Just another free Blogger theme

Senin, 25 Desember 2023


*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia

Sumber gambar: Pinterest

Lukas 2:1-14

Yang aku kasihi

Anak-anak, orang-orang Muda, Bapa Mama 

Di Ruteng

Apa kabarmu sekalian di malam ini? Aku yakin pasti semuanya sedang bersukacita menyambut kelahiranku di dunia. Meskipun aku lahir ribuan tahun lalu, namun cerita, sukacita, dan perayaannya tak berhenti di padang gembala Efata, tidak saja menghiasi hati para gembala yang sedang berjaga. Kelahiranku senantiasa dikenang, dihidupi dan dirayakan hingga saat ini dan sampai nanti juga di Ruteng, kota dingin dan sejuk di kaki pegunungan Mandosawu, tempat di mana kopi, kompiang dan hujan membuat Ruteng menjadi kota kecil yang romatis dan penuh kenangan. Bukankah setiap genangan hujan selalu menjadi kenangan. Bahkan ada yang bilang, rintik hujan di Ruteng, meninggalkan 10 % genangan. 90%-nya adalah kenangan. Ah, gara-gara mengingat kotamu, aku jadinya romantis juga ni.  

Aku terharu dan gembira bagaimana orang-orang Ruteng menyambut kelahiranku. Lampu-lampu menghiasi jalan-jalan, juga kandang natal berdiri hampir di setiap lorong dan jalan. Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang sedang mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran Kristus. Meskipun tahun ini tidak sebegitu meriah di tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena harga sembako terus naik, sehingga orang-orang tak punya dana cukup untuk membeli lampu dan hiasan Natal. Semoga itu alasannya dan bukan karena tidak antusias dan kurang semangatnya kalian semua menyambut kelahiranku?

Aku juga melihat, hari-hari terakhir ini, kota kita ramai dikunjungi. Manusia berjubel, antri dan berdesakan. Lagu Natal dari toko musik seolah mengiringi wajah-wajah ceria yang ingin tampil sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru, gaun yang bagus, sepatu, arloji, dandanan dan aksesoris lainnya. Kurir paket dan Jasa titip pun keluar-masuk gang. Rupanya angka pembelian di Online Shop pun terus meningkat pada pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Betapa kelahiranku membawa berkah untuk semua orang. Wah aku jadi terharu.

Tetapi apakah itu semua menjadi pertanda bahwa kelahiranku membawa sukacita sejati?

Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan” dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan” duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks ini adalah ungkapan yang cocok.

Sukacita lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”. Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap, abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.

Saudara-saudariku, pada perayaan kelahiranku di dunia, tahukah kamu, mengapa dan untuk apa aku datang ke dunia? Mengapa aku “mau-mau” saja dan rela meninggalkan rumah surgawi yang nyaman dan penuh kebahagiaan dan turun ke dunia, yang kamu bilang dunia yang keras, kejam dan penuh dengan masalah dan penderitaan ini? Untuk itu aku mau menceritakan satu kisah:

Menjelang Misa Kelahiranku, seorang Ibu bergegas menuju Gereja. Ketika melewati ruang tamu, ia melihat suaminya sedang serius dengan Handphone dan buku catatan di meja tamu. “ Bapa, tidak ke Gereja kah?” tanya si Ibu.

“Kamu saja Ma. Aku sudah bosan, dari dulu pergi Misa Natal terus. Aku belum mengerti “ Mengapa Yesus itu datang ke dunia. Tidak mau aman-aman saja di surga? Untuk apa dia datang?

“Untuk menyelamatkan kita, Pa!” jawab Ibu.

“Dia bisa ator dari surga to? Kenapa pusing-pusing datang ke dunia?” ketus si Bapa.

Pergilah si Mama sendirian. Si Bapa melanjutkan “rutit-ratitnya” dengan handphone, sambil menghitung angka-angka di buku catatan. Rupanya dia asyik mengirimkan sejumlah “transferan” ke anak rona: di Sidney, Hongkong, dan Kamboja.

Ketika sedang asyik kirim-mengirim, tiba- tiba ada keributan di pintu rumah. Si Bapa bergerak ke pintu, dan ketika ia membuka pintu, masuklah segerombolan kambing piaraannya, yang terlepas dari kandang.. Si Bapak kalang kabut. Kambing-kambing pun memenuhi seluruh ruangan tamu.

Si Bapak berusaha menghalau kambing-kambing, tapi tak satu pun yang mau keluar. Setelah lama berjuang, akhirnya si Bapak menemukan Ide. Ia mengambil selimutnya yang berwarna belang-belang,  dan kemudian membungkus badannya. Dipasangnya kemoceng, pembersih debu, pada pinggangnya. Dipakainya bando Natal isteri yang ada tanduk rusanya. Lalu mengambil posisi merangkak. Maka, jadilah ia seperti seekor kambing. Pelan-pelan ia bergerak keluar pintu sambil mengembik, “mbee-mbeee”. Sepert kambing, si Bapak merangkak menuju kandang, dan melihat itu, kambing-kambing pun mulai bergerak mengikutinya dari belakang.

Ketika ia dan semua kambing berada di dalam kandang, Isterinya  yang pulang misa Nata, terheran-heran melihat suaminya.

” Pa apa yang kau lakukan dengan kambing-kambing itu? Ih, menjijikkan tahu?

“Ma, tadi pas Mama ke Gereja, kambing-kambing ini terlepas dari kandang dan masuk ke ruang tamu. Saya setengah mati mengusir dan membawa kembali ke kandang. Akhirnya aku menemukan ide. Saya berdandan seperti kambing, dan kemudian berjalan merangkak di depan mereka. Dan ternyata berhasil, mereka semua ini mengikuti aku sampai masuk ke kandang. Pintar to?

“Pa begitu pula  Yesus. Seperti bapa menjadi kambing, lalu kambing-kambing itu ikut berjalan menuju kadang, demikian Yesus datang ke dunia menjadi seperti manusia. Supaya dia depan dan kita dari belakang bersama-sama menuju kandang keselamatan.

 

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Demikianlah alasan mengapa aku datang ke dunia. Seperti yang dipikirkan si Bapa tadi, untuk menyelamatkan manusia, aku kan tinggal “stel”dari surga. Tetapi bagiku, tidak demikian. Untuk menyelamatkan manusia, aku terlebih dahulu menjadi sepeti manusia. Aku harus blusukan ke dunia, untuk mengalami situasi yang kalian alami; bagaimana menjadi manusia, suka dan duka, kebahagiaan dan kesusahan, manis dan pahit, sukacita dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Untuk menyelamatkan kamu semua, aku harus mengalami kehidupan kalian manusia, berada bersama kalian, sehingga kami menyebut aku Immanuel, “Allah yang tinggal beserta kita”

Inilah yang disebut para teolog dengan istilah Inkarnasi: Allah menjadi manusia, Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita manusia. Dengan kelahiran aku di dunia, yang selama ini penuh dengan dosa, kegelapan dan penderitaan, dikuduskan dan ditebus. Kelahiran aku, membawa Surga ke bumi, yang kemudian kamu selalu daraskan dalam doa Bapa Kami: Jadilah kehendakmu, di atas bumi seperti di dalam surga.

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Bacaan injil yang dibacakan oleh pastor tadi berkisah tentang saat-saat kelahiranku. Dan itu benar. Bukam dikarang-karang. Lukas menulis, bahwa aku dilahirkan bukan dari keluarga bangsawan, kaya raya dan orang berada. Aku tidak dilahirkan di sekitar Istana Herodes, atau di tengah keluarga dari kalangan pemuka agama di Yerusalem. Aku lahir di keluarga Mama Maria dan Bapa Yosef yang sederhana.

Kisah kelahiranku sangat dramatis. Waktu itu, Bapa dan Mama harus ke Betlehem, ke kampung halaman dari Bapa Yosef, untuk mengikuti sensus penduduk, sebagaimana diatur oleh pemerintahan Romawi saat itu. Perjalanan sangat jauh. Mama menunggang Keledai dan Bapa berjalan kaki sambil menuntun Keledai yang ditunggai mama Maria. Aku membayangkan begitu sulitnya perjalanan mereka berdua. Lapar, haus, letih dan lesu. Panas terik dan dinginnya hujan tentu mewarnai perjalanan pasangan muda tersebut.  Mama pasti menahan rasa sakit, karena aku dalam waktu dekat akan lahir. Di tengah situasi itu, Mama mungkin cemas dan ragu pula, jangan-jangan, Bapa Yosef, putus asa dan meninggalkan Mama di pinggir jalan, sebagaimana Bapa dulu berencana menceraikan mama diam-diam, karena malu dengan orang banyak. Tetapi, Bapa adalah orang yang tulus hati. Seandainya Bapa Yosef hidup pada zaman sekarang dan pandai menyanyi, mungkin sambil memandang wajah Mama di atas Keledai, ia bernyanyi: Jangan pernah kau ragukan, ketulusan hati ini, walau tak pernah aku berkata sayang, namun semua cintaku untukmu. Tak ingin diriku, berkata tentang janji, biarlah semua wajar dan biasa-biasa saja. Bagiku dirimu, di atas segalanya, yang ada di dalam kehidupan ini. Mendengar itu, mama juga tidak kalah. Mungkin dari atas Keledai, sambil menahan rasa sakit, ia  bernyanyi lembut: Aku masih di sini untuk setia. Romantis bukan? Wah, semoga keluarga-keluarga di Keuskupan Ruteng juga, di tengah kesulitan hidupnya,  tetap menjaga keromantisan.

 

Setiba di Betlehem, aku pun dilahirkan. Hanya Mama, dan Bapa sendiri yang membantu persalinan. Ditemani hewan ternak para gembala dan bintang-bintang malam yang bertaburan di langit. Sunyi. Sepi. Sendirian. Tak ada sanak saudara bapa yang tinggal di Betlehem datang menenami. Mereka bahkan tak punya tempat bagi kami untuk menginap. Untung Bapa Yosef menghabiskan masa kecilnya di Betlehem, dan sering bermain di padang gembala. Dia membawa Mama ke sebuah Gua, yang biasa dipakai oleh para gembala untuk kandang ternak. Sungguh sebuah peristiwa besar nan sukacita bagi kami sekeluarga, meski dialami dalam kesederhanaan dan serba keterbatasan.

Aku bersyukur dilahirkan di kandang ternak. Aku benar-benar mengalami kesukaran dan penderitaan hidup manusia, sejak aku dilahirkan. Aku mengambil bagian dalam kehidupan manusia, bukan sebagai seorang anak yang gagah perkasa, yang berkelimpahan dan penuh kemewahan, bukan sebagaai anak raja yang lahir di singgasana, tetapi sebagai bayi yang sedernana, dibungkus kain lampin dan dibaringkan di palungan, tempat makanan ternak.  Sejak awal aku mengalami kegalaun hidup sebagai manusia. Walaupun dalam rupa Allah, aku tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, aku telah merendahkan diri mula-mula di kandang hina dan sederhana.

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Aku bersyukur lahir di tengah keluarga yang miskin harta tetapi kaya akan cinta. Bapa dan mama yang tulus, jujur, apa adanya dan setia bertahan di tengah kesulitan dan keterbatasan hidup yang mereka alami. Aku juga berharap, malam ini, aku boleh lahir di tengah keluarga Bapa dan Mama di Keuskupan Ruteng, kota seribu gereja, yang umatnya memiliki iman yang teguh, harapan yang kuat dan cinta yang iklas. Yang serani sai, kontas bokak. Nggelok ranga, Nggeluk Nai. Aku ingin lahir di tengah keluarga Bapa dan mama di Keuskupan Ruteng, yang sederhana: saling menerima apa adanya, tidak paksa diri untuk memiliki harta dan kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Keluarga yang jujur tanpa  saling menyembunyikan, yang saling mengasihi tanpa kalkulasi, yang tidak cepat putus asa di tengah kesulitan hidup, yang setia pada janji perkawinan, tanpa tergoda pada rumput tetangga. Karena bukankah keluarga dipanggil pertama-tamap bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.

 

Anak-anak, orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.

Situasi di Betlehem tidak memungkinkan bagi aku untuk lanjut menulis surat ini. Peluru-peluru berdesingan di langit Padang Efrata. Bom meledak di mana-mana. Tangisan dan teriakan anak-anak terdengar di seluruh penjuru. Situasi politik sedang tidak baik-baiknya antara Israel dan Palestina. Aku tahu situasi politik di Indonesia, juga di Ruteng beberapa bulan ke depan akan semakin panas. Semoga tidak terjadi pergolakan dan pertumpahan darah. Hargailah perbedaan pilihan politik. Ingat pesan orang tua kalian di Manggarai: pemilu itu sekali lima tahun. Keluarga itu selama-lamanya. Politik hitu salang tuak, keluarga agu ase kae, saleng wae teku tedeng.


Akhirnya, balaslah suratku, melalui cara hidup dan kesaksian imanmu setiap hari. Mendung menanti hujan, rindu menanti balasan. 4 x 4 enambelas. Sempat tak sempat harap dibalas.

Aku yang selalu merindukanmu.

Yesus, anak Daud.

 

*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia


Sumber Gambar: Pinterest

Umat Katolik memasuki pekan ketiga masa Adven. Minggu Adven Ketiga ini disebut juga minggu Gaudete, yang berarti bersukacitalah. Kata sifat “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Tuhan menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.

Minggu ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan matiraga itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita. Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan, untuk mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan tantangan hanya jika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak 5:7-10)

Bersukacitalah!

Lampu-lampu menghiasi jalan-jalan. Kandang Natal berdiri hampir di setiap kamar tamu. Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang sedang mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran Kristus. Apakah itu pertanda Sukacita?

Pusat perbelanjaan ramai dikunjungi. Manusia berjubel, antri dan berdesakan. Lagu Natal dari toko musik seolah mengiringi wajah-wajah ceria yang ingin tampil sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru, gaun yang bagus, sepatu, arloji, dandanan dan assesoris lainnya. Kurir paket pun keluar-masuk gang. Rupanya angka pembelian di OLShop pun terus meningkat pada pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Apakah ini petanda Sukacita?

Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan” dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan” duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks ini adalah ungkapan yang cocok.

Sukacita lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”. Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap, abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.

Sekalipun kita sedih karena masalah duniawi, kita akan tetap bersukacita dalam Allah  (2Kor 6:10). Mungkinkah itu? Masihkah kita bersukacita di tengah penderitaan yang terus melanda dunia dan kehidupan kita masing-masing; pembantaian, bencana, teror, kerusuhan, kelaparan dan kekeringan?Haruskah kita menipu diri untuk tidak meneteskan air mata di tengah situasi kehilangan- kehilangan yang dialami, rasa sakit dan beban hidup yang tak kunjung beranjak pergi? Kepada Paulus, si pemilik surat ini, kita mungkin berkata: Ah Paul, Anda pandai bicara, tetapi belum tentu bisa melakukan apa yang anda katakan”.

Paulus menulis surat kepada Jemaat di Tesalonika ketika dia masih dalam Penjara. Tidakkah ia sedang frustrasi mendekam di dalam penjaran, dan takut akan hukuman yang lebih besar bakal menantinya? Lantas bagaimana ia bisa bersukacita di tengah situasi tersebut?

Paulus punya alasan untuk tetap bersukacita sekalipun ia sedang di dalam penjara. Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus lebih menekankan sebuah sukacita di dalam Tuhan. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Fil 4:4). Bersukacita di dalam Tuhan adalah kebahagiaan yang lahir dari hubungan dan persekutuan dengan Tuhan yang menyelamatkan. Sebuah keselamatan yang terjadi karena kita diangkat menjadi Anak Allah dan dicintai, hingga mengorbankan diriNya di kayu salib.

Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang menderita. Allah yang solider dengan penderitaan kita manusia. Dalam misi penebusanNya itu, Ia merangkul semua penderitaan dan mengalami dan mengalami penderitaaann kita. Bahkan, Ia menjalani penderitaan yang lebih tragis dari penderitaan-penderitaan kita.

ketika engkau sedang mengalami masalah, dan kau ceritakan masalah itu dengan temanmu, kadang-kadang itu sucah cukup bagimu. Engkau merasa lega dan bersukacita karena ada orang yang “menyediakan”telinganya mendengar cerita-ceritamu”, apalagi kalau dia mau membantumu mengatasi masalah yang kau alami”

Kalau si pendengar cerita kau anggap “penyelamat”, apalagi Dia yang bahkan mengorbankan nyawanya demi keselamatan jiwamu”. Bukankah engkau justru lebih bersukacita?

Menanti dengan Sukacita

Paulus mengingatkan Jemaat di Filipi untuk senantitasa bersukacita karena Tuhan sudah dekat (Fil 4:5). Seperti menunggu kelahiran sang buah hati, orang tua pasti menanti dengan penuh sukacita. Tak ada orang tua yang duduk di ruang persalinan dengan hati yang sedih, takut dan cemas. Ia pasti menghitung waktu dengan wajah yang sumringah, meski sedikit deg-degan. Inilah yang disebut pengharapan.

Orang yang memiliki harapan dan optimis akan selalu bersukacita. Ia selalu yakin akan ada terang setelah gelap, akan ada pagi setelah malam, akan ada sukaciita setelahg dukacita, akan ada surga setelah Golgota. Sebaliknya, orang yang tidak punya harapan, akan selalu memiliki pandangan negatif tentang apapun. Ia mengawali dan mengakhiri harinya dengan berpikir: masalah. Ia akan selalu merasa tidak bisa, merasa gagal, dan tak berharga.

Menanti kedatangan Tuhan mengajar kita untuk memupuk harapan-harapan dalam hidup. Agar hidup senantiasa penuh harapan dan sukacita, Paulus mengajak kita sekalian untuk  tekun dalam doa dan senantiasa mengucapkan syukur. Selalu bersyukur atas apapun yang kita alami setiap hari.

 

Di sinilah kita belajar dari pribadi seorang anak. Anak-anak selalu bersukacita dalam hidup. Bukan karena mereka tidak memiliki “masalah” tetapi karena mereka lebih fokus pada hal-hal baik dalam hidupnya; bermain dan bertemu dengan teman-teman. Mereka selalu bersukacita, karena sangat yakin, akan selalu ada orang tua yang menjadi tempat perlindungan yang nyaman dan aman ketika mereka mengalami masalah. Anak-anak mengajari kita untuk optimis, tidak mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapi tantangan hidup, serta senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Itulah kunci Sukacita! *

Sabtu, 09 Desember 2023

 

*RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.

Sumber Gambar: Pinterest

Kita memasuki Pekan Kedua Masa Advent. Kita memalingkan wajah dan mengarahkan pikiran pada Yohanes Pembaptis, salah satu tokoh penting yang menjadi figur sentral di masa penantian ini. Yohanes adalah utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Penebus. Diwartakannya pertobatan sebagai kesempatan untuk meluruskan segala yang lekak-lekuk dan bengkok-bangkok, baik yang terungkap dalam perkataan mauapun yang nyata dalam perbuatan dan kelalaian. Misi Yohanes bertujuan agar semua orang mengalami sukacita dan keselamatan Kerajaan Allah yang tampak nyata dalam diri Yesus, Sang Almasih. 

Yohanes Pembaptis dan tugas Perutusannya.

Markus 1:1-8 mengajak kita untuk mengenal pribadi dan karakter Yohanes dalam hubungan dengan tugas dan pelayanannya yang mulia itu.

Yohanes adalah seorang utusan. Kitab Yesaya, sebagaimana dikutip oleh Markus, menyerukan:

“Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau. Ia akan mempersiapkan jalan bagiMu. (Mrk 1: 2)”

Yohanes tahu bahwa ia adalah utusan. Seorang utusan bertugas menyiapkan segala sesuatu bagi kedatangan sesorang yang lebih penting. Ia datang memberikan informasi sedetail mungkin, melakukan percakapan-percakapan dan negosiasi dengan mereka yang akan “dikunjung”, dan memastikan bahwa tidak ada aral merintang dan gangguan-gangguan yang menghalangi “datangnya” seseorang yang dinantikan.

Secara kasat mata, hal ini dapat kita lihat dalam pengalaman konkret. Kedatangan seorang tamu pemerintah, Presiden, misalnya, pasti didahului utusan Staf Istana dan Kepresidenan, Kementrian, tak ketinggalan pasukan pengawal yang “siap berani mati” mempersiapkan dan mengawal kedatangan sang pemimpin. Mereka akan membereskan banyak hal, seperti infrastruktur, sumber daya, dan kepastian keamananan bagi “Orang Penting”. Tetapi perhatikan pada saat hari “H”. Semua mereka itu tidak tampak. Yang menjadi fokus utama kamera adalah Sang Presiden. Yang dieluk-elukan orang sepanjang jalan, adalah dia yang duduk di mobil RI 1.

Sebagai seorang utusan, Yohanes menyadari bahwa tugas itu tidak mudah dan penuh risiko. Ia harus meninggalkan kenyamanan hidup dalam belaian kasih-sayang Zakharia dan Elisabet. Yohanes pastilah anak yang sangat dimanjakan. Ia anak tunggal yang kelahirannya sangat dinantikan. Pasangan lansia, Elisabeth-Zakharia menjaga sang anak dengan penuh kasih, mengkhawatirkan dia, dan tak ingin jauh darinya.

Yohanes memilih pergi. Ia meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan kampung halamannya. Ia pergi ke padang gurun, tempat yang sangat tidak “ramah” untuk dihidupi. Alam yang gersang, kering nan tandus, ancaman binatang liar adalah situasi riil padang gurun. Belum lagi kesunyiaan dan kesendirian yang mencekam.

Yohanes berada dalam dua pergulatan. Di satu sisi, dia harus “sibuk” menaklukkan “padang gurun; mengolah situasi-situasi sulit yang dia hadapi di gurun gersang. Di sisi lain, dia menjalankan misi utamanya,menyerukan pertobatan.

“Siapkan jalan bagi Tuhan. Luruskan jalan baginya. Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4)

Lebih lanjut, Yohanes sadar bahwa warta pertobatan tidak akan “berdaya sengat” jika hanya terungkap dalam kata-kata, dan terbatas pada seruan-seruaan. Tak hanya hati dan batin yang “dibereskan” melalui “ret-ret panjangnya” pada keheningan padang Gurun, warta pertobatan Yohanes tampak nyata dalam sikap hidupnya, keugaharian, kesederhanaannya. Keheningan panjang di padang gurun, saat ia berkanjang dalam perjumpaan dengan Allah yang mengutusnya, membentuk karakternya, dan melahirkan pribadi Yohanes yang “apa adanya”. Daya-ubah pewartaan bukan sebatas pada kata-kata, tetapi pada kesaksian hidup, pola prilaku, dan tindakan nyata. Bukanlah 1 tindakan lebih berharga, daripada 1000 kata-kata:

Tulis Markus, “Yohanes memakai jubah buluh unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan” (Mrk 1:6)

Belum sempat mendengar, melihat tampangnya saja orang bisa saja bertobat terlebih dahulu! Tentu bukan karena takut, tapi kagum dengan “aura” kenabiannya.

Bayangkan saja kalau Yohanes menyerukan perobatan dengan penampilan begini: Riben gelap, arloji mahal, smartphone mahal di saku kiri-kanan, berpakaian mahal-stylish.

Belum sempat mendengar, melihat tampangnya saja orang lari terbiri-birit! Bukan karena takut, tetapi muak dengan “tampang” kenabiannya.

***

Kita semua utusan. Kita diutus untuk menciptakan dunia yang menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita pun diutus untuk memperbaiki yang rusak, meluruskan yang bengkok-bangkok, meratakan yang lekak-lekuk. Untuk itu, yang pertama, kita diutus “merenovasi” diri kita sendiri. Sebab perubahan selalu mulai dari diri sendiri; merubah tutur kata, menata pola prilaku serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Anak-Anak dan Persiapan-persiapan Kita!

Ketika Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan kedatangan Sang Penebus, lantas untuk siapakah persiapan-persiapan “kecil” kita?

Tidak bermaskud menyamakan secara langsung antara “Yesus dan anak-anak”, dalam perspektif pastoral anak, tugas kita adalah mempersiapkan anak-anak kita untuk bertumbuh secara spiritual dan jasmaniah agar mereka memiliki masa kini dan masa depan yang cerah. Tugas yang luhur dan mulia ini pertama dan paling utama ada di dalam keluarga. Orang tua diajak untuk menciptakan lingkungan yang layak agar anak-anak bertumbuh dengan baik, hak-hak anaknya terpenuhi serta mendapat perlindungan dari kekerasan. Untuk itu, orang tua mesti menggembangkan dan menghidupi pola pengasuhan dengan cinta.

Salah satu hak anak yang mesti dipenuhi adalah Hak Tumbuh Kembang. Orang tua tentu ingin agar anaknya bertumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal. Pertumbuhan fisik yang sehat akan berdampak pada kualitas pribadi anak di masa mendatang. Jika orang tua bermimpi agar anaknya menjadi generasi emas, maka perlu persiapan-persiapan yang konkret. Hal itu tidak lain dengan memberikan asupan gizi seimbang, memastikan kondisi kesehatannya dengan posyandu, misalnya, serta investasi “dana” keluarga yang cukup bagi kualitas hidup anak. Seperti Yohanes, orang tua mesti mau “disibukkan” dengan pekerjan-pekerjaan “sukar” sebagai persiapan hadirnya “generasi emas’ di tengah keluarga dan masyarakat.

Stunting adalah fakta kealpaaan orang tua dalam mengurus anak dengan penuh tanggungjawab. Stunting adalah bentuk dari “pengabaiaan” orang tua terhadap ketersediaan gizi dan tumbuh-kembang anak. Bukannya orang tua kita “miskin” untuk memberikan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi lebih ke pola asuh, pola kasih, pola pikir untuk menentukan skala prioritas. Misalnya, yang lazim terjadi di wilayah kita. Ketika di kandang ada ayam peliharaan, akan “dipotong” jika ada tamu yang datang, ketimbang untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Apalagi yang datang adalah tamu terhormat, sepeti tokoh pemerintah, pastor atau anak rona (saudara dari pihak Ibu).

Dalam konteks ini, ada yang bilang, yang stunting itu bukan anaknya. Tetapi orang tua-nya. Sabda ini keras! Tapi ya, memang begitu.

Gereja Keuskupan Ruteng dan Pastoral Anak.

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri menyadari tugas dan perannya dalam proses tumbuh-kembang anak yang holistik-integral, baik untuk “hidup mereka saat ini” maupun sebagai persiapan lahirnya generasi yang beriman dan berkualitas di masa mendatang.

Sumber Gambar : Pinterest

Dokumen Sinode III Keuskupan Ruteng menulis: “Anak-anak mendapat tempat istimewa dalam hati Yesus. Bagi-Nya mereka bukanlah pengganggu dan pengusik atau mahkluk kecil yang tak terlalu penting. Sebaliknya dalam kekecilan dan kekosongan, anak-anak sungguh terbuka bagi kehadiran Allah. Bahkan merekalah menurut Yesus yang menjadi pemilik Kerajaan Allah (Mrk. 10:14). Martabat anak-anak sungguh agung dan luhur di mata Yesus. Karena itulah Yesus ingin menjalin relasi istimewa dengan anak-anak. Ia ingin agar anak-anak datang kepada-Nya. Ia ingin menjamah mereka dan membiarkan diri dijamah oleh mereka (Mrk. 10:13-14). Yesus ingin agar anak-anak menemukan dalam diri-Nya seorang sahabat dan teman yang sejati.(hal.170)

Selanjutnya, Sinode menegaskan ”Anak-anak mesti diperlakukan secara serius dan tidak diremehkan, sebab dalam diri anak-anak, Allah sendiri hadir. Bahkan anak-anak memiliki penghubung di Surga yang selalu menghantar sukacita dan jeritan kerinduan mereka di hadirat Allah. “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga (Mat. 18:10).(Hal.171)

Lebih lanjut, Yesus mengajak para muridnya untuk memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih seperti yang dibuat-Nya sendiri. Ia memberi para murid-Nya peran dan fungsi pedagogi iman bagi anak-anak. Mereka hendaknya membimbing anak-anak dalam kebenaran dan keadilan. Sebaliknya “barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat. 18:6).

Melalui pelayanan pastoral terhadap anak-anak, Gereja belajar untuk rendah hati dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Gereja dapat belajar untuk bertobat, dengan menerima anak kecil sebagai tanda kehadiran Kristus (Mat. 18:2-5; Mrk. 9:36-37; Luk. 9:48).

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR, berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Gereja hendaknya memiliki kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan dan situasi anak, mendukung dan terlibat dalam kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan finansial. Gereja juga mengusahakan agar lingkungan dan Komunitas Basis Gerejani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, berpartisipasi dan mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen Sinode III KR,166-174)

Salah satu bentuk tindak-lanjut SInode adalah dibentuknya Tim Pastoral Anak (TPA), yang mengembangkan Program Paroki Ramah Anak. Program yang dilaksanakan dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) ini bertujuan agar Gereja, khususnya Paroki menjadi lingkungan spiritual, etik, fisik dan sosial yang menciptakan kesejahteraan anak, di mana hak dasar anak terpenuhi dan anak-anak dilindungi dari kekerasan. Oleh karena itu TPA Keuskupan Ruteng berperan untuk meningkatkan kapasitas Paroki agar mampu menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak secara integral dan holistik.

Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan masyarakat serta turut serta, sebagai pelopor dan pelapor, menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *


*Ermelinda Jihut/Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng


Sumber Gambar: Pinterest

Mengapa Anak?

Berbicara tentang anak dan hak-hak mereka, kita memasuki wilayah yang memerlukan perhatian bersama dari masyarakat, pemerintah, dan individu. Sebuah perjalanan eksplorasi konsep anak dan hak dasarnya mengajak kita untuk merenung, bagaimana kita harus mengupayakan pemenuhan haknya serta memberikan perlindungan, agar mereka terhindar dari kekerasan. Anak-anak adalah pilar utama kehidupan bangsa. Mereka adalah penjaga tradisi dan pengawal masa depan.

Dalam perjalanan hidup mereka, empat hak dasar anak menjadi pilar utama yang  membimbing mereka menuju kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati. Mari kita bersama-sama menjelajahi konsep anak dan hak-haknya.

Siapa itu Anak?

Mengetahui batasan umur anak menjadi krusial untuk menghindari permasalahan yang mungkin timbul. Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak menyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Dua hal penting patut digarisbawahi. ..belum berusia 18 tahun dan ..termasuk anak yang masih dalam kandungan.  Belum berusia 18 tahun berarti sekalipun seorang anak sudah hidup bersama pasangannya, sudah kawin,  bukan berarti dia langsung disebut “bukan anak” lagi. Mungkin secara faktual si perempuan, misalnya, sudah “berstatus ibu”. Tetapi sesungguhnya dia itu, menurut UU tersebut di atas tadi, masih berstatus anak.

Hal kedua, lelaki atau perempuan yang “berpacaran” dengan lawan jenis yang berusia di bawah 18 tahun, sesungguhnya sedang berpacaran dengan “anak”. Jika terjadi kekerasan dalam berpacaran, maka sang pelaku tidak dikenakan hukuman sebagaimana kekerasan yang terjadi pada orang dewasa, tetapi berdasarkan undang-undang perlindungan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 c UU 35 Tahun 2014 tentang perlindungan Anak.

Yang termasuk anak juga bukan hanya mereka yang secara fisik telah lahir ke dunia. UU tersebut di atas menegaskan bahwa anak adalah termasuk mereka yang masih di dalam kandungan. Maka anak yang masih di dlam kandungaan pun harus dijaga, dihormati dan dikasihi. Oleh karena itu tindakan kekerasan, pembunuhan (Aborsi) terhadap anak yang masih berada di dalam kandungan adalah tindakan yang tercela dan tak berprikemanusiaan. Pelaku akan dikenakan hukuman, sebagaimana diatur dalam Pasal 346 KUHP

Empat Hak Dasar Anak.

Perlindungan hak-hak anak adalah tanggung jawab bersama. Konvensi Hak-hak Anak menetapkan empat prinsip dasar hak anak: hak hidup, hak tumbuh kembang, hak partisipasi, dan hak perlindungan. Ini membentuk landasan bagi pemahaman yang holistik terhadap hak-hak anak.

1. Hak Hidup

Hak hidup menjamin setiap anak akses terhadap pangan, perawatan medis, dan lingkungan yang mendukung kehidupan sehat. Program gizi anak dan vaksinasi adalah contoh nyata perlindungan hak hidup.

2. Hak Tumbuh Kembang

Hak tumbuh kembang menjamin anak berkembang secara menyeluruh, termasuk hak atas pendidikan berkualitas. Ini memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi potensinya, seperti mereka dapat mengekspresikan diri melalui seni, tulisan, atau kegiatan kreatif lainnya.

3. Hak Partisipasi

Hak partisipasi memberikan suara kepada anak-anak dalam keputusan yang memengaruhi hidup mereka. Partisipasi dalam keputusan pendidikan dan kehidupan sehari-hari adalah contoh penerapan hak partisipasi.

4. Hak Perlindungan

Hak perlindungan melibatkan perlindungan anak dari eksploitasi, kekerasan, penelantaran, dan diskriminasi. Undang-undang perlindungan anak dan program-program khusus membantu mencegah eksploitasi dan pelecehan.

Pentingnya pemenuhan hak-hak anak tak terpisahkan dari kepentingan dan kesejahteraan mereka sepanjang hidup. Masyarakat, pemerintah, dan lembaga internasional memegang peran penting dalam memastikan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Melalui pemahaman dan penerapan yang baik terhadap hak-hak anak, kita tidak hanya menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki peluang yang sama untuk menjelajahi potensinya dan berkontribusi positif pada masyarakat. Dengan itu, kita berusaha mewujudkan masa depan yang adil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Gereja Keuskupan Ruteng dan Pemenuhan Hak Dasar Anak

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR, berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Gereja berikhtiar memiliki kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan dan situasi anak, mendukung dan terlibat dalam kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan finansial. Gereja juga mengusahakan agar lingkungan dan Komunitas Basis Gerejani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, berpartisipasi dan mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen Sinode III KR,166-174)

Untuk itu, dibentuklah Tim Pastoral Anak (TPA), yang mengembangkan Program Paroki Ramah Anak. Program yang dilaksanakan, dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) ini, bertujuan agar Gereja, khususnya Paroki menjadi lingkungan spiritual, etik, fisik dan sosial yang menciptakan kesejahteraan Anak, di mana hak dasar anak terpenuhi dan anak-anak dilindungi dari kekerasan. Oleh karena itu TPA Keuskupan Ruteng berperan untuk meingkatkan kapasitas Paroki agar mampu menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak secara integral dan holistik.

Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan masyarakat serta turut serta (sebagai pelopor dan pelapor) menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *


Jumat, 08 Desember 2023

 

“Terasa getaran dalam dada. Ya, mirip dengan syair lagu “Inikah Cinta”nya ME, grup music 90-an. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Di mana ada perjumpaan di situ ada getaran Cinta. Hal itu nyata dalam perayaan Ulang Tahun Paroki Kristus Raja Pagal. Anak dan Orang tua “berjumpa: karena dan untuk cinta di medan permainan”.

*Yuliana S. Matur/Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng

otret Anak-anak SEKAMI Paroki Kristus Raja Pagal bersama Pastor Paroki, Pastor Kapelan, DPP dan Para Pendamping SEKAMI
Potret Anak-anak SEKAMI Paroki Kristus Raja Pagal bersama Pastor Paroki, Pastor Kapelan, DPP dan Para Pendamping SEKAMI (Riani Matur)

Tidak seperti minggu-minggu yang lain, di mana anak Sekami Paroki Pagal berkegiatan di ruangan yang biasa mereka gunakan untuk bermain, berdoa, bercerita dan bernyanyi bersama. Hari ini beda. Mereka berbondong-bondong menuju halaman SDK Pagal I, tak menggubris mendung menaungi kota kecil mereka yang dingin dan sejuk ini. Karena, mendung tak berarti hujan, bukan? Tak cuma itu. Yang bikin beda lagi, adalah tidak hanya anak-anak. Kedua orang tua pun turut hadir, menenteng botol minuman, memegang snack, bahkan memikul “ransel kecil Hello Kitty. Tidak ada rasa malu. Semuanya untuk anak! Siapa repot?

***

Pater Abba,OFM (Riani Matur)

“Bukan berarti diskriminatif” kata Pastor Paroki, Pater Abba OFM. “Kita yang dewasa ini hampir setiap minggu, bahkan setiap hari berpesta dan bergembira ria. Biarlah perayaan Ulang Tahun Paroki kali ini, anak-anak yang bersukaria” tambah pastor Fransiskan tersebut.

Benar apa yang sampaikan Pater Abba. Perayaan Gerejani, termasuk Ulang Tahun Paroki, hendaknya tidak saja diisi dengan syukuran, “makan-makan” dan “goyang-goyang”. Perayaaan  gerjani dan acara-acara di Paroki juga mesti melibatkan anak, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam seluruh kegiatan. Mereka diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya masing-masing. 

Mengisi waktu untuk kerja-kerja kreatif dan mengembangkan kreativitas sesuai bakat masing-masing bagi anak, tentu bukan hal yang mudah saat ini. Pelan tapi pasti, ruang dan waktu anak untuk bermain dan bersosialisasi semakin sempit dan berkurang. Ketika halaman kampung semakin dipenuhi oleh infrastruktur dan perumahan yang padat, demikian halaman rumah oleh garasi serta bangunan lainnya, anak-anak akhirnya terkurung dalam rumah.

Anak-anak saat ini tak luput dari paparan teknologi digital. Saban hari, anak bergaul dengan game-game di Gadget-nya. Tak menggubris dunia di sekeliling; orang tua, teman-teman, bahkan tugas-tugas sekolah yang semestinya mereka kerjakan. Melek digital itu baik. Menjadi tidak baik, kalau sebagian besar waktu anak “dipenuhi” dan “dipapar” dengan aplikasi dan informasi dari internet. Bukankah aktivitas dan gerak fisik itu juga diperlukan dan bahkan penting?

Bermain memiliki fungsi dan manfaat bagi anak, yaitu dapat mengasah keterampilan fisik, kreativitas, kepribadian, serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan dalam diri anak. Selain itu dengan bermain dapat menstimulasi indera anak dan menjadi sarana untuk dapat mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Kesadaran itulah yang menggerakan Pendamping Sekami, OMK Paroki dan Pastor Paroki Kristus Raja Pagal untuk merancang Perayaaan Hari Ulang Tahun Paroki Pagal yang ke-84 dengan kegiatan-kegiatan anak. Perayaan ulang tahun yang dilaksanakan pada setiap Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini diselenggarakan selama dua hari, 25-26 November 2023.

***

“Anak-anak perlu belajar mencintai lingkungan” kata Peter Unggas, Pendamping Sekami sekaligus Ketua OMK Paroki Pagal. ” Mungkin kita tidak harus ajak mereka naik ke bukit untuk menanam pohon atau penghijauan di mata air. Membersihkan lingkungan dengan gerakan memungut sampah adalah pembelajaran praktis bagi mereka untuk mencintai lingkungan” tambahnya.


Sabtu, 25 November 2025, Anak-anak Sekami bersama OMK memenuhi jalanan, halaman rumah dan lingkungan gereja. Tak cuma bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, aksi pungut sampah yang dilakukan oleh anak-anak dan orang muda ini juga merupakan bentuk promosi.Secara tidak langsung mereka ingin mengajak orang tua dan kaum dewasa untuk mengupayakan lingkungan yang bersih dan sehat.

 ***

Minggu, 26 November 2023. Anak-anak bersukaria dan bergembira ria. Mereka menikmati setiap permainan dengan penuh sukacita. Gelak tawa tak tertahan sepanjang permainan. Sukacita yang asli, tanpa kepalsuan, tanpa dibuat-buat. Juga ada saat di mana wajah-anak tampak serius dan tegang. Sekalipun lebih mengedepankan unsur hiburan, tetapi semangat kompetitif untuk menjadi pemenang juga tak bisa dipungkiri dari jiwa kehidupan anak-anak.

“Mengasah kecerdasan kinestetik anak serta melatih kepercayaan diri anak” demikian Ibu Rian, pendamping Sekami Paroki Pagal, mengomentari Lomba Lari Karung yang diikuti anak-anak.

Anak-anak juga dilatih kekompakaan dan kerja-sama melalaui lomba Estafet air. Mereka duduk berkelompok. Setiap kelompok berbaris duduk, air yang telah dituang didalam baskom diberikan ke anggota kelompok tanpa berbalik badan dan memberikannya melawati atas kepala, air tidak boleh sampai jatuh. Selanjutnya, peserta yang berada di paling belakang akan menerima air dan berlari ke depan untuk disimpan.

“Lomba ini melatih kami untuk kompak, harus cepat dan bisa bekerja sama.” Kata Juan, anggota Sekami Paroki Pagal.

***

Orang-tua tak berpangku tangan. Tak henti-hentinya mereka bersorak sepanjang permainan. Anak mana yang tidak bangga melihat kedua orang tua hadir, dan mau “bermain bersama”. Kedua orang tua hadir memberikan apresiasi. Yang menang dipeluk-peluk. Yang kalah ditepuk-tepuk. Dukungan orang tua dalam setiap kegiatan yang diminati dapat mendorong setiap anak untuk lebih percaya diri dan berani berkompetisi.

Tak cuma melibatkan anak-anak. Tim Panitia pun mengikutsertakan orang-tua dalam perlombaan. Bapa menggendong Mama, lalu berlari menurtu garis finish. Romantis, bukan? Kali ini anak-anak yang menjadi “tim support”; berlari, jingkrak-jingkrak, berteriak mendukung “papa-mama” nya bermain bersama. Tidak ada rasa kecewa. Yang menang dipeluk-peluk. Yang kalah ditepuk-tepuk.

Permainan Bakiak selanjutnya menguji kekompakan keluarga. Bapa-Mama-Anak di satu media permainan. Langkah kaki mereka harus kompak sampai di garis finish. Ada yang berhasil sampai, ada pula yang harus tumbang di tengah jalan. Tak ada “saling marah” saat jatuh. Mereka saling membantu untuk melanjutkan permainan. So sweeeet lah.

***

Perayaan Ulang Tahun Paroki Pagal berlangsung sehari, bahkan tidak sampai setengah sehari pula. Tetapi sukacita dan kegembiraannya terbawa terus dalam cerita-cerita di meja makan keluarga, teristimewa di ruang ingatan dan kenangan anak-anak.

Kegiatan Anak dan Orang-tua yang diselenggarakan oleh Tim Pastoral Anak Paroki Pagal ini adalah implementasi Program Paroki Ramah Anak. Paroki Pagal, dalam upaya menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan, pemenuhan Hak anak serta perlindungan anak, mendapat dukungan dari Tim Pastoral Anak Keuskupan Ruteng, dalam kerja-sama dengan Wahana Visi Indonesia.

***

Gereja Keuskupan Ruteng sendiri, dalam Sinode III KR, berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Untuk itu, gereja mesti memiliki kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan dan situasi anak, mendukung dan terlibat dalam kegiatan anak, termasuk memberikan dukungan finansial. Gereja juga mengusahakan agar Lingkungan dan Komunitas Basis Gerjani (KBG) menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, berpartisipasi dan mendapatkan Perlindungan. (Bdk. Dokumen Sinode III KR,166-174) 

Dengan demikian, “Semua anak bersukacita karena haknya terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan masyarakat serta turut serta, sebagai pelopor dan pelapor, menciptakan lingkungan yang mengupayakan kesejahteraan anak” *

Sabtu, 02 Desember 2023

 *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.


Masa Adven menandai masa persiapan yang berlangsung empat pekan berturut-turut menjelang Natal  

Minggu, 03 Desember 2023 adalah pekan pertama umat Katolik memulai masa penantian, yang lazim disebut masa Adventus. Adventus diambil dari kata bahasa Latin, “Ádventus” yang berati kedatangan. Adventus dalam tradisi Kristen Adventus dipahami sebagai masa persiapan kedatangan Yesus Kristus di hari Natal. Masa penantian yang terbagi atas 4 pekan ini, memiliki dua makna mendalam. Pertama, terhubung dengan peristiwa kelahiran dan inkarnasi. Kedua, menunjukkan penantian kedatangan Yesus di masa depan.

Lingkaran Empat Minggu Adventus!

Bagi Umat Katolik, Minggu Pertama Advent, menfokuskan diri pada permenungan kedatangan Kristus di akhir zaman dan penghakiman terakhir. Untuk itu, semua umat beriman diajak untuk hati-hati dan berjaga-jagalah. Umat Kristiani diminta untuk tidak terlena dengan kemilauan dan kemerlapan dunia, terbawa oleh arus lautan kehidupan duniawi. Sebaliknya, arahkanlah pikiran, hati dan batin kepada Tuhan, sebagai puncak pemenuhan segala peziarahan di dunia. Akan banyak tanda-tanda dan peristiwa yang mencengangkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan. Namun Kristus, Sang Anak Manusia, akan datang “dari balik awan” yang menebus, menguduskan dan menyelamatkan dunia dan segala ciptaan.

Pada Minggu Advent Kedua dan Ketiga, Johanes Pemandi menjadi tokoh sentral. Figur pemuda “padang gurun’ ini memberikan pemaknaan pada penantian. Bahwa menanti bukanlah “kerja pasif’ nirmakna, melainkan aktif-konstruktif. Ia tidak diam menanti, dan takluk pada kesunyian padang gurun yang gersang. Ia lantangkan suara, mengajak semua orang untuk bertobat; meningggalkan cara hidup lama, meluruskan jalan kehidupan yang bengkok dan berlekak-leluk, menyucikan diri dan  berubah untuk berbuah. Yohanes menanti dengan keugaharian. Kesederhanan; ia berpakaian kulit unta dan dikenyangkan dengan belalang dan madu hutan. Sebuah sikap “pengosongan” diri untuk menyambut “kepenuhan” dalam diri Yesus, Sang Imanuel.  Ia juga menanti dengan kerendahan hati. Tak bosan-bosan Ia menyampaikan kepada khalayak yang berjubel mengerumuminya di sekitar sungai Yordan, bahwa bukan dia yang dinanti, tapi Mesias sejati”. “Bahkan membuka tali kasutnya pun aku tidak layak” kata Yohanes. (Yoh 1:27)

Minggu Advent Ketiga juga disebut minggu Gaudete, yang berarti bersukacitalah. Kata sifat “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Tuhan menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat.

Minggu ketiga Adven adalah titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung selama empat minggu. Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan matiraga itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita. Minggu Gaudete ini juga mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Maka perlu dikembangkan harapan yang akan menumbuhkan kesabaran dan ketekunan, untuk mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan tantangan hanya jika kita sadar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk Yak 5:7-10

Bunda Maria menjadi fokus utama pada Minggu Adven Keempat. Selain karena bacaan Injil Minggu keempt Adven berbicara tentang peristiwa kabar gembira, Gereja Katolik juga memberikan penghormatan kepada Bunda Maria dalam perayaan Bunda Maria yang dikandung tanpa Noda pada masa Adven, tepatnya setiap tanggal 08 Desember. Menanti kedatangan Tuhan bersama Maria berarti menanti dengan penyerahan yang total kepada Tuhan dan percaya pada penyelenggaraanNya. “Fiat voluntas tua”: Terjadilah padaku menurut perkataanMu. Terkadang masa penantian itu membosankan, membingungkan, melelahkan. Tak pelak, kita melarikan diri pada hiburan-hiburan yang tidak sehat. Kemudian jatuh terjerembab pada lumpur dosa atau hancur pada bebatuan dosa, lalu menjadi butiran debu. Maria mengajak kita untuk setia pada penyelenggaraan Allah yang tak pernah meninggalkan umat-Nya seperti yatim piatu (Bdk. Yoh 14: 18a)

Adventus: Sejarah dan “Goldene Legende”

Adven sudah dikenal sejak akhir abad keempat. Mula-mula hanya berlangsung selama tiga minggu. Karakter utama dari masa penantian tiga minggu ini adalah diwarnai dengan doa dan asketisme, yaitu puasa. Persis masa puasa yang dijalan pada  masa sebelum perayaan Paskah. Adven ini dipraktikkan di Roma pada abad keenam. Yang ini lebih lama panjang lagi. Masa penantian membentang hingga enam minggu. Baru sejak Paus Gregorius I, yang juga dikenal sebagai Paus Agung (590-604), mempersingkat masa Adven menjadi empat hari Minggu. Sejak Konsili Trente (1545-1563), Adven telah ditetapkan selama empat minggu di seluruh gereja.

Goldene Legende (Legenda aurea), yang ditulis antara tahun 1236 dan 1273, merangkum keragaman pemikiran dan isi masa  Adven.  Empat minggu Adven menunjukkan empat makna kedatangan Kristus di masa yang akan datang: pertama, Dia akan datang ke dunia, menjumpai dan merangkul kita manusia dalam kemanusiaan kita, kebertubuhan dan keberjiwaan, kegembiraan dan kederitaan, kemuliaan dan kehinaan manusia. Kedua Dia datang dengan kepenuhan kasih karunia ke dalam hati manusia. Ia membakar api kemuliaan dan keilahian dalam hati manusia agar tetap berkanjang dalam persekutuan cinta dengan Allah. Ketiga, Dia datang kepada kita manusia dalam kematian. Kristus memasuki realitas kematian kita. Dengannya tubuh dan jiwa manusia yang fana diterangi cahaya kebangkitan. Keempat, Dia akan datang kembali pada saat penghakiman terakhir. Dia adalah raja adil yang menghakimi manusia berdasarkan perbuatan-perbuatan manusia. “Apa yang kau lakukan bagai salah seorang dari saudaraku yang hina dina ini, itu engkau lakukan untuk aku”. (Bdk Mat 25:40). Dan manusia pendosa akan mendapat hukuman setimpal. Namun oleh kasih karunia-Nya yang tanpa batas, Ia duduk di “kursi terdakwa”. Bukan untuk menghilangkan tanggung hukuman manusia akibat dosanya, tetapi ia sendiri “memikul” hukuman atas manusia, seperti yang telah ia telah tunjukkan pada peristiwa Salib.

 

Adventus dan Adventkranz

Karangan Bunga (Adventkranz) ditempatkan di dalam Gereja, biasanya di samping Altar, sejak Minggu Pertama Advent. Karangan Bunga terbuat dari dedaunan hijau yang dibuat melingkar. Di atas karangan bunga tersebut diletakkan empat lilin. Satu lilin dinyalakan setiap hari minggu, hingga semua lilin menyala pada malam Natal. Cahaya itu dimaksudkan sebagai simbol Yesus Kristus yang lahir pada hari Natal sebagai terang dunia yang sebenarnya.

Sejak tahun 1860 dan seterusnya, cabang pohon cemara digunakan sebagai hiasan karangan bunga Advent. Cabang-cabang pohon cemara adalah simbol kehidupan: pohon cemara juga menghijau di musim dingin dan mengacu pada harapan bahwa alam akan membangkitkan kehidupan baru di musim semi.

Minggu I Adventus: Menanti Sambil Berjaga-Jaga!

Bacaan Injil yang direnungkan oleh umat Katolik pada minggu I Advent diambil dari Markus 13:33-37. Umat Katolik diajak untuk menantikan kedatangan Sang Juruselamat sambil mawas diri dan berja-jaga. “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah” (Mrk 13:33). Ajakan untuk berjaga-jaga pada penggalan perikop ini tak dapat dilepas-pisahkan dengan serangkaian ayat sebelumnya (14-32) di mana perihal “Berjaga-jaga” ditekan berulang-ulang.

Mrk 13:14-32 berbicara tentang Kehancuran Yerusalem dan akhir Zaman. Dua tema yang menghadirkan kegentaran dan kegetiran. Seperti ketika ranting-ranting melembut dan mulai bertunas sebagai petanda musim panas sudah dekat, demikian ketika melihat bangsa Yahudi dikacaukan oleh Perang, dibingungkan oleh mesias-mesias dan nabi Palsu, serta pelbagai kemunafikan dan kedengkian merajalela, itulah pertanda bahwa kehancuran Yerusalem sudah dekat, bahkan diambang pintu. Demikian pula tentang akhir dunia itu mencemaskan. Segalanya tak pasti. Waktunya sudah ditetapkan dalam rencana Allah, tetapi tidak diwahyukann melalui Firman Allah kepada siapapun, entah itu kepada manusia-manusia di bumi ataupun kepada malaikat di surga. Dan bahkan Anak pun tak tahu. Hanya Bapa di surga (Mrk 13:32). Namun, adakah sesuatu yang tidak diketahui Anak? Dr. Lightfoot menjelaskan hal ini sebagai berikut, "Kristus menyebut diri-Nya Anak, sebagai Mesias. Mesias dalam hal ini adalah hamba Bapa (Yes. 42:1), yang diutus dan yang mewakili Bapa. Oleh karena itu, Dia selalu mengarahkan diri-Nya kepada kehendak dan perintah Bapa-Nya, dan Dia mengakui bahwa Dia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri" (Yoh. 5:19). Berdasarkan pikiran ini, kita bisa mengatakan juga bahwa Dia tidak dapat mengetahui sesuatu dari diri-Nya sendiri. Pewahyuan yang disampaikan Yesus Kristus adalah apa yang dikaruniakan Allah kepada-Nya (Why. 1:1).

Maka untuk dua hal tersebut, kehancuran yang menakutkan pun pula akhir dunia yang membawa ketidakpastian dan pesimisme, Sabda Tuhan meminta kita untuk berjaga-jagalah senantiasa. Orang yang berjaga-jaga, mawas diri-mawas hati akan selalu “posisi siap siaga” ketika sesuatu bakal terjadi. Diumpamakan hal berjaga-jaga itu seperti hamba-hamba dan penunggu rumah menantikan kedatangan tuannya. Mereka tidak boleh berjaga-jaga sambil “ngelamun” atau “duduk kosong”. Itu menjadi “pintu masuk” menuju “kenyenyakan”. Padahal mereka tidak ingin kedapatan tertidur lelap saat tuannya pulang. Untuk itu mereka mesti berjaga-jaga yang aktif, bukan pasif. Artinya berjaga-jaga sambil melakukan kerja-kerja kreatif agar penantian itu bermakna. Dan, tentu sambil berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat 26:41)

Paroki Ramah Anak: Pastoral Berjaga-Jaga!

Semua orang tua berharap, anak-anak mereka menjalani masa-anak dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Mereka bertumbuh dan berkembang dengan baik, dengan fisik yang kuat dan jiwa yang sehat, penuh dengan keceriaan. Mereka melewati masa kanak-kanak dengan senyum, muka gembira,dan  tawa canda, tanpa rasa takut dan getir. Mereka mendapatkan kasih sayang  dari orang tua, sanak-saudara, guru, orang-orang terdekat. Mereka memandang masa depan dengan penuh harapan, optimis tanpa kekuatiran. Disemogakan, amin.

Namun  “ancaman kehancuran seperti Yerusalem” saat ini sepertinya pelan-pelan menyuramkan senyuman pada bibir suci anak-anak. Mesti diakui, anak-anak, pun orang tua sedang mengalami kegentaran, ketakutan dan kekuatiran. Lingkungan kita, saat ini, sekali saat ini, tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk anak-anak. Kita semua takut, kalau-kalau terjadi sesuatu yang “bukan-bukan” dengan anak-anak. Kita berasumsi bahwa lingkungan sekitar, hidup bertetangga, teman bermain adalah tempat yang nyaman untuk anak-anak. Belum tentu! Kita berharap bahwa sekolah menjadi tempat yang ramah anak. Tidak pasti! Kita percaya bahwa rumah dan sanak saudara menjadi ruang yang nyaman bagi anak-anak kita. Tidak yakin! Kita amat berharap bahwa lingkungan rumah ibadat dan keagamaan adalah tempat yang super-aman bagi anak-anak. Hmmm, belum tentu. Kita pun akhirnya hidup dalam ketidakpastian tentang anak-anak, seperti kapan akhir zaman terjadi, yang kita tidak tahu pasti.

Berita-berita dan saksi mata menunjukkan bahwa kekerasan dan “penjajahan” justru dilakukan oleh teman sepermainan. Sekolah menjadi “sarang”pembulyan, kekerasan fisik dan verbal, bahkan kekerasan seksual. Orang-orang terdekat justru mejadi “predator” anak. Kekerasan Seksual juga terjadi di tempat ibadat dan lembaga keagamaan yang maha suci. Ya Tuhaaan.

Lalu, kita buat apa?

Paroki Ramah Anak (PRA) Keuskupan Ruteng dalam kemitraan dengan Wahana Visi Indonesia adalah salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak. anak. PRA adalah sebuah Pastoral Berjaga-jaga untuk menciptakan lingkungan yang memenuhi hak dasar anak dan melindungi anak dari kekerasan.

Agar terpenuhinya Hak Dasar Anak, PRA melalui kegiatan Anak Sekami membuka kesempatan bagi untuk bertumbuh secara iman-spiritual, mengembangkan bakat dan ketrampilan, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Gerejani serta menghidupi semangat cinta kehidupan anti kekerasan. Mereka belajar untuk solider dengan sesama khususnya yang menderita. Juga dibiasakan mencintai lingkungan hidup melalaui kegiatan ekologis. Agar anak bertumbuh dengaan sehat, PRA menfasilitasi penyediaan Jaringan Air Bersih dan Jamban bagi keluarga miskin sederhana dalam koordinasi dengan desa PFA. Demikian pun kesehatan Ibu dan Anak diprioritaskan melalaui program kebun gizi keluarga.

Agar terciptanya lingkungan yang aman bagi anak, PRA mendampingi, menumbuhkan motivasi serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman orang dewasa yang terhubung dengan dunia anak. Mereka diberi pengetahuan dan pemahaman tentang  Martabat Anak senagai ciptaan Tuhan, tentang Hak-Hak dasar Anak, Jenis-Jenis Kekerasan terhadap Anak dan upaya perlindungan kepada Anak. Mereka dikapasitasi dengan Modul Pengasuhan Dengan Cinta (PDC), agar tidak mengasuh anak dengan rotan, cacian dan makian. Melalui rekolesi, Katekese, dan Misa mereka disadari tentang Anak sebagai Anugerah Tuhan dan mengasuh anak sebagai perpanjangan kerja Tuhan yang mencipta dan memelihara dunia dan ciptaan dengan penuh cinta. Mereka adalah pemimpin-pemimpin agama (faith leaders), Orang tua, Guru, Orang Muda, tokoh pemerinah dan masyarakat.

Agar anak terlindungi, PRA membentuk Referal System melalaui tim CHAT yang ada di paroki. Dengan adanya Referal system ini diharapkan bahwa perlindungan anak dari kekerasan semakin nyata. Masyarakat dan umat pun termotivasi dan semakin aktif menjadi pelopor kampanye anti Kekerasan dan Pelapor terjadinya kekerasan terhadap anak-anak.

Berjaga-jagalah dan kerja-kerja nyata!*


Bahan Bacaan:

Adventszeit: Ursprung und Bedeutung der Vorweihnachtszeit: Volkstimme.de

Religion und Gesslschaft” Wie und warum feiern wir Advent? : Mdr.de

 “Matthew Henry Commentary”: Bible Interpretation Application.

  OM Keuskupan Ruteng,“ Booklet Diseminasi Kemitraan LkP3 KR-Wahana Visi Indonesia” , Ruteng: 2022