk mempersembahkan Dia kepada
Tuhan. Penyerahan sang Anak kepada Tuhan adalah juga simbol pemberian diri
keluarga kepada Tuhan, agar mereka disertai, dibimbing dalam mendidik dan
memelihara Yesus, sebagai persiapan untuk menjalankan misi PerutusanNya, sekaligus
dikuatkan dalam menghadapi peristiwa sulit dalam hidup, seperti pengalaman pedang yang akan menembus jiwa Maria, sebagaimana yang diramalkan Simeon, yang adalah jalan
penderitaan yang akan dialami oleh sang Putra. Sampai di sini, betapa
keluarga-keluarga pun diajak untuk menjadikan doa dan kehidupan rohani menjadi
fondasi dan penopang utama kehidupannya. Berdoa, agar dimampukan untuk
menjalani kehidupan keluarga di tengah pelbagai tantangan, hambatan, tawaran,
dan kerumitan-kepelikan dewasa ini. Berdoa, bukan untuk meniadakan semua
persoalan-persoalan, tetapi untuk dikuatkan, dan tetap setia sampai akhir. Karena
keluarga dipanggil terutama bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.
Mengasuh
anak dengan Cinta, bagi Yusuf dan Maria, tidak saja menyentuh aspek rohani-spiritual.
Ketika pulang kembali ke Nasareth, kota kediamannya, ke rumahnya, mereka tidak
saja mendidik dan mendampingi Yesus kecil untuk menjadi pribadi yang “penuh
hikmat” dan “dipenuhi kasih karunia Allah”, tetapi juga mengasuhnya secara
fisik, sehingga “ia bertambah besar dan kuat. Hal ini terjadi, tentu karena
Maria dan Yosef memberikan “asupan gizi” yang cukup bagi Yesus kecil.
Adakah keluarga-keluarga kita juga memperhatikan ketercukupan gizi bagi anak-anak kita, ataukah banyak anak terabaikan, yang menyebabkan mereka menjadi Stunting?
Keluarga Kudus dan Pemenuhan Hak-Hak Dasar Anak.
Melalui
pengasuhan kepada Yesus Kecil, Keluarga Kudus Nazareth memberikan teladan bagi
kita berupaya untuk memenuhi Hak-Hak Dasar Anak. Melalui pencatatan jiwa yang diikuti
oleh Orang tuanya di Betlehem, pentahiran di Bait Allah sebagaimana ditentukan
oleh Hukum Taurat, Yosef dan Maria memenuni “Hak Sipil” dari anaknya. Dengan
memberikan “asupan gizi yang cukup, sehingga Yesus kecil “bertambah besar dan
kuat”, pasangan muda ini memenuhi “Hak tumbuh-Kembang” anaknya. Mengungsi ke Mesir untuk melindungi
Yesus Kecil dari ancaman pembunuhan oleh Herodes adalah pemenuhan Hak atas
perlindungan (Bdk Mat 2:13-18). Dan, “Hak
Berpartisipasi” Yesus kecil terpenuhi, ketika Ia diajak bersama-sama berziarah
ke Yerusalem, berpartisipasi pada perayaan paskah Yahudi, dan di sana ia juga mendapatkan kesempatan “bercakap-cakap” dan “berdiskusi” dengan para
pemuka Agama di Bait Allah. (Bdk Lukas
2:41-52)
Semoga
keluarga kita pun bertumbuh dalam kasih, mengembangkan pola pengasuhan dengan
cinta, dengan mengupayakan pemenuhan Hak-Hak Dasar anak-anak kita.*
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar