Just another free Blogger theme

Senin, 25 Desember 2023

 

*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia


Sumber Gambar: Pinterest

Umat Katolik memasuki pekan ketiga masa Adven. Minggu Adven Ketiga ini disebut juga minggu Gaudete, yang berarti bersukacitalah. Kata sifat “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Tuhan menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.

Minggu ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan matiraga itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita. Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan, untuk mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan tantangan hanya jika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak 5:7-10)

Bersukacitalah!

Lampu-lampu menghiasi jalan-jalan. Kandang Natal berdiri hampir di setiap kamar tamu. Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang sedang mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran Kristus. Apakah itu pertanda Sukacita?

Pusat perbelanjaan ramai dikunjungi. Manusia berjubel, antri dan berdesakan. Lagu Natal dari toko musik seolah mengiringi wajah-wajah ceria yang ingin tampil sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru, gaun yang bagus, sepatu, arloji, dandanan dan assesoris lainnya. Kurir paket pun keluar-masuk gang. Rupanya angka pembelian di OLShop pun terus meningkat pada pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Apakah ini petanda Sukacita?

Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan” dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan” duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks ini adalah ungkapan yang cocok.

Sukacita lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”. Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap, abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.

Sekalipun kita sedih karena masalah duniawi, kita akan tetap bersukacita dalam Allah  (2Kor 6:10). Mungkinkah itu? Masihkah kita bersukacita di tengah penderitaan yang terus melanda dunia dan kehidupan kita masing-masing; pembantaian, bencana, teror, kerusuhan, kelaparan dan kekeringan?Haruskah kita menipu diri untuk tidak meneteskan air mata di tengah situasi kehilangan- kehilangan yang dialami, rasa sakit dan beban hidup yang tak kunjung beranjak pergi? Kepada Paulus, si pemilik surat ini, kita mungkin berkata: Ah Paul, Anda pandai bicara, tetapi belum tentu bisa melakukan apa yang anda katakan”.

Paulus menulis surat kepada Jemaat di Tesalonika ketika dia masih dalam Penjara. Tidakkah ia sedang frustrasi mendekam di dalam penjaran, dan takut akan hukuman yang lebih besar bakal menantinya? Lantas bagaimana ia bisa bersukacita di tengah situasi tersebut?

Paulus punya alasan untuk tetap bersukacita sekalipun ia sedang di dalam penjara. Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus lebih menekankan sebuah sukacita di dalam Tuhan. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Fil 4:4). Bersukacita di dalam Tuhan adalah kebahagiaan yang lahir dari hubungan dan persekutuan dengan Tuhan yang menyelamatkan. Sebuah keselamatan yang terjadi karena kita diangkat menjadi Anak Allah dan dicintai, hingga mengorbankan diriNya di kayu salib.

Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang menderita. Allah yang solider dengan penderitaan kita manusia. Dalam misi penebusanNya itu, Ia merangkul semua penderitaan dan mengalami dan mengalami penderitaaann kita. Bahkan, Ia menjalani penderitaan yang lebih tragis dari penderitaan-penderitaan kita.

ketika engkau sedang mengalami masalah, dan kau ceritakan masalah itu dengan temanmu, kadang-kadang itu sucah cukup bagimu. Engkau merasa lega dan bersukacita karena ada orang yang “menyediakan”telinganya mendengar cerita-ceritamu”, apalagi kalau dia mau membantumu mengatasi masalah yang kau alami”

Kalau si pendengar cerita kau anggap “penyelamat”, apalagi Dia yang bahkan mengorbankan nyawanya demi keselamatan jiwamu”. Bukankah engkau justru lebih bersukacita?

Menanti dengan Sukacita

Paulus mengingatkan Jemaat di Filipi untuk senantitasa bersukacita karena Tuhan sudah dekat (Fil 4:5). Seperti menunggu kelahiran sang buah hati, orang tua pasti menanti dengan penuh sukacita. Tak ada orang tua yang duduk di ruang persalinan dengan hati yang sedih, takut dan cemas. Ia pasti menghitung waktu dengan wajah yang sumringah, meski sedikit deg-degan. Inilah yang disebut pengharapan.

Orang yang memiliki harapan dan optimis akan selalu bersukacita. Ia selalu yakin akan ada terang setelah gelap, akan ada pagi setelah malam, akan ada sukaciita setelahg dukacita, akan ada surga setelah Golgota. Sebaliknya, orang yang tidak punya harapan, akan selalu memiliki pandangan negatif tentang apapun. Ia mengawali dan mengakhiri harinya dengan berpikir: masalah. Ia akan selalu merasa tidak bisa, merasa gagal, dan tak berharga.

Menanti kedatangan Tuhan mengajar kita untuk memupuk harapan-harapan dalam hidup. Agar hidup senantiasa penuh harapan dan sukacita, Paulus mengajak kita sekalian untuk  tekun dalam doa dan senantiasa mengucapkan syukur. Selalu bersyukur atas apapun yang kita alami setiap hari.

 

Di sinilah kita belajar dari pribadi seorang anak. Anak-anak selalu bersukacita dalam hidup. Bukan karena mereka tidak memiliki “masalah” tetapi karena mereka lebih fokus pada hal-hal baik dalam hidupnya; bermain dan bertemu dengan teman-teman. Mereka selalu bersukacita, karena sangat yakin, akan selalu ada orang tua yang menjadi tempat perlindungan yang nyaman dan aman ketika mereka mengalami masalah. Anak-anak mengajari kita untuk optimis, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapi tantangan hidup, serta senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Itulah kunci Sukacita! *

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar