Just another free Blogger theme

Sabtu, 09 Desember 2023

 

*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.

Sumber Gambar: Pinterest

Kita memasuki Pekan Kedua Masa Advent. Kita memalingkan wajah dan mengarahkan pikiran pada Yohanes Pembaptis, salah satu tokoh penting yang menjadi figur sentral di masa penantian ini. Yohanes adalah utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Penebus. Diwartakannya pertobatan sebagai kesempatan untuk meluruskan segala yang lekak-lekuk dan bengkok-bangkok, baik yang terungkap dalam perkataan mauapun yang nyata dalam perbuatan dan kelalaian. Misi Yohanes bertujuan agar semua orang mengalami sukacita dan keselamatan Kerajaan Allah yang tampak nyata dalam diri Yesus, Sang Almasih. 

Yohanes Pembaptis dan tugas Perutusannya.

Markus 1:1-8 mengajak kita untuk mengenal pribadi dan karakter Yohanes dalam hubungan dengan tugas dan pelayanannya yang mulia itu.

Yohanes adalah seorang utusan. Kitab Yesaya, sebagaimana dikutip oleh Markus, menyerukan:

“Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau. Ia akan mempersiapkan jalan bagiMu. (Mrk 1: 2)”

Yohanes tahu bahwa ia adalah utusan. Seorang utusan bertugas menyiapkan segala sesuatu bagi kedatangan sesorang yang lebih penting. Ia datang memberikan informasi sedetail mungkin, melakukan percakapan-percakapan dan negosiasi dengan mereka yang akan “dikunjung”, dan memastikan bahwa tidak ada aral merintang dan gangguan-gangguan yang menghalangi “datangnya” seseorang yang dinantikan.

Secara kasat mata, hal ini dapat kita lihat dalam pengalaman konkret. Kedatangan seorang tamu pemerintah, Presiden, misalnya, pasti didahului utusan Staf Istana dan Kepresidenan, Kementrian, tak ketinggalan pasukan pengawal yang “siap berani mati” mempersiapkan dan mengawal kedatangan sang pemimpin. Mereka akan membereskan banyak hal, seperti infrastruktur, sumber daya, dan kepastian keamananan bagi “Orang Penting”. Tetapi perhatikan pada saat hari “H”. Semua mereka itu tidak tampak. Yang menjadi fokus utama kamera adalah Sang Presiden. Yang dieluk-elukan orang sepanjang jalan, adalah dia yang duduk di mobil RI 1.

Sebagai seorang utusan, Yohanes menyadari bahwa tugas itu tidak mudah dan penuh risiko. Ia harus meninggalkan kenyamanan hidup dalam belaian kasih-sayang Zakharia dan Elisabet. Yohanes pastilah anak yang sangat dimanjakan. Ia anak tunggal yang kelahirannya sangat dinantikan. Pasangan lansia, Elisabeth-Zakharia menjaga sang anak dengan penuh kasih, mengkhawatirkan dia, dan tak ingin jauh darinya.

Yohanes memilih pergi. Ia meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan kampung halamannya. Ia pergi ke padang gurun, tempat yang sangat tidak “ramah” untuk dihidupi. Alam yang gersang, kering nan tandus, ancaman binatang liar adalah situasi riil padang gurun. Belum lagi kesunyiaan dan kesendirian yang mencekam.

Yohanes berada dalam dua pergulatan. Di satu sisi, dia harus “sibuk” menaklukkan “padang gurun; mengolah situasi-situasi sulit yang dia hadapi di gurun gersang. Di sisi lain, dia menjalankan misi utamanya,menyerukan pertobatan.

“Siapkan jalan bagi Tuhan. Luruskan jalan baginya. Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4)

Lebih lanjut, Yohanes sadar bahwa warta pertobatan tidak akan “berdaya sengat” jika hanya terungkap dalam kata-kata, dan terbatas pada seruan-seruaan. Tak hanya hati dan batin yang “dibereskan” melalui “ret-ret panjangnya” pada keheningan padang Gurun, warta pertobatan Yohanes tampak nyata dalam sikap hidupnya, keugaharian, kesederhanaannya. Keheningan panjang di padang gurun, saat ia berkanjang dalam perjumpaan dengan Allah yang mengutusnya, membentuk karakternya, dan melahirkan pribadi Yohanes yang “apa adanya”. Daya-ubah pewartaan bukan sebatas pada kata-kata, tetapi pada kesaksian hidup, pola prilaku, dan tindakan nyata. Bukanlah 1 tindakan lebih berharga, daripada 1000 kata-kata:

Tulis Markus, “Yohanes memakai jubah buluh unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan” (Mrk 1:6)

Belum sempat mendengar, melihat tampangnya saja orang bisa saja bertobat terlebih dahulu! Tentu bukan karena takut, tapi kagum dengan “aura” kenabiannya.

Bayangkan saja kalau Yohanes menyerukan perobatan dengan penampilan begini: Riben gelap, arloji mahal, smartphone mahal di saku kiri-kanan, berpakaian mahal-stylish.

Belum sempat mendengar, melihat tampangnya saja orang lari terbiri-birit! Bukan karena takut, tetapi muak dengan “tampang” kenabiannya.

***

Kita semua utusan. Kita diutus untuk menciptakan dunia yang menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita pun diutus untuk memperbaiki yang rusak, meluruskan yang bengkok-bangkok, meratakan yang lekak-lekuk. Untuk itu, yang pertama, kita diutus “merenovasi” diri kita sendiri. Sebab perubahan selalu mulai dari diri sendiri; merubah tutur kata, menata pola prilaku serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Anak-Anak dan Persiapan-persiapan Kita!

Ketika Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan kedatangan Sang Penebus, lantas untuk siapakah persiapan-persiapan “kecil” kita?

Tidak bermaskud menyamakan secara langsung antara “Yesus dan anak-anak”, dalam perspektif pastoral anak, tugas kita adalah mempersiapkan anak-anak kita untuk bertumbuh secara spiritual dan jasmaniah agar mereka memiliki masa kini dan masa depan yang cerah. Tugas yang luhur dan mulia ini pertama dan paling utama ada di dalam keluarga. Orang tua diajak untuk menciptakan lingkungan yang layak agar anak-anak bertumbuh dengan baik, hak-hak anaknya terpenuhi serta mendapat perlindungan dari kekerasan. Untuk itu, orang tua mesti menggembangkan dan menghidupi pola pengasuhan dengan cinta.

Salah satu hak anak yang mesti dipenuhi adalah Hak Tumbuh Kembang. Orang tua tentu ingin agar anaknya bertumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal. Pertumbuhan fisik yang sehat akan berdampak pada kualitas pribadi anak di masa mendatang. Jika orang tua bermimpi agar anaknya menjadi generasi emas, maka perlu persiapan-persiapan yang konkret. Hal itu tidak lain dengan memberikan asupan gizi seimbang, memastikan kondisi kesehatannya dengan posyandu, misalnya, serta investasi “dana” keluarga yang cukup bagi kualitas hidup anak. Seperti Yohanes, orang tua mesti mau “disibukkan” dengan pekerjan-pekerjaan “sukar” sebagai persiapan hadirnya “generasi emas’ di tengah keluarga dan masyarakat.

Stunting adalah fakta kealpaaan orang tua dalam mengurus anak dengan penuh tanggungjawab. Stunting adalah bentuk dari “pengabaiaan” orang tua terhadap ketersediaan gizi dan tumbuh-kembang anak. Bukannya orang tua kita “miskin” untuk memberikan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi lebih ke pola asuh, pola kasih, pola pikir untuk menentukan skala prioritas. Misalnya, yang lazim terjadi di wilayah kita. Ketika di kandang ada ayam peliharaan, akan “dipotong” jika ada tamu yang datang, ketimbang untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Apalagi yang datang adalah tamu terhormat, sepeti tokoh pemerintah, pastor atau anak rona (saudara dari pihak Ibu).

Dalam konteks ini, ada yang bilang, yang stunting itu bukan anaknya. Tetapi orang tua-nya. Sabda ini keras! Tapi ya, memang begitu.

Gereja Keuskupan Ruteng dan Pastoral Anak.

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri menyadari tugas dan perannya dalam proses tumbuh-kembang anak yang holistik-integral, baik untuk “hidup mereka saat ini” maupun sebagai persiapan lahirnya generasi yang beriman dan berkualitas di masa mendatang.

Sumber Gambar : Pinterest

Dokumen Sinode III Keuskupan Ruteng menulis: “Anak-anak mendapat tempat istimewa dalam hati Yesus. Bagi-Nya mereka bukanlah pengganggu dan pengusik atau mahkluk kecil yang tak terlalu penting. Sebaliknya dalam kekecilan dan kekosongan, anak-anak sungguh terbuka bagi kehadiran Allah. Bahkan merekalah menurut Yesus yang menjadi pemilik Kerajaan Allah (Mrk. 10:14). Martabat anak-anak sungguh agung dan luhur di mata Yesus. Karena itulah Yesus ingin menjalin relasi istimewa dengan anak-anak. Ia ingin agar anak-anak datang kepada-Nya. Ia ingin menjamah mereka dan membiarkan diri dijamah oleh mereka (Mrk. 10:13-14). Yesus ingin agar anak-anak menemukan dalam diri-Nya seorang sahabat dan teman yang sejati.(hal.170)

Selanjutnya, Sinode menegaskan ”Anak-anak mesti diperlakukan secara serius dan tidak diremehkan, sebab dalam diri anak-anak, Allah sendiri hadir. Bahkan anak-anak memiliki penghubung di Surga yang selalu menghantar sukacita dan jeritan kerinduan mereka di hadirat Allah. “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga (Mat. 18:10).(Hal.171)

Lebih lanjut, Yesus mengajak para muridnya untuk memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih seperti yang dibuat-Nya sendiri. Ia memberi para murid-Nya peran dan fungsi pedagogi iman bagi anak-anak. Mereka hendaknya membimbing anak-anak dalam kebenaran dan keadilan. Sebaliknya “barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat. 18:6).

Melalui pelayanan pastoral terhadap anak-anak, Gereja belajar untuk rendah hati dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Gereja dapat belajar untuk bertobat, dengan menerima anak kecil sebagai tanda kehadiran Kristus (Mat. 18:2-5; Mrk. 9:36-37; Luk. 9:48).

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR, berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Gereja hendaknya memiliki kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan dan situasi anak, mendukung dan terlibat dalam kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan finansial. Gereja juga mengusahakan agar lingkungan dan Komunitas Basis Gerejani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, berpartisipasi dan mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen Sinode III KR,166-174)

Salah satu bentuk tindak-lanjut SInode adalah dibentuknya Tim Pastoral Anak (TPA), yang mengembangkan Program Paroki Ramah Anak. Program yang dilaksanakan dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) ini bertujuan agar Gereja, khususnya Paroki menjadi lingkungan spiritual, etik, fisik dan sosial yang menciptakan kesejahteraan anak, di mana hak dasar anak terpenuhi dan anak-anak dilindungi dari kekerasan. Oleh karena itu TPA Keuskupan Ruteng berperan untuk meningkatkan kapasitas Paroki agar mampu menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak secara integral dan holistik.

Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan masyarakat serta turut serta, sebagai pelopor dan pelapor, menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar