Just another free Blogger theme

Sabtu, 03 Februari 2024


  *RD. Benediktus Gaguk

Manager Kemitraan Pastoral Anak Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia.


Sumber Gambar : Pinterest


Bacaan: Mrk 1:29-39

Mama itu adalah pemain sandiwara terbaik seluruh dunia, karena Ia pandai dan paling pintar berpura-pura.

Anak-anak, orang-orang muda, bapa-bapa dan yang teristimewa mama-mama yang terkasih di dalam Kristus. 

Yesus kembali berada di Kapernaum, sebuah kota yang terletak di tepian danau Galilea. Seperti biasa pada hari Sabat, Yesus memberikan pengajaran di rumah ibadah, di hadapan warga sekota yang berbondong-bondong hingga berdesakan mengikuti Dia. Orang-orang selalu takjub dan terpesona dengan Yesus, karena Ia mengajar dengan penuh kuasa.

Yesus bukan saja pewarta Sabda, tetapi juga pelaku Sabda. Tak hanya berhenti di kata-kata dan di pengajaran, tidak hanya 'menetap' di mimbar sabda, 

Yesus selalu turun menjumpai manusia, menyapa setiap pribadi, merangkul yang letih lesu dan berbeban berat dengan kasih yang tulus.

Ia membawa mimbar sabda ke bukit-bukit, ke tepian danau, ke ladang menabur benih, ke kota, ke pelosok-pelosok desa, ke pasar, hingga menembus masuk ke dapur mertua Simon Petrus.

Dan injil hari berbicara tentang pelayanan Diakonia Yesus pasca pengajaran-Nya di rumah ibadat.

Dikisahkan, menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan. Orang-orang pun mencarinya hingga subuh. Kata murid-muridNya: "Semua orang mencari Engkau."

***

Baru saja keluar dari rumah Ibadat, Yakobus dan Yohanes memberi kabar kepada Yesus bahwa Mertua Simon Petrus sedang terbaring karena sakit demam.

Tentu bukan demam biasa. Pasti ada sesuatu yang serius dengan kesehatan Ibu mertuanya, sehingga Simon harus stand by di rumah. Dia tidak bisa ikut bersama Yakobus dan Yohanes menemani Yesus ke rumah ibadat. Padahal, kita tahu, ketiga murid tersebut tak bisa dilepas-pisahkan satu sama lain. Ketiganya selalu bersama-sama, seperti misalnya, menyaksikan dan mengalami peristiwa Transfigurasi di puncak Tabor, dan juga saat menemani Yesus menjalani situasi sulit di taman Getzemani.

Simon Petrus menunggu di rumah. Ia menanti dengan situasi harap-harap cemas. Kehadiran seorang ibu amat berpengaruh bagi seluruh anggota keluarga dan seisi rumah. Oleh karena itu ia berharap agar Ibu harus segera sehat, kembali mengurus rumah-tangga, melayani seisi rumah sebaik-sebaiknya, setulus-tulusnya, secinta-cintanya.

Maka Yesus segera bergegas ke rumah Simon. Ia memegang tangan mertua Petrus dengan tanganNya. Hal yang sama dia lakukan kepada orang-orang sakit. Ia menyembuhkan mereka dengan meletakkan tangan di atas kepalanya (Mrk 6:5). Sebagaimana juga yang direfleksikan oleh Ayub tentang penderitaan yang dialami. Di tengah luka derita yang ia alami, tangan Tuhan menyentuh dan menyembuhkan dia. (Ayub 5:18)

Yang dipegang bukan kepala, kaki, telinga, hidung atau tenggorokan. Yesus memegang 'tangannya'; tangan seorang ibu yang memeluk anaknya, merawat suaminya, tangan yang mengurus rumah tangga, tangan yang bekerja melayani keluarganya. Tangannya yang 'menerjemahkan dengan sempurna' semua teori dan definisi tentang 'apa itu cinta', 'apa arti dari sebuah kasih'.

Dan persis setelah sembuh, Ibu mertua Petrus langsung melayani mereka, tamu dan anggota keluarganya.

Dari tangan yang sakit, tangan yang disembuhkan, sekarang menjadi tangan yang melayani.

*** 

Mertua Simon mengalami kesembuhan karena Yesus mengunjungi rumahnya. Yesus pergi ke rumah Simon karena diberitahu oleh Yohanes dan Yakobus. Yakobus dan Yohanes tahu, tentu karena mendapat kabar dari Simon Petrus.

Artinya, seorang Mama, seorang Ibu membutuhkan support system, 'orang-orang rumah' yang mengasihi, mendukung, dan memberikan perhatian kepadanya.

Ia membutuhkan suami yang memahami, menghargai, dan mencintai dia tulus dan apa adanya; bukan suami yang cuek dan masa bodoh. Ia mungkin tidak butuh suami yang romantis, tetapi yang roman mukanya cerah, optimis, menyembuhkan, dan bukan roman muka yang kasar, pemarah, dan sangar. Ia membutuhkan lelaki dengan 'figur Yesus' yang menyembuhkan, bukan menyakitkan; merawat, bukan melukai.

Seorang ibu juga membutuhkan anak-anak yang tulus mencintainya, membantu pekerjaan-pekerjaan, yang memahami perasaan, sakit dan persoalan-persoalannya. Anak-anak yang mendengarkan nasihat-nasihat baiknya, yang menghormati dan tahu bertermakasih setiap waktu, dan bukan tunggu 'teing tinu'. 

Seorang anak yang tak hanya menuntut pemenuhan Hak-Hak Dasarnya, tetapi juga yang tahu apa yang mesti dia perbuat sebagai anak-anak, baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.

Ibu memang sering dianggap superhero. Manusia serba biasa di semua lini dan di sepanjang waktu. Itu  mungkin terlalu berlebihan. Sebab sekalipun ia dianggap manusia kuat , ia tetap manusia biasa, yang butuh dukungan, cinta, dan perhatian.

***

Ketika ayah tak enak badan, ada ibu yang menjaga. Ketika anak-anak sakit, ada ibu yang merawat. Ketika mama sakit, seisi rumah menjadi sakit.

Mama itu adalah pemain sandiwara terbaik seluruh dunia, karena Ia pandai dan paling pintar berpura-pura. Ia berpura-pura sehat dan baik-baik saja, meski sakit, karena cintanya pada keluarga.*


Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar