“Terasa getaran dalam
dada. Ya, mirip dengan syair lagu “Inikah Cinta”nya ME, grup music 90-an. Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Di mana ada perjumpaan di situ ada getaran Cinta.
Hal itu nyata dalam perayaan Ulang Tahun Paroki Kristus Raja Pagal. Anak dan
Orang tua “berjumpa: karena dan untuk cinta di medan permainan”.
*Yuliana S. Matur/Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng
![]() |
| Potret Anak-anak SEKAMI Paroki Kristus Raja Pagal bersama Pastor Paroki, Pastor Kapelan, DPP dan Para Pendamping SEKAMI (Riani Matur) |
Tidak
seperti minggu-minggu yang lain, di mana anak Sekami Paroki Pagal berkegiatan
di ruangan yang biasa mereka gunakan untuk bermain, berdoa, bercerita dan
bernyanyi bersama. Hari ini beda. Mereka berbondong-bondong menuju halaman SDK Pagal
I, tak menggubris mendung menaungi kota kecil mereka yang dingin dan sejuk ini.
Karena, mendung tak berarti hujan, bukan? Tak cuma itu. Yang bikin beda lagi,
adalah tidak hanya anak-anak. Kedua orang tua pun turut hadir, menenteng botol
minuman, memegang snack, bahkan memikul “ransel kecil Hello Kitty. Tidak ada rasa malu. Semuanya untuk anak! Siapa repot?
***

Pater Abba,OFM (Riani Matur)

Benar apa yang sampaikan Pater Abba. Perayaan Gerejani, termasuk Ulang Tahun Paroki, hendaknya tidak saja diisi dengan syukuran, “makan-makan” dan “goyang-goyang”. Perayaaan gerjani dan acara-acara di Paroki juga mesti melibatkan anak, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam seluruh kegiatan. Mereka diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya masing-masing.
Mengisi waktu untuk kerja-kerja kreatif dan mengembangkan kreativitas sesuai bakat masing-masing bagi anak, tentu bukan hal yang mudah saat ini. Pelan tapi pasti, ruang dan waktu anak untuk bermain dan bersosialisasi semakin sempit dan berkurang. Ketika halaman kampung semakin dipenuhi oleh infrastruktur dan perumahan yang padat, demikian halaman rumah oleh garasi serta bangunan lainnya, anak-anak akhirnya terkurung dalam rumah.
Anak-anak
saat ini tak luput dari paparan teknologi digital. Saban hari, anak bergaul
dengan game-game di Gadget-nya. Tak menggubris dunia di
sekeliling; orang tua, teman-teman, bahkan tugas-tugas sekolah yang semestinya
mereka kerjakan. Melek digital itu
baik. Menjadi tidak baik, kalau sebagian besar waktu anak “dipenuhi” dan
“dipapar” dengan aplikasi dan informasi dari internet. Bukankah aktivitas dan
gerak fisik itu juga diperlukan dan bahkan penting?
Bermain
memiliki fungsi dan manfaat bagi anak, yaitu dapat mengasah keterampilan fisik,
kreativitas, kepribadian, serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan
dalam diri anak. Selain itu dengan bermain dapat menstimulasi indera anak dan
menjadi sarana untuk dapat mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Kesadaran
itulah yang menggerakan Pendamping Sekami, OMK Paroki dan Pastor Paroki Kristus
Raja Pagal untuk merancang Perayaaan Hari Ulang Tahun Paroki Pagal yang ke-84
dengan kegiatan-kegiatan anak. Perayaan ulang tahun yang dilaksanakan pada
setiap Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini diselenggarakan selama dua
hari, 25-26 November 2023.
***
“Anak-anak
perlu belajar mencintai lingkungan” kata Peter Unggas, Pendamping Sekami
sekaligus Ketua OMK Paroki Pagal. ” Mungkin kita tidak harus ajak mereka naik
ke bukit untuk menanam pohon atau penghijauan di mata air. Membersihkan
lingkungan dengan gerakan memungut sampah adalah pembelajaran praktis bagi mereka
untuk mencintai lingkungan” tambahnya.
Sabtu,
25 November 2025, Anak-anak Sekami bersama OMK memenuhi jalanan, halaman rumah
dan lingkungan gereja. Tak cuma bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang
bersih, aksi pungut sampah yang dilakukan oleh anak-anak dan orang muda ini
juga merupakan bentuk promosi.Secara tidak langsung mereka ingin mengajak orang
tua dan kaum dewasa untuk mengupayakan lingkungan yang bersih dan sehat.
***
Minggu,
26 November 2023. Anak-anak bersukaria dan bergembira ria. Mereka menikmati
setiap permainan dengan penuh sukacita. Gelak tawa tak tertahan sepanjang
permainan. Sukacita yang asli, tanpa kepalsuan, tanpa dibuat-buat. Juga ada
saat di mana wajah-anak tampak serius dan tegang. Sekalipun lebih mengedepankan
unsur hiburan, tetapi semangat kompetitif untuk menjadi pemenang juga tak bisa
dipungkiri dari jiwa kehidupan anak-anak.
Anak-anak
juga dilatih kekompakaan dan kerja-sama melalaui lomba Estafet air. Mereka duduk
berkelompok. Setiap kelompok berbaris duduk, air yang telah dituang didalam baskom
diberikan ke anggota kelompok tanpa berbalik badan dan memberikannya melawati
atas kepala, air tidak boleh sampai jatuh. Selanjutnya, peserta yang berada di
paling belakang akan menerima air dan berlari ke depan untuk disimpan.
“Lomba ini melatih kami untuk kompak, harus cepat dan bisa bekerja sama.” Kata Juan, anggota Sekami Paroki Pagal.
***
Orang-tua tak berpangku tangan. Tak henti-hentinya mereka bersorak sepanjang permainan. Anak mana yang tidak bangga melihat kedua orang tua hadir, dan mau “bermain bersama”. Kedua orang tua hadir memberikan apresiasi. Yang menang dipeluk-peluk. Yang kalah ditepuk-tepuk. Dukungan orang tua dalam setiap kegiatan yang diminati dapat mendorong setiap anak untuk lebih percaya diri dan berani berkompetisi.
***
Perayaan Ulang Tahun Paroki Pagal berlangsung sehari, bahkan tidak sampai setengah sehari pula. Tetapi sukacita dan kegembiraannya terbawa terus dalam cerita-cerita di meja makan keluarga, teristimewa di ruang ingatan dan kenangan anak-anak.
Kegiatan
Anak dan Orang-tua yang diselenggarakan oleh Tim Pastoral Anak Paroki Pagal ini
adalah implementasi Program Paroki Ramah Anak. Paroki Pagal, dalam upaya
menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan, pemenuhan Hak anak
serta perlindungan anak, mendapat dukungan dari Tim Pastoral Anak Keuskupan
Ruteng, dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia.
***
Gereja
Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR, berkomitmen untuk menjadi tempat
yang aman bagi anak-anak. Untuk itu, gereja mesti memiliki kebijakan dan program
yang menjawab kebutuhan dan situasi anak, mendukung dan terlibat dalam
kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan finansial. Gereja juga mengusahakan
agar Lingkungan dan Komunitas Basis Gerjani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk
bertumbuh, berpartisipasi dan mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen
Sinode III KR,166-174)
Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan masyarakat serta turut serta, sebagai pelopor dan pelapor, menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *






0 komentar:
Posting Komentar