Just another free Blogger theme

Senin, 25 Desember 2023


*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia

Sumber gambar: Pinterest

Lukas 2:1-14

Yang aku kasihi

Anak-anak, orang-orang Muda, Bapa Mama 

Di Ruteng

Apa kabarmu sekalian di malam ini? Aku yakin pasti semuanya sedang bersukacita menyambut kelahiranku di dunia. Meskipun aku lahir ribuan tahun lalu, namun cerita, sukacita, dan perayaannya tak berhenti di padang gembala Efata, tidak saja menghiasi hati para gembala yang sedang berjaga. Kelahiranku senantiasa dikenang, dihidupi dan dirayakan hingga saat ini dan sampai nanti juga di Ruteng, kota dingin dan sejuk di kaki pegunungan Mandosawu, tempat di mana kopi, kompiang dan hujan membuat Ruteng menjadi kota kecil yang romatis dan penuh kenangan. Bukankah setiap genangan hujan selalu menjadi kenangan. Bahkan ada yang bilang, rintik hujan di Ruteng, meninggalkan 10 % genangan. 90%-nya adalah kenangan. Ah, gara-gara mengingat kotamu, aku jadinya romantis juga ni.  

Aku terharu dan gembira bagaimana orang-orang Ruteng menyambut kelahiranku. Lampu-lampu menghiasi jalan-jalan, juga kandang natal berdiri hampir di setiap lorong dan jalan. Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang sedang mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran Kristus. Meskipun tahun ini tidak sebegitu meriah di tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena harga sembako terus naik, sehingga orang-orang tak punya dana cukup untuk membeli lampu dan hiasan Natal. Semoga itu alasannya dan bukan karena tidak antusias dan kurang semangatnya kalian semua menyambut kelahiranku?

Aku juga melihat, hari-hari terakhir ini, kota kita ramai dikunjungi. Manusia berjubel, antri dan berdesakan. Lagu Natal dari toko musik seolah mengiringi wajah-wajah ceria yang ingin tampil sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru, gaun yang bagus, sepatu, arloji, dandanan dan aksesoris lainnya. Kurir paket dan Jasa titip pun keluar-masuk gang. Rupanya angka pembelian di Online Shop pun terus meningkat pada pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Betapa kelahiranku membawa berkah untuk semua orang. Wah aku jadi terharu.

Tetapi apakah itu semua menjadi pertanda bahwa kelahiranku membawa sukacita sejati?

Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan” dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan” duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks ini adalah ungkapan yang cocok.

Sukacita lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”. Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap, abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.

Saudara-saudariku, pada perayaan kelahiranku di dunia, tahukah kamu, mengapa dan untuk apa aku datang ke dunia? Mengapa aku “mau-mau” saja dan rela meninggalkan rumah surgawi yang nyaman dan penuh kebahagiaan dan turun ke dunia, yang kamu bilang dunia yang keras, kejam dan penuh dengan masalah dan penderitaan ini? Untuk itu aku mau menceritakan satu kisah:

Menjelang Misa Kelahiranku, seorang Ibu bergegas menuju Gereja. Ketika melewati ruang tamu, ia melihat suaminya sedang serius dengan Handphone dan buku catatan di meja tamu. “ Bapa, tidak ke Gereja kah?” tanya si Ibu.

“Kamu saja Ma. Aku sudah bosan, dari dulu pergi Misa Natal terus. Aku belum mengerti “ Mengapa Yesus itu datang ke dunia. Tidak mau aman-aman saja di surga? Untuk apa dia datang?

“Untuk menyelamatkan kita, Pa!” jawab Ibu.

“Dia bisa ator dari surga to? Kenapa pusing-pusing datang ke dunia?” ketus si Bapa.

Pergilah si Mama sendirian. Si Bapa melanjutkan “rutit-ratitnya” dengan handphone, sambil menghitung angka-angka di buku catatan. Rupanya dia asyik mengirimkan sejumlah “transferan” ke anak rona: di Sidney, Hongkong, dan Kamboja.

Ketika sedang asyik kirim-mengirim, tiba- tiba ada keributan di pintu rumah. Si Bapa bergerak ke pintu, dan ketika ia membuka pintu, masuklah segerombolan kambing piaraannya, yang terlepas dari kandang.. Si Bapak kalang kabut. Kambing-kambing pun memenuhi seluruh ruangan tamu.

Si Bapak berusaha menghalau kambing-kambing, tapi tak satu pun yang mau keluar. Setelah lama berjuang, akhirnya si Bapak menemukan Ide. Ia mengambil selimutnya yang berwarna belang-belang,  dan kemudian membungkus badannya. Dipasangnya kemoceng, pembersih debu, pada pinggangnya. Dipakainya bando Natal isteri yang ada tanduk rusanya. Lalu mengambil posisi merangkak. Maka, jadilah ia seperti seekor kambing. Pelan-pelan ia bergerak keluar pintu sambil mengembik, “mbee-mbeee”. Sepert kambing, si Bapak merangkak menuju kandang, dan melihat itu, kambing-kambing pun mulai bergerak mengikutinya dari belakang.

Ketika ia dan semua kambing berada di dalam kandang, Isterinya  yang pulang misa Nata, terheran-heran melihat suaminya.

” Pa apa yang kau lakukan dengan kambing-kambing itu? Ih, menjijikkan tahu?

“Ma, tadi pas Mama ke Gereja, kambing-kambing ini terlepas dari kandang dan masuk ke ruang tamu. Saya setengah mati mengusir dan membawa kembali ke kandang. Akhirnya aku menemukan ide. Saya berdandan seperti kambing, dan kemudian berjalan merangkak di depan mereka. Dan ternyata berhasil, mereka semua ini mengikuti aku sampai masuk ke kandang. Pintar to?

“Pa begitu pula  Yesus. Seperti bapa menjadi kambing, lalu kambing-kambing itu ikut berjalan menuju kadang, demikian Yesus datang ke dunia menjadi seperti manusia. Supaya dia depan dan kita dari belakang bersama-sama menuju kandang keselamatan.

 

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Demikianlah alasan mengapa aku datang ke dunia. Seperti yang dipikirkan si Bapa tadi, untuk menyelamatkan manusia, aku kan tinggal “stel”dari surga. Tetapi bagiku, tidak demikian. Untuk menyelamatkan manusia, aku terlebih dahulu menjadi sepeti manusia. Aku harus blusukan ke dunia, untuk mengalami situasi yang kalian alami; bagaimana menjadi manusia, suka dan duka, kebahagiaan dan kesusahan, manis dan pahit, sukacita dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Untuk menyelamatkan kamu semua, aku harus mengalami kehidupan kalian manusia, berada bersama kalian, sehingga kami menyebut aku Immanuel, “Allah yang tinggal beserta kita”

Inilah yang disebut para teolog dengan istilah Inkarnasi: Allah menjadi manusia, Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita manusia. Dengan kelahiran aku di dunia, yang selama ini penuh dengan dosa, kegelapan dan penderitaan, dikuduskan dan ditebus. Kelahiran aku, membawa Surga ke bumi, yang kemudian kamu selalu daraskan dalam doa Bapa Kami: Jadilah kehendakmu, di atas bumi seperti di dalam surga.

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Bacaan injil yang dibacakan oleh pastor tadi berkisah tentang saat-saat kelahiranku. Dan itu benar. Bukam dikarang-karang. Lukas menulis, bahwa aku dilahirkan bukan dari keluarga bangsawan, kaya raya dan orang berada. Aku tidak dilahirkan di sekitar Istana Herodes, atau di tengah keluarga dari kalangan pemuka agama di Yerusalem. Aku lahir di keluarga Mama Maria dan Bapa Yosef yang sederhana.

Kisah kelahiranku sangat dramatis. Waktu itu, Bapa dan Mama harus ke Betlehem, ke kampung halaman dari Bapa Yosef, untuk mengikuti sensus penduduk, sebagaimana diatur oleh pemerintahan Romawi saat itu. Perjalanan sangat jauh. Mama menunggang Keledai dan Bapa berjalan kaki sambil menuntun Keledai yang ditunggai mama Maria. Aku membayangkan begitu sulitnya perjalanan mereka berdua. Lapar, haus, letih dan lesu. Panas terik dan dinginnya hujan tentu mewarnai perjalanan pasangan muda tersebut.  Mama pasti menahan rasa sakit, karena aku dalam waktu dekat akan lahir. Di tengah situasi itu, Mama mungkin cemas dan ragu pula, jangan-jangan, Bapa Yosef, putus asa dan meninggalkan Mama di pinggir jalan, sebagaimana Bapa dulu berencana menceraikan mama diam-diam, karena malu dengan orang banyak. Tetapi, Bapa adalah orang yang tulus hati. Seandainya Bapa Yosef hidup pada zaman sekarang dan pandai menyanyi, mungkin sambil memandang wajah Mama di atas Keledai, ia bernyanyi: Jangan pernah kau ragukan, ketulusan hati ini, walau tak pernah aku berkata sayang, namun semua cintaku untukmu. Tak ingin diriku, berkata tentang janji, biarlah semua wajar dan biasa-biasa saja. Bagiku dirimu, di atas segalanya, yang ada di dalam kehidupan ini. Mendengar itu, mama juga tidak kalah. Mungkin dari atas Keledai, sambil menahan rasa sakit, ia  bernyanyi lembut: Aku masih di sini untuk setia. Romantis bukan? Wah, semoga keluarga-keluarga di Keuskupan Ruteng juga, di tengah kesulitan hidupnya,  tetap menjaga keromantisan.

 

Setiba di Betlehem, aku pun dilahirkan. Hanya Mama, dan Bapa sendiri yang membantu persalinan. Ditemani hewan ternak para gembala dan bintang-bintang malam yang bertaburan di langit. Sunyi. Sepi. Sendirian. Tak ada sanak saudara bapa yang tinggal di Betlehem datang menenami. Mereka bahkan tak punya tempat bagi kami untuk menginap. Untung Bapa Yosef menghabiskan masa kecilnya di Betlehem, dan sering bermain di padang gembala. Dia membawa Mama ke sebuah Gua, yang biasa dipakai oleh para gembala untuk kandang ternak. Sungguh sebuah peristiwa besar nan sukacita bagi kami sekeluarga, meski dialami dalam kesederhanaan dan serba keterbatasan.

Aku bersyukur dilahirkan di kandang ternak. Aku benar-benar mengalami kesukaran dan penderitaan hidup manusia, sejak aku dilahirkan. Aku mengambil bagian dalam kehidupan manusia, bukan sebagai seorang anak yang gagah perkasa, yang berkelimpahan dan penuh kemewahan, bukan sebagaai anak raja yang lahir di singgasana, tetapi sebagai bayi yang sedernana, dibungkus kain lampin dan dibaringkan di palungan, tempat makanan ternak.  Sejak awal aku mengalami kegalaun hidup sebagai manusia. Walaupun dalam rupa Allah, aku tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, aku telah merendahkan diri mula-mula di kandang hina dan sederhana.

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Aku bersyukur lahir di tengah keluarga yang miskin harta tetapi kaya akan cinta. Bapa dan mama yang tulus, jujur, apa adanya dan setia bertahan di tengah kesulitan dan keterbatasan hidup yang mereka alami. Aku juga berharap, malam ini, aku boleh lahir di tengah keluarga Bapa dan Mama di Keuskupan Ruteng, kota seribu gereja, yang umatnya memiliki iman yang teguh, harapan yang kuat dan cinta yang iklas. Yang serani sai, kontas bokak. Nggelok ranga, Nggeluk Nai. Aku ingin lahir di tengah keluarga Bapa dan mama di Keuskupan Ruteng, yang sederhana: saling menerima apa adanya, tidak paksa diri untuk memiliki harta dan kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Keluarga yang jujur tanpa  saling menyembunyikan, yang saling mengasihi tanpa kalkulasi, yang tidak cepat putus asa di tengah kesulitan hidup, yang setia pada janji perkawinan, tanpa tergoda pada rumput tetangga. Karena bukankah keluarga dipanggil pertama-tamap bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Situasi di Betlehem tidak memungkinkan bagi aku untuk lanjut menulis surat ini. Peluru-peluru berdesingan di langit Padang Efrata. Bom meledak di mana-mana. Tangisan dan teriakan anak-anak terdengar di seluruh penjuru. Situasi politik sedang tidak baik-baiknya antara Israel dan Palestina. Aku tahu situasi politik di Indonesia, juga di Ruteng beberapa bulan ke depan akan semakin panas. Semoga tidak terjadi pergolakan dan pertumpahan darah. Hargailah perbedaan pilihan politik. Ingat pesan orang tua kalian di Manggarai: pemilu itu sekali lima tahun. Keluarga itu selama-lamanya. Politik hitu salang tuak, keluarga agu ase kae, saleng wae teku tedeng.


Akhirnya, balaslah suratku, melalui cara hidup dan kesaksian imanmu setiap hari. Mendung menanti hujan, rindu menanti balasan. 4 x 4 enambelas. Sempat tak sempat harap dibalas.

Aku yang selalu merindukanmu.

Yesus, anak Daud.

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar