*RD. Benediktus Gaguk
Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia
![]() |
| Sumber gambar: Pinterest |
Lukas 2:1-14
Yang aku kasihi
Anak-anak, orang-orang Muda, Bapa Mama
Di Ruteng
Apa
kabarmu sekalian di malam ini? Aku yakin pasti semuanya sedang bersukacita
menyambut kelahiranku di dunia. Meskipun aku lahir ribuan tahun lalu, namun
cerita, sukacita, dan perayaannya tak berhenti di padang gembala Efata, tidak
saja menghiasi hati para gembala yang sedang berjaga. Kelahiranku senantiasa
dikenang, dihidupi dan dirayakan hingga saat ini dan sampai nanti juga di
Ruteng, kota dingin dan sejuk di kaki pegunungan Mandosawu, tempat di mana
kopi, kompiang dan hujan membuat Ruteng menjadi kota kecil yang romatis dan
penuh kenangan. Bukankah setiap genangan hujan selalu menjadi kenangan. Bahkan
ada yang bilang, rintik hujan di Ruteng, meninggalkan 10 % genangan. 90%-nya adalah
kenangan. Ah, gara-gara mengingat kotamu, aku
jadinya romantis juga ni.
Aku
terharu dan gembira bagaimana orang-orang Ruteng menyambut kelahiranku. Lampu-lampu
menghiasi jalan-jalan, juga kandang natal berdiri hampir di setiap lorong dan
jalan. Lagu-lagu Natal menggema, di antara alunan suara kelompok koor yang
sedang mempersiapkan nyanyian liturgi di hari Natal. Kompleks Gereja ditata dan
dihiasi dengan ornamen-ornamen Natal yang menambah semarak persiapan kelahiran
Kristus. Meskipun tahun ini tidak sebegitu meriah di tahun-tahun sebelumnya.
Mungkin karena harga sembako terus naik, sehingga orang-orang tak punya dana
cukup untuk membeli lampu dan hiasan Natal. Semoga itu alasannya dan bukan
karena tidak antusias dan kurang semangatnya kalian semua menyambut
kelahiranku?
Aku
juga melihat, hari-hari terakhir ini, kota kita ramai dikunjungi. Manusia
berjubel, antri dan berdesakan. Lagu Natal dari toko musik seolah mengiringi
wajah-wajah ceria yang ingin tampil sebaik-baiknya di hari Natal: baju baru,
gaun yang bagus, sepatu, arloji, dandanan dan aksesoris lainnya. Kurir paket
dan Jasa titip pun keluar-masuk gang. Rupanya angka pembelian di Online Shop pun terus meningkat pada
pekan-pekan menjelang hari raya seperti ini. Betapa kelahiranku membawa berkah
untuk semua orang. Wah aku jadi terharu.
Tetapi apakah itu semua menjadi pertanda bahwa kelahiranku membawa
sukacita sejati?
Itu belum cukup! Sukacita tidak terhubung dengan sesuatu yang bersifat
duniawi, yang fana, terbatas dan selesai. Sukacita bukanlah bahasa “percakapan”
dunia dengan segala kegembiraan, kenikmatan, dan kemilauannya. “Keenakan”
duniawi lebih pas dibilang “senang-senang” daripada “sukacita”. Ia tidak
bertahan lama, cepat bosan dan rapuh. “Bersukacitalah sementara”, dalam konteks
ini adalah ungkapan yang cocok.
Sukacita
lebih tepat “dipercakapkan”, dipahami dan dimaknai sebagai “bahasa surgawi”.
Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16), yang dinasihati oleh Rasul Paulus hanya
dapat dialami dalam hubungan dengan Allah. Sebab yang “senantiasa”, tetap,
abadi hanyalah dalam Allah. Di dalam Dia sukacita kita selalu menjadi penuh.
Saudara-saudariku,
pada perayaan kelahiranku di dunia, tahukah kamu, mengapa dan untuk apa aku
datang ke dunia? Mengapa aku “mau-mau” saja dan rela meninggalkan rumah surgawi
yang nyaman dan penuh kebahagiaan dan turun ke dunia, yang kamu bilang dunia
yang keras, kejam dan penuh dengan masalah dan penderitaan ini? Untuk itu aku
mau menceritakan satu kisah:
Menjelang Misa Kelahiranku, seorang Ibu bergegas
menuju Gereja. Ketika melewati ruang tamu, ia melihat suaminya sedang serius
dengan Handphone dan buku catatan di meja tamu. “ Bapa, tidak ke Gereja kah?”
tanya si Ibu.
“Kamu saja Ma. Aku sudah bosan, dari dulu pergi Misa
Natal terus. Aku belum mengerti “ Mengapa Yesus itu datang ke dunia. Tidak mau
aman-aman saja di surga? Untuk apa dia datang?
“Untuk menyelamatkan kita, Pa!” jawab Ibu.
“Dia bisa ator dari surga to? Kenapa pusing-pusing
datang ke dunia?” ketus si Bapa.
Pergilah si Mama sendirian. Si Bapa melanjutkan “rutit-ratitnya”
dengan handphone, sambil menghitung angka-angka di buku catatan. Rupanya dia
asyik mengirimkan sejumlah “transferan” ke anak rona: di Sidney, Hongkong, dan
Kamboja.
Ketika sedang asyik kirim-mengirim, tiba- tiba ada
keributan di pintu rumah. Si Bapa bergerak ke pintu, dan ketika ia membuka
pintu, masuklah segerombolan kambing piaraannya, yang terlepas dari kandang..
Si Bapak kalang kabut. Kambing-kambing pun memenuhi seluruh ruangan tamu.
Si Bapak berusaha menghalau kambing-kambing, tapi tak
satu pun yang mau keluar. Setelah lama berjuang, akhirnya si Bapak menemukan
Ide. Ia mengambil selimutnya yang berwarna belang-belang, dan kemudian membungkus badannya. Dipasangnya
kemoceng, pembersih debu, pada pinggangnya. Dipakainya bando Natal isteri yang
ada tanduk rusanya. Lalu mengambil posisi merangkak. Maka, jadilah ia seperti
seekor kambing. Pelan-pelan ia bergerak keluar pintu sambil mengembik, “mbee-mbeee”.
Sepert kambing, si Bapak merangkak menuju kandang, dan melihat itu,
kambing-kambing pun mulai bergerak mengikutinya dari belakang.
Ketika ia dan semua kambing berada di dalam kandang,
Isterinya yang pulang misa Nata,
terheran-heran melihat suaminya.
” Pa apa yang kau lakukan dengan kambing-kambing itu?
Ih, menjijikkan tahu?
“Ma, tadi pas Mama ke Gereja, kambing-kambing ini
terlepas dari kandang dan masuk ke ruang tamu. Saya setengah mati mengusir dan
membawa kembali ke kandang. Akhirnya aku menemukan ide. Saya berdandan seperti
kambing, dan kemudian berjalan merangkak di depan mereka. Dan ternyata
berhasil, mereka semua ini mengikuti aku sampai masuk ke kandang. Pintar to?
“Pa begitu pula
Yesus. Seperti bapa menjadi kambing, lalu kambing-kambing itu ikut
berjalan menuju kadang, demikian Yesus datang ke dunia menjadi seperti manusia.
Supaya dia depan dan kita dari belakang bersama-sama menuju kandang
keselamatan.
Anak-anak,
orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.
Demikianlah
alasan mengapa aku datang ke dunia. Seperti yang dipikirkan si Bapa tadi, untuk
menyelamatkan manusia, aku kan tinggal “stel”dari surga. Tetapi bagiku, tidak
demikian. Untuk menyelamatkan manusia, aku terlebih dahulu menjadi sepeti
manusia. Aku harus blusukan ke dunia, untuk mengalami situasi yang kalian
alami; bagaimana menjadi manusia, suka dan duka, kebahagiaan dan kesusahan,
manis dan pahit, sukacita dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Untuk
menyelamatkan kamu semua, aku harus mengalami kehidupan kalian manusia, berada
bersama kalian, sehingga kami menyebut aku Immanuel, “Allah yang tinggal
beserta kita”
Inilah
yang disebut para teolog dengan istilah Inkarnasi: Allah menjadi manusia, Sabda
menjadi daging dan tinggal di antara kita manusia. Dengan kelahiran aku di
dunia, yang selama ini penuh dengan dosa, kegelapan dan penderitaan, dikuduskan
dan ditebus. Kelahiran aku, membawa Surga ke bumi, yang kemudian kamu selalu
daraskan dalam doa Bapa Kami: Jadilah kehendakmu, di atas bumi seperti di dalam
surga.
Anak-anak,
orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.
Bacaan
injil yang dibacakan oleh pastor tadi berkisah tentang saat-saat kelahiranku.
Dan itu benar. Bukam dikarang-karang. Lukas menulis, bahwa aku dilahirkan bukan
dari keluarga bangsawan, kaya raya dan orang berada. Aku tidak dilahirkan di
sekitar Istana Herodes, atau di tengah keluarga dari kalangan pemuka agama di
Yerusalem. Aku lahir di keluarga Mama Maria dan Bapa Yosef yang sederhana.
Kisah
kelahiranku sangat dramatis. Waktu itu, Bapa dan Mama harus ke Betlehem, ke
kampung halaman dari Bapa Yosef, untuk mengikuti sensus penduduk, sebagaimana
diatur oleh pemerintahan Romawi saat itu. Perjalanan sangat jauh. Mama
menunggang Keledai dan Bapa berjalan kaki sambil menuntun Keledai yang
ditunggai mama Maria. Aku membayangkan begitu sulitnya perjalanan mereka
berdua. Lapar, haus, letih dan lesu. Panas terik dan dinginnya hujan tentu
mewarnai perjalanan pasangan muda tersebut.
Mama pasti menahan rasa sakit, karena aku dalam waktu dekat akan lahir. Di
tengah situasi itu, Mama mungkin cemas dan ragu pula, jangan-jangan, Bapa
Yosef, putus asa dan meninggalkan Mama di pinggir jalan, sebagaimana Bapa dulu
berencana menceraikan mama diam-diam, karena malu dengan orang banyak. Tetapi,
Bapa adalah orang yang tulus hati. Seandainya Bapa Yosef hidup pada zaman
sekarang dan pandai menyanyi, mungkin sambil memandang wajah Mama di atas
Keledai, ia bernyanyi: Jangan pernah kau
ragukan, ketulusan hati ini, walau tak pernah aku berkata sayang, namun semua
cintaku untukmu. Tak ingin diriku, berkata tentang janji, biarlah semua wajar
dan biasa-biasa saja. Bagiku dirimu, di atas segalanya, yang ada di dalam
kehidupan ini. Mendengar itu, mama juga tidak kalah. Mungkin dari atas
Keledai, sambil menahan rasa sakit, ia bernyanyi lembut: Aku masih di sini untuk setia. Romantis bukan? Wah, semoga
keluarga-keluarga di Keuskupan Ruteng juga, di tengah kesulitan hidupnya, tetap menjaga keromantisan.
Setiba
di Betlehem, aku pun dilahirkan. Hanya Mama, dan Bapa sendiri yang membantu
persalinan. Ditemani hewan ternak para gembala dan bintang-bintang malam yang
bertaburan di langit. Sunyi. Sepi. Sendirian. Tak ada sanak saudara bapa yang
tinggal di Betlehem datang menenami. Mereka bahkan tak punya tempat bagi kami
untuk menginap. Untung Bapa Yosef menghabiskan masa kecilnya di Betlehem, dan sering
bermain di padang gembala. Dia membawa Mama ke sebuah Gua, yang biasa dipakai
oleh para gembala untuk kandang ternak. Sungguh sebuah peristiwa besar nan
sukacita bagi kami sekeluarga, meski dialami dalam kesederhanaan dan serba
keterbatasan.
Aku
bersyukur dilahirkan di kandang ternak. Aku benar-benar mengalami kesukaran dan
penderitaan hidup manusia, sejak aku dilahirkan. Aku mengambil bagian dalam kehidupan
manusia, bukan sebagai seorang anak yang gagah perkasa, yang berkelimpahan dan
penuh kemewahan, bukan sebagaai anak raja yang lahir di singgasana, tetapi
sebagai bayi yang sedernana, dibungkus kain lampin dan dibaringkan di palungan,
tempat makanan ternak. Sejak awal aku
mengalami kegalaun hidup sebagai manusia. Walaupun dalam rupa Allah, aku
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, aku telah
merendahkan diri mula-mula di kandang hina dan sederhana.
Anak-anak,
orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.
Aku
bersyukur lahir di tengah keluarga yang miskin harta tetapi kaya akan cinta.
Bapa dan mama yang tulus, jujur, apa adanya dan setia bertahan di tengah
kesulitan dan keterbatasan hidup yang mereka alami. Aku juga berharap, malam
ini, aku boleh lahir di tengah keluarga Bapa dan Mama di Keuskupan Ruteng, kota
seribu gereja, yang umatnya memiliki iman yang teguh, harapan yang kuat dan
cinta yang iklas. Yang serani sai, kontas
bokak. Nggelok ranga, Nggeluk Nai. Aku ingin lahir di tengah keluarga Bapa
dan mama di Keuskupan Ruteng, yang sederhana: saling menerima apa adanya, tidak paksa
diri untuk memiliki harta dan kekayaan dengan menghalalkan segala cara.
Keluarga yang jujur tanpa saling
menyembunyikan, yang saling mengasihi tanpa kalkulasi, yang tidak cepat putus
asa di tengah kesulitan hidup, yang setia pada janji perkawinan, tanpa tergoda
pada rumput tetangga. Karena bukankah keluarga dipanggil pertama-tamap bukan
untuk sukses, tetapi untuk setia.
Anak-anak,
orang-orang Muda, bapa dan Mama terkasih.
Situasi di Betlehem tidak memungkinkan bagi aku untuk lanjut menulis surat ini. Peluru-peluru berdesingan di langit Padang Efrata. Bom meledak di mana-mana. Tangisan dan teriakan anak-anak terdengar di seluruh penjuru. Situasi politik sedang tidak baik-baiknya antara Israel dan Palestina. Aku tahu situasi politik di Indonesia, juga di Ruteng beberapa bulan ke depan akan semakin panas. Semoga tidak terjadi pergolakan dan pertumpahan darah. Hargailah perbedaan pilihan politik. Ingat pesan orang tua kalian di Manggarai: pemilu itu sekali lima tahun. Keluarga itu selama-lamanya. Politik hitu salang tuak, keluarga agu ase kae, saleng wae teku tedeng.
Akhirnya,
balaslah suratku, melalui cara hidup dan kesaksian imanmu setiap hari. Mendung
menanti hujan, rindu menanti balasan. 4 x 4 enambelas. Sempat tak sempat harap
dibalas.
Aku
yang selalu merindukanmu.
Yesus,
anak Daud.

.jpg)

%20best%20friends%20with%20Jesus.jpg)









%20(1).jpeg)