*RD. Benediktus Gaguk
Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia
![]() |
| Sumber Gambar: Pinterest |
Umat
Katolik memasuki pekan ketiga masa Adven. Minggu Adven Ketiga ini disebut juga
minggu Gaudete, yang berarti
bersukacitalah. Kata sifat “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan
pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi
kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Tuhan
menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa
pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.
Minggu
ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung
selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan
matiraga itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat
bersukacita. Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan
segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka
perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan, untuk
mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan
tantangan hanya jika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak
5:7-10)
Bersukacitalah!
Lampu-lampu
menghiasi jalan-jalan. Kandang Natal berdiri hampir di setiap kamar tamu.
Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang sedang
mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan
dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran
Kristus. Apakah itu pertanda Sukacita?
Pusat
perbelanjaan ramai dikunjungi. Manusia berjubel, antri dan berdesakan. Lagu
Natal dari toko musik seolah mengiringi wajah-wajah ceria yang ingin tampil
sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru, gaun yang bagus, sepatu, arloji,
dandanan dan assesoris lainnya. Kurir paket pun keluar-masuk gang. Rupanya
angka pembelian di OLShop pun terus
meningkat pada pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Apakah ini petanda Sukacita?
Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat
duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan”
dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan”
duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak
bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks
ini adalah ungkapan yang cocok.
Sukacita
lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”.
Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya
dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap,
abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.
Sekalipun
kita sedih karena masalah duniawi, kita akan tetap bersukacita dalam Allah (2Kor 6:10). Mungkinkah itu? Masihkah kita
bersukacita di tengah penderitaan yang terus melanda dunia dan kehidupan kita
masing-masing; pembantaian, bencana, teror, kerusuhan, kelaparan dan
kekeringan?Haruskah kita menipu diri untuk tidak meneteskan air mata di tengah
situasi kehilangan- kehilangan yang dialami, rasa sakit dan beban hidup yang
tak kunjung beranjak pergi? Kepada Paulus, si pemilik surat ini, kita mungkin
berkata: Ah Paul, Anda pandai bicara,
tetapi belum tentu bisa melakukan apa yang anda katakan”.
Paulus
menulis surat kepada Jemaat di Tesalonika ketika dia masih dalam Penjara.
Tidakkah ia sedang frustrasi mendekam di dalam penjaran, dan takut akan hukuman
yang lebih besar bakal menantinya? Lantas bagaimana ia bisa bersukacita di
tengah situasi tersebut?
Paulus
punya alasan untuk tetap bersukacita sekalipun ia sedang di dalam penjara. Dalam
suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus lebih menekankan sebuah sukacita di dalam Tuhan. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali
lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Fil 4:4). Bersukacita di dalam Tuhan adalah
kebahagiaan yang lahir dari hubungan dan persekutuan dengan Tuhan yang
menyelamatkan. Sebuah keselamatan yang terjadi karena kita diangkat menjadi
Anak Allah dan dicintai, hingga mengorbankan diriNya di kayu salib.
Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang
menderita. Allah yang solider dengan penderitaan kita manusia. Dalam misi
penebusanNya itu, Ia merangkul semua penderitaan dan mengalami dan mengalami
penderitaaann kita. Bahkan, Ia menjalani penderitaan yang lebih tragis dari
penderitaan-penderitaan kita.
“ketika
engkau sedang mengalami masalah, dan kau ceritakan masalah itu dengan temanmu,
kadang-kadang itu sucah cukup bagimu. Engkau merasa lega dan bersukacita karena
ada orang yang “menyediakan”telinganya mendengar cerita-ceritamu”, apalagi
kalau dia mau membantumu mengatasi masalah yang kau alami”
Kalau si pendengar cerita kau anggap
“penyelamat”, apalagi Dia yang bahkan mengorbankan nyawanya demi keselamatan
jiwamu”. Bukankah engkau justru lebih bersukacita?
Menanti dengan Sukacita
Paulus mengingatkan Jemaat di Filipi untuk
senantitasa bersukacita karena Tuhan sudah dekat (Fil 4:5). Seperti menunggu
kelahiran sang buah hati, orang tua pasti menanti dengan penuh sukacita. Tak
ada orang tua yang duduk di ruang persalinan dengan hati yang sedih, takut dan
cemas. Ia pasti menghitung waktu dengan wajah yang sumringah, meski sedikit
deg-degan. Inilah yang disebut pengharapan.
Orang yang memiliki harapan dan optimis akan
selalu bersukacita. Ia selalu yakin akan ada terang setelah gelap, akan ada
pagi setelah malam, akan ada sukaciita setelahg dukacita, akan ada surga
setelah Golgota. Sebaliknya, orang yang tidak punya harapan, akan selalu
memiliki pandangan negatif tentang apapun. Ia mengawali dan mengakhiri harinya
dengan berpikir: masalah. Ia akan
selalu merasa tidak bisa, merasa gagal, dan tak berharga.
Menanti kedatangan Tuhan mengajar kita untuk
memupuk harapan-harapan dalam hidup. Agar hidup senantiasa penuh harapan dan
sukacita, Paulus mengajak kita sekalian untuk tekun dalam doa dan senantiasa mengucapkan
syukur. Selalu bersyukur atas apapun yang kita alami setiap hari.
Di sinilah kita belajar dari pribadi seorang
anak. Anak-anak selalu bersukacita dalam hidup. Bukan karena mereka tidak
memiliki “masalah” tetapi karena mereka lebih fokus pada hal-hal baik dalam
hidupnya; bermain dan bertemu dengan teman-teman. Mereka selalu bersukacita,
karena sangat yakin, akan selalu ada orang tua yang menjadi tempat perlindungan
yang nyaman dan aman ketika mereka mengalami masalah. Anak-anak mengajari kita
untuk optimis, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapi tantangan
hidup, serta senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Itulah kunci
Sukacita! *
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar