*RD. Benediktus Gaguk
Manager Kemitraan
Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.
![]() |
| Sumber Gambar: Pinterest |
Kita memasuki Pekan Kedua Masa Advent. Kita
memalingkan wajah dan mengarahkan pikiran pada Yohanes Pembaptis, salah satu
tokoh penting yang menjadi figur sentral di masa penantian ini. Yohanes adalah
utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Penebus. Diwartakannya
pertobatan sebagai kesempatan untuk meluruskan segala yang lekak-lekuk dan
bengkok-bangkok, baik yang terungkap dalam perkataan mauapun yang nyata dalam
perbuatan dan kelalaian. Misi Yohanes bertujuan agar semua orang mengalami
sukacita dan keselamatan Kerajaan Allah yang tampak nyata dalam diri Yesus, Sang
Almasih.
Yohanes
Pembaptis dan tugas Perutusannya.
Markus 1:1-8 mengajak kita untuk mengenal pribadi dan karakter Yohanes dalam hubungan dengan
tugas dan pelayanannya yang mulia itu.
Yohanes adalah seorang utusan. Kitab Yesaya,
sebagaimana dikutip oleh Markus, menyerukan:
“Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau. Ia
akan mempersiapkan jalan bagiMu. (Mrk 1: 2)”
Yohanes tahu bahwa ia adalah utusan. Seorang utusan
bertugas menyiapkan segala sesuatu bagi kedatangan sesorang yang lebih penting.
Ia datang memberikan informasi sedetail mungkin, melakukan
percakapan-percakapan dan negosiasi dengan mereka yang akan “dikunjung”, dan
memastikan bahwa tidak ada aral merintang dan gangguan-gangguan yang
menghalangi “datangnya” seseorang yang dinantikan.
Secara kasat mata, hal ini dapat kita lihat dalam
pengalaman konkret. Kedatangan seorang tamu pemerintah, Presiden, misalnya,
pasti didahului utusan Staf Istana dan
Kepresidenan, Kementrian, tak ketinggalan pasukan pengawal yang “siap berani
mati” mempersiapkan dan mengawal kedatangan sang pemimpin. Mereka akan
membereskan banyak hal, seperti infrastruktur, sumber daya, dan kepastian keamananan bagi “Orang
Penting”. Tetapi perhatikan pada saat hari “H”. Semua mereka itu tidak tampak.
Yang menjadi fokus utama kamera adalah Sang Presiden. Yang dieluk-elukan orang
sepanjang jalan, adalah dia yang duduk di mobil RI 1.
Sebagai seorang utusan, Yohanes menyadari bahwa tugas
itu tidak mudah dan penuh risiko. Ia harus meninggalkan kenyamanan hidup dalam
belaian kasih-sayang Zakharia dan Elisabet. Yohanes pastilah anak yang sangat
dimanjakan. Ia anak tunggal yang kelahirannya sangat dinantikan. Pasangan lansia, Elisabeth-Zakharia menjaga sang anak dengan penuh kasih,
mengkhawatirkan dia, dan tak ingin jauh darinya.
Yohanes memilih pergi. Ia meninggalkan kenyamanan
rumah dan kehangatan kampung halamannya. Ia pergi ke padang gurun, tempat yang
sangat tidak “ramah” untuk dihidupi. Alam yang gersang, kering nan tandus,
ancaman binatang liar adalah situasi riil padang gurun. Belum lagi kesunyiaan
dan kesendirian yang mencekam.
Yohanes berada dalam dua pergulatan. Di satu sisi, dia
harus “sibuk” menaklukkan “padang gurun; mengolah
situasi-situasi sulit yang dia hadapi di gurun gersang. Di sisi lain, dia
menjalankan misi utamanya,menyerukan
pertobatan.
“Siapkan
jalan bagi Tuhan. Luruskan jalan baginya. Bertobatlah dan berilah dirimu
dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4)
Lebih lanjut, Yohanes sadar bahwa warta pertobatan
tidak akan “berdaya sengat” jika hanya terungkap dalam kata-kata, dan terbatas
pada seruan-seruaan. Tak hanya hati dan batin yang “dibereskan” melalui
“ret-ret panjangnya” pada keheningan padang Gurun, warta pertobatan Yohanes
tampak nyata dalam sikap hidupnya, keugaharian, kesederhanaannya. Keheningan
panjang di padang gurun, saat ia berkanjang dalam perjumpaan dengan Allah yang
mengutusnya, membentuk karakternya, dan melahirkan pribadi Yohanes yang “apa
adanya”. Daya-ubah pewartaan bukan sebatas pada kata-kata, tetapi pada
kesaksian hidup, pola prilaku, dan tindakan nyata. Bukanlah 1 tindakan lebih
berharga, daripada 1000 kata-kata:
Tulis Markus, “Yohanes memakai jubah buluh unta dan
ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan” (Mrk 1:6)
Belum sempat
mendengar, melihat tampangnya saja orang bisa saja bertobat terlebih dahulu!
Tentu bukan karena takut, tapi kagum dengan “aura” kenabiannya.
Bayangkan saja kalau Yohanes menyerukan perobatan dengan penampilan begini: Riben gelap, arloji mahal, smartphone mahal di saku kiri-kanan, berpakaian mahal-stylish.
Belum sempat
mendengar, melihat tampangnya saja orang lari terbiri-birit! Bukan karena
takut, tetapi muak dengan “tampang” kenabiannya.
***
Kita semua utusan. Kita diutus untuk menciptakan dunia
yang menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita pun diutus untuk memperbaiki
yang rusak, meluruskan yang bengkok-bangkok, meratakan yang lekak-lekuk. Untuk itu, yang pertama, kita diutus “merenovasi”
diri kita sendiri. Sebab perubahan selalu mulai dari diri sendiri; merubah
tutur kata, menata pola prilaku serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Anak-Anak dan
Persiapan-persiapan Kita!
Ketika Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan
kedatangan Sang Penebus, lantas untuk siapakah persiapan-persiapan “kecil”
kita?
Tidak bermaskud menyamakan secara langsung antara “Yesus
dan anak-anak”, dalam perspektif pastoral anak, tugas kita adalah mempersiapkan
anak-anak kita untuk bertumbuh secara spiritual dan jasmaniah agar mereka memiliki
masa kini dan masa depan yang cerah. Tugas yang luhur dan mulia ini pertama dan
paling utama ada di dalam keluarga. Orang tua diajak untuk menciptakan
lingkungan yang layak agar anak-anak bertumbuh dengan baik, hak-hak anaknya
terpenuhi serta mendapat perlindungan dari kekerasan. Untuk itu, orang tua
mesti menggembangkan dan menghidupi pola pengasuhan dengan cinta.
Salah satu hak anak yang mesti dipenuhi adalah Hak Tumbuh
Kembang. Orang tua tentu ingin agar anaknya bertumbuh dan berkembang dengan
sehat dan optimal. Pertumbuhan fisik yang sehat akan berdampak pada kualitas
pribadi anak di masa mendatang. Jika orang tua bermimpi agar anaknya menjadi
generasi emas, maka perlu persiapan-persiapan yang konkret. Hal itu tidak lain
dengan memberikan asupan gizi seimbang, memastikan kondisi kesehatannya dengan
posyandu, misalnya, serta investasi “dana” keluarga yang cukup bagi kualitas
hidup anak. Seperti Yohanes, orang tua mesti mau “disibukkan” dengan
pekerjan-pekerjaan “sukar” sebagai persiapan hadirnya “generasi emas’ di tengah
keluarga dan masyarakat.
Stunting adalah fakta kealpaaan orang tua dalam
mengurus anak dengan penuh tanggungjawab. Stunting adalah bentuk dari
“pengabaiaan” orang tua terhadap ketersediaan gizi dan tumbuh-kembang anak. Bukannya
orang tua kita “miskin” untuk memberikan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi
lebih ke pola asuh, pola kasih, pola pikir untuk menentukan skala prioritas.
Misalnya, yang lazim terjadi di wilayah kita. Ketika di kandang ada ayam
peliharaan, akan “dipotong” jika ada tamu yang datang, ketimbang untuk dikonsumsi
oleh anak-anak. Apalagi yang datang adalah tamu terhormat, sepeti tokoh
pemerintah, pastor atau anak rona (saudara
dari pihak Ibu).
Dalam konteks ini, ada yang bilang, yang stunting itu
bukan anaknya. Tetapi orang tua-nya. Sabda ini keras! Tapi ya, memang begitu.
Gereja
Keuskupan Ruteng dan Pastoral Anak.
Gereja Keuskupan Ruteng sendiri menyadari tugas dan
perannya dalam proses tumbuh-kembang anak yang holistik-integral, baik untuk
“hidup mereka saat ini” maupun sebagai persiapan lahirnya generasi yang beriman
dan berkualitas di masa mendatang.
![]() |
| Sumber Gambar : Pinterest |
Dokumen Sinode III Keuskupan Ruteng menulis: “Anak-anak
mendapat tempat istimewa dalam hati Yesus. Bagi-Nya mereka bukanlah pengganggu
dan pengusik atau mahkluk kecil yang tak terlalu penting. Sebaliknya dalam
kekecilan dan kekosongan, anak-anak sungguh terbuka bagi kehadiran Allah.
Bahkan merekalah menurut Yesus yang menjadi pemilik Kerajaan Allah (Mrk.
10:14). Martabat anak-anak sungguh agung dan luhur di mata Yesus. Karena itulah
Yesus ingin menjalin relasi istimewa dengan anak-anak. Ia ingin agar anak-anak
datang kepada-Nya. Ia ingin menjamah mereka dan membiarkan diri dijamah oleh
mereka (Mrk. 10:13-14). Yesus ingin agar anak-anak menemukan dalam diri-Nya
seorang sahabat dan teman yang sejati.”
(hal.170)
Selanjutnya, Sinode menegaskan ”Anak-anak
mesti diperlakukan secara serius dan tidak diremehkan, sebab dalam diri
anak-anak, Allah sendiri hadir. Bahkan anak-anak memiliki penghubung di Surga yang selalu
menghantar sukacita dan jeritan kerinduan mereka di hadirat Allah. “Ingatlah,
jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata
kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang
di sorga (Mat. 18:10).(Hal.171)
Lebih
lanjut, Yesus mengajak para muridnya untuk memperlakukan anak-anak dengan penuh
kasih seperti yang dibuat-Nya sendiri. Ia memberi para murid-Nya peran dan
fungsi pedagogi iman bagi anak-anak. Mereka hendaknya membimbing anak-anak
dalam kebenaran dan keadilan. Sebaliknya “barangsiapa menyesatkan salah satu
dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah
batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”
(Mat. 18:6).
Melalui
pelayanan pastoral terhadap anak-anak, Gereja belajar untuk rendah hati dan
menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Gereja dapat belajar untuk
bertobat, dengan menerima anak kecil sebagai tanda kehadiran Kristus (Mat.
18:2-5; Mrk. 9:36-37; Luk. 9:48).
Gereja Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR,
berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Gereja hendaknya
memiliki kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan dan situasi anak,
mendukung dan terlibat dalam kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan
finansial. Gereja juga mengusahakan agar lingkungan dan Komunitas Basis
Gerejani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, berpartisipasi dan
mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen
Sinode III KR,166-174)
Salah satu bentuk tindak-lanjut SInode adalah
dibentuknya Tim Pastoral Anak (TPA), yang mengembangkan Program Paroki Ramah
Anak. Program yang dilaksanakan dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia
(WVI) ini bertujuan agar Gereja, khususnya Paroki menjadi lingkungan spiritual,
etik, fisik dan sosial yang menciptakan kesejahteraan anak, di mana hak dasar
anak terpenuhi dan anak-anak dilindungi dari kekerasan. Oleh karena itu TPA
Keuskupan Ruteng berperan untuk meningkatkan kapasitas Paroki agar mampu
menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak secara integral dan holistik.
Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya
terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja
dan masyarakat serta turut serta, sebagai pelopor dan pelapor, menciptakan
lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *

%20best%20friends%20with%20Jesus.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar