*RD. Benediktus Gaguk
Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.
![]() |
| Masa Adven menandai masa persiapan yang berlangsung empat pekan berturut-turut menjelang Natal |
Lingkaran Empat Minggu Adventus!
Bagi
Umat Katolik, Minggu Pertama Advent, menfokuskan diri pada permenungan
kedatangan Kristus di akhir zaman dan penghakiman terakhir. Untuk itu, semua
umat beriman diajak untuk hati-hati dan berjaga-jagalah. Umat Kristiani diminta
untuk tidak terlena dengan kemilauan dan kemerlapan dunia, terbawa oleh arus
lautan kehidupan duniawi. Sebaliknya, arahkanlah pikiran, hati dan batin kepada
Tuhan, sebagai puncak pemenuhan segala peziarahan di dunia. Akan banyak
tanda-tanda dan peristiwa yang mencengangkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan.
Namun Kristus, Sang Anak Manusia, akan datang “dari balik awan” yang menebus,
menguduskan dan menyelamatkan dunia dan segala ciptaan.
Pada
Minggu Advent Kedua dan Ketiga, Johanes Pemandi menjadi tokoh sentral. Figur
pemuda “padang gurun’ ini memberikan pemaknaan pada penantian. Bahwa menanti
bukanlah “kerja pasif’ nirmakna, melainkan aktif-konstruktif. Ia tidak diam
menanti, dan takluk pada kesunyian padang gurun yang gersang. Ia lantangkan
suara, mengajak semua orang untuk bertobat; meningggalkan cara hidup lama,
meluruskan jalan kehidupan yang bengkok dan berlekak-leluk, menyucikan diri
dan berubah untuk berbuah. Yohanes
menanti dengan keugaharian. Kesederhanan; ia berpakaian kulit unta dan dikenyangkan
dengan belalang dan madu hutan. Sebuah sikap “pengosongan” diri untuk menyambut
“kepenuhan” dalam diri Yesus, Sang Imanuel.
Ia juga menanti dengan kerendahan hati. Tak bosan-bosan Ia menyampaikan
kepada khalayak yang berjubel mengerumuminya di sekitar sungai Yordan, bahwa
bukan dia yang dinanti, tapi Mesias sejati”. “Bahkan membuka tali kasutnya pun
aku tidak layak” kata Yohanes. (Yoh 1:27)
Minggu
Advent Ketiga juga disebut minggu Gaudete,
yang berarti bersukacitalah. Kata sifat “bersukacitalah” ini berasal dari
antifon pembukaan pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan.
Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5).
Tuhan menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan
bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.
Minggu
ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung
selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan
matiraga itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat
bersukacita. Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan
segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka
perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan, untuk
mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan
tantangan hanya jika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak 5:7-10
Bunda Maria menjadi fokus utama pada Minggu Adven
Keempat. Selain karena bacaan Injil Minggu keempt Adven berbicara tentang
peristiwa kabar gembira, Gereja Katolik juga memberikan penghormatan kepada
Bunda Maria dalam perayaan Bunda Maria yang dikandung tanpa Noda pada masa
Adven, tepatnya setiap tanggal 08 Desember. Menanti kedatangan Tuhan bersama
Maria berarti menanti dengan penyerahan yang total kepada Tuhan dan percaya
pada penyelenggaraanNya. “Fiat voluntas
tua”: Terjadilah padaku menurut perkataanMu. Terkadang masa penantian itu
membosankan, membingungkan, melelahkan. Tak pelak, kita melarikan diri pada
hiburan-hiburan yang tidak sehat. Kemudian jatuh terjerembab pada lumpur dosa
atau hancur pada bebatuan dosa, lalu menjadi butiran debu. Maria mengajak kita
untuk setia pada penyelenggaraan Allah yang tak pernah meninggalkan umat-Nya
seperti yatim piatu (Bdk. Yoh 14: 18a)
Adventus:
Sejarah dan “Goldene Legende”
Adven sudah dikenal sejak akhir abad keempat.
Mula-mula hanya berlangsung selama tiga minggu. Karakter utama dari masa
penantian tiga minggu ini adalah diwarnai dengan doa dan asketisme, yaitu
puasa. Persis masa puasa yang dijalan pada
masa sebelum perayaan Paskah. Adven ini dipraktikkan di Roma pada abad
keenam. Yang ini lebih lama panjang lagi. Masa penantian membentang hingga enam
minggu. Baru sejak Paus Gregorius I, yang juga dikenal sebagai Paus Agung
(590-604), mempersingkat masa Adven menjadi empat hari Minggu. Sejak Konsili
Trente (1545-1563), Adven telah ditetapkan selama empat minggu di seluruh
gereja.
Goldene Legende (Legenda aurea), yang ditulis antara
tahun 1236 dan 1273, merangkum keragaman pemikiran dan isi masa Adven.
Empat minggu Adven menunjukkan empat makna kedatangan Kristus di masa
yang akan datang: pertama, Dia akan
datang ke dunia, menjumpai dan merangkul kita manusia dalam kemanusiaan kita,
kebertubuhan dan keberjiwaan, kegembiraan dan kederitaan, kemuliaan dan
kehinaan manusia. Kedua Dia datang dengan kepenuhan kasih karunia ke
dalam hati manusia. Ia membakar api kemuliaan dan keilahian dalam hati manusia
agar tetap berkanjang dalam persekutuan cinta dengan Allah. Ketiga, Dia
datang kepada kita manusia dalam kematian. Kristus memasuki realitas kematian
kita. Dengannya tubuh dan jiwa manusia yang fana diterangi cahaya kebangkitan.
Keempat, Dia akan datang kembali pada saat penghakiman terakhir. Dia adalah
raja adil yang menghakimi manusia berdasarkan perbuatan-perbuatan manusia. “Apa
yang kau lakukan bagai salah seorang dari saudaraku yang hina dina ini, itu
engkau lakukan untuk aku”. (Bdk Mat 25:40). Dan manusia pendosa akan mendapat
hukuman setimpal. Namun oleh kasih karunia-Nya yang tanpa batas, Ia duduk di
“kursi terdakwa”. Bukan untuk menghilangkan tanggung hukuman manusia akibat
dosanya, tetapi ia sendiri “memikul” hukuman atas manusia, seperti yang telah
ia telah tunjukkan pada peristiwa Salib.
Adventus dan
Adventkranz
Karangan Bunga (Adventkranz) ditempatkan di dalam
Gereja, biasanya di samping Altar, sejak Minggu Pertama Advent. Karangan Bunga
terbuat dari dedaunan hijau yang dibuat melingkar. Di atas karangan bunga
tersebut diletakkan empat lilin. Satu lilin dinyalakan setiap hari minggu, hingga
semua lilin menyala pada malam Natal. Cahaya itu dimaksudkan sebagai simbol
Yesus Kristus yang lahir pada hari Natal sebagai terang dunia yang sebenarnya.
Sejak tahun 1860 dan seterusnya, cabang pohon cemara
digunakan sebagai hiasan karangan bunga Advent. Cabang-cabang pohon cemara
adalah simbol kehidupan: pohon cemara juga menghijau di musim dingin dan
mengacu pada harapan bahwa alam akan membangkitkan kehidupan baru di musim
semi.
Minggu I
Adventus: Menanti Sambil Berjaga-Jaga!
Bacaan Injil yang direnungkan oleh umat Katolik pada
minggu I Advent diambil dari Markus 13:33-37. Umat Katolik diajak untuk
menantikan kedatangan Sang Juruselamat sambil mawas diri dan berja-jaga.
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah” (Mrk 13:33). Ajakan untuk berjaga-jaga pada
penggalan perikop ini tak dapat dilepas-pisahkan dengan serangkaian ayat
sebelumnya (14-32) di mana perihal “Berjaga-jaga” ditekan berulang-ulang.
Mrk 13:14-32 berbicara tentang Kehancuran Yerusalem
dan akhir Zaman. Dua tema yang menghadirkan kegentaran dan kegetiran. Seperti
ketika ranting-ranting melembut dan mulai bertunas sebagai petanda musim panas
sudah dekat, demikian ketika melihat bangsa Yahudi dikacaukan oleh Perang,
dibingungkan oleh mesias-mesias dan nabi Palsu, serta pelbagai kemunafikan dan
kedengkian merajalela, itulah pertanda bahwa kehancuran Yerusalem sudah dekat,
bahkan diambang pintu. Demikian pula tentang akhir dunia itu mencemaskan.
Segalanya tak pasti. Waktunya sudah ditetapkan dalam rencana Allah, tetapi
tidak diwahyukann melalui Firman Allah kepada siapapun, entah itu kepada
manusia-manusia di bumi ataupun kepada malaikat di surga. Dan bahkan Anak pun
tak tahu. Hanya Bapa di surga (Mrk 13:32). Namun, adakah sesuatu yang tidak
diketahui Anak? Dr. Lightfoot menjelaskan hal ini sebagai berikut,
"Kristus menyebut diri-Nya Anak, sebagai Mesias. Mesias dalam hal ini
adalah hamba Bapa (Yes. 42:1), yang diutus dan yang mewakili Bapa. Oleh karena
itu, Dia selalu mengarahkan diri-Nya kepada kehendak dan perintah Bapa-Nya, dan
Dia mengakui bahwa Dia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya
sendiri" (Yoh. 5:19). Berdasarkan pikiran ini, kita bisa mengatakan juga
bahwa Dia tidak dapat mengetahui sesuatu dari diri-Nya sendiri. Pewahyuan yang
disampaikan Yesus Kristus adalah apa yang dikaruniakan Allah kepada-Nya (Why.
1:1).
Maka untuk dua hal tersebut, kehancuran yang
menakutkan pun pula akhir dunia yang membawa ketidakpastian dan pesimisme,
Sabda Tuhan meminta kita untuk berjaga-jagalah senantiasa. Orang yang berjaga-jaga,
mawas diri-mawas hati akan selalu “posisi siap siaga” ketika sesuatu bakal
terjadi. Diumpamakan hal berjaga-jaga itu seperti hamba-hamba dan penunggu
rumah menantikan kedatangan tuannya. Mereka tidak boleh berjaga-jaga sambil
“ngelamun” atau “duduk kosong”. Itu menjadi “pintu masuk” menuju “kenyenyakan”.
Padahal mereka tidak ingin kedapatan tertidur lelap saat tuannya pulang. Untuk
itu mereka mesti berjaga-jaga yang aktif, bukan pasif. Artinya berjaga-jaga
sambil melakukan kerja-kerja kreatif agar penantian itu bermakna. Dan, tentu
sambil berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke
dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat 26:41)
Paroki Ramah
Anak: Pastoral Berjaga-Jaga!
Semua orang tua berharap, anak-anak mereka menjalani
masa-anak dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Mereka bertumbuh dan
berkembang dengan baik, dengan fisik yang kuat dan jiwa yang sehat, penuh
dengan keceriaan. Mereka melewati masa kanak-kanak dengan senyum, muka
gembira,dan tawa canda, tanpa rasa takut
dan getir. Mereka mendapatkan kasih sayang
dari orang tua, sanak-saudara, guru, orang-orang terdekat. Mereka
memandang masa depan dengan penuh harapan, optimis tanpa kekuatiran.
Disemogakan, amin.
Namun “ancaman
kehancuran seperti Yerusalem” saat ini sepertinya pelan-pelan menyuramkan
senyuman pada bibir suci anak-anak. Mesti diakui, anak-anak, pun orang tua
sedang mengalami kegentaran, ketakutan dan kekuatiran. Lingkungan kita, saat
ini, sekali saat ini, tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk anak-anak. Kita
semua takut, kalau-kalau terjadi sesuatu yang “bukan-bukan” dengan anak-anak.
Kita berasumsi bahwa lingkungan sekitar, hidup bertetangga, teman bermain
adalah tempat yang nyaman untuk anak-anak. Belum tentu! Kita berharap bahwa
sekolah menjadi tempat yang ramah anak. Tidak pasti! Kita percaya bahwa rumah
dan sanak saudara menjadi ruang yang nyaman bagi anak-anak kita. Tidak yakin!
Kita amat berharap bahwa lingkungan rumah ibadat dan keagamaan adalah tempat
yang super-aman bagi anak-anak. Hmmm, belum tentu. Kita pun akhirnya hidup
dalam ketidakpastian tentang anak-anak, seperti kapan akhir zaman terjadi, yang
kita tidak tahu pasti.
Berita-berita dan saksi mata menunjukkan bahwa
kekerasan dan “penjajahan” justru dilakukan oleh teman sepermainan. Sekolah
menjadi “sarang”pembulyan, kekerasan fisik dan verbal, bahkan kekerasan
seksual. Orang-orang terdekat justru mejadi “predator” anak. Kekerasan Seksual juga
terjadi di tempat ibadat dan lembaga keagamaan yang maha suci. Ya Tuhaaan.
Lalu, kita buat apa?
Paroki Ramah Anak (PRA) Keuskupan Ruteng dalam
kemitraan dengan Wahana Visi Indonesia adalah salah satu upaya untuk
menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak. anak. PRA adalah
sebuah Pastoral Berjaga-jaga untuk menciptakan lingkungan yang memenuhi hak
dasar anak dan melindungi anak dari kekerasan.
Agar terpenuhinya Hak Dasar Anak, PRA melalui kegiatan
Anak Sekami membuka kesempatan bagi untuk bertumbuh secara iman-spiritual,
mengembangkan bakat dan ketrampilan, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
Gerejani serta menghidupi semangat cinta kehidupan anti kekerasan. Mereka
belajar untuk solider dengan sesama khususnya yang menderita. Juga dibiasakan
mencintai lingkungan hidup melalaui kegiatan ekologis. Agar anak bertumbuh
dengaan sehat, PRA menfasilitasi penyediaan Jaringan Air Bersih dan Jamban bagi
keluarga miskin sederhana dalam koordinasi dengan desa PFA. Demikian pun
kesehatan Ibu dan Anak diprioritaskan melalaui program kebun gizi keluarga.
Agar terciptanya lingkungan yang aman bagi anak, PRA
mendampingi, menumbuhkan motivasi serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
orang dewasa yang terhubung dengan dunia anak. Mereka diberi pengetahuan dan
pemahaman tentang Martabat Anak senagai
ciptaan Tuhan, tentang Hak-Hak dasar Anak, Jenis-Jenis Kekerasan terhadap Anak
dan upaya perlindungan kepada Anak. Mereka dikapasitasi dengan Modul Pengasuhan
Dengan Cinta (PDC), agar tidak mengasuh anak dengan rotan, cacian dan makian. Melalui
rekolesi, Katekese, dan Misa mereka disadari tentang Anak sebagai Anugerah
Tuhan dan mengasuh anak sebagai perpanjangan kerja Tuhan yang mencipta dan
memelihara dunia dan ciptaan dengan penuh cinta. Mereka adalah
pemimpin-pemimpin agama (faith leaders),
Orang tua, Guru, Orang Muda, tokoh pemerinah dan masyarakat.
Agar anak terlindungi, PRA membentuk Referal System melalaui tim CHAT
yang ada di paroki. Dengan adanya Referal system ini diharapkan bahwa
perlindungan anak dari kekerasan semakin nyata. Masyarakat dan umat pun
termotivasi dan semakin aktif menjadi pelopor kampanye anti Kekerasan dan
Pelapor terjadinya kekerasan terhadap anak-anak.
Berjaga-jagalah dan kerja-kerja nyata!*
Bahan Bacaan:
“Adventszeit: Ursprung
und Bedeutung der Vorweihnachtszeit: Volkstimme.de
“ Religion und
Gesslschaft” Wie und warum feiern wir Advent? : Mdr.de
“Matthew Henry Commentary”: Bible
Interpretation Application.
OM Keuskupan
Ruteng,“ Booklet Diseminasi Kemitraan
LkP3 KR-Wahana Visi Indonesia” , Ruteng: 2022
%20(1).jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar